Peternakan memainkan peran penting dalam kehidupan masyarakat Myanmar, terutama di pedesaan. Sapi, kerbau, kambing, dan unggas bukan hanya sumber pangan hewani, tetapi juga tenaga kerja, tabungan keluarga, dan penopang ekonomi rumah tangga. Ketika sektor pertanian Myanmar menghadapi tekanan besar akibat perubahan iklim, pandemi, dan krisis politik, peternakan menjadi salah satu penyangga utama ketahanan pangan masyarakat.
Myanmar merupakan negara agraris. Lebih dari setengah tenaga kerjanya bergantung pada pertanian, dan sektor ini menyumbang porsi besar terhadap produk domestik bruto nasional. Namun, kondisi sektor pertanian dan peternakan dalam beberapa tahun terakhir mengalami guncangan berat. Pandemi COVID 19 mengganggu rantai pasok pangan, sementara pengambilalihan kekuasaan oleh militer pada tahun 2021 memperburuk ketidakstabilan ekonomi dan kelembagaan. Di saat yang sama, perubahan iklim meningkatkan frekuensi banjir, kekeringan, dan cuaca ekstrem.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Dalam konteks ini, konsep pertanian berkelanjutan dan pertanian cerdas iklim menjadi sangat relevan. Pertanian cerdas iklim bertujuan meningkatkan produktivitas, memperkuat ketahanan terhadap perubahan iklim, dan mengurangi dampak lingkungan. Bagi sektor peternakan Myanmar, pendekatan ini bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.
Peternakan rakyat di Myanmar umumnya berskala kecil dan terintegrasi dengan usaha tani. Petani memelihara ternak di sekitar rumah atau lahan pertanian. Sapi dan kerbau membantu mengolah sawah, sementara kotorannya dimanfaatkan sebagai pupuk. Sistem ini relatif efisien dan berakar kuat pada tradisi lokal. Namun, sistem tradisional ini semakin rentan terhadap tekanan iklim dan ekonomi.
Perubahan pola hujan menyebabkan kesulitan pakan ternak. Musim kering yang lebih panjang mengurangi ketersediaan hijauan, sementara banjir merusak lahan penggembalaan dan kandang. Peternak kecil sering tidak memiliki cadangan pakan atau akses ke pakan komersial. Akibatnya, produktivitas ternak menurun dan risiko kematian meningkat.
Masalah lain yang dihadapi sektor peternakan adalah akses terbatas terhadap layanan kesehatan hewan. Ketidakstabilan politik memperlemah sistem penyuluhan dan distribusi obat hewan. Penyakit ternak mudah menyebar dan sulit ditangani, terutama di wilayah terpencil. Kondisi ini langsung berdampak pada produksi pangan hewani dan pendapatan peternak.
Kajian tentang pertanian berkelanjutan di Myanmar menekankan pentingnya pendekatan yang menyeluruh. Ketahanan pangan tidak bisa dicapai hanya dengan meningkatkan produksi tanaman pangan. Peternakan harus dipandang sebagai bagian integral dari sistem pangan. Hewan ternak menyediakan protein, lemak, dan mikronutrien penting yang sulit digantikan oleh pangan nabati saja.

Pendekatan pertanian cerdas iklim dalam peternakan mencakup berbagai strategi. Salah satunya adalah diversifikasi sumber pakan. Peternak didorong untuk memanfaatkan limbah pertanian seperti jerami padi, dedak, dan sisa tanaman, serta menanam hijauan pakan tahan kekeringan. Diversifikasi ini membantu mengurangi ketergantungan pada satu sumber pakan yang rentan terhadap cuaca ekstrem.
Strategi lain adalah penguatan integrasi tanaman dan ternak. Dengan sistem terpadu, petani dapat memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik dan residu tanaman sebagai pakan. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi sumber daya dan mengurangi biaya produksi. Selain itu, sistem terpadu cenderung lebih tahan terhadap guncangan iklim dibandingkan sistem monokultur.
Kajian tersebut juga menyoroti peran kebijakan publik dalam mendukung peternakan berkelanjutan. Tanpa dukungan kelembagaan, peternak kecil sulit beradaptasi terhadap perubahan iklim. Kebijakan yang mendukung akses terhadap kredit, asuransi ternak, layanan veteriner, dan penyuluhan menjadi sangat penting. Sayangnya, krisis politik di Myanmar menghambat implementasi kebijakan tersebut secara konsisten.
Teknologi digital sebenarnya menawarkan peluang baru bagi sektor peternakan. Akses informasi cuaca, harga pasar, dan praktik beternak yang lebih baik dapat membantu peternak mengambil keputusan yang lebih tepat. Namun, kesenjangan digital masih menjadi kendala besar. Banyak peternak di pedesaan belum memiliki akses stabil terhadap internet atau perangkat digital.
Ketahanan pangan juga sangat terkait dengan aspek sosial dan kemiskinan. Peternakan sering menjadi jaring pengaman bagi rumah tangga miskin. Saat gagal panen terjadi, ternak dapat dijual untuk memenuhi kebutuhan dasar. Oleh karena itu, kehilangan ternak akibat penyakit atau bencana iklim memiliki dampak sosial yang sangat besar.
Kajian ini menekankan bahwa solusi untuk peternakan Myanmar tidak bisa bersifat teknis semata. Pendekatan yang berhasil harus mempertimbangkan konteks sosial, ekonomi, dan politik. Partisipasi peternak dalam perencanaan dan pelaksanaan program menjadi kunci keberhasilan. Pengetahuan lokal dan praktik tradisional perlu dihargai dan dikombinasikan dengan inovasi ilmiah.
Di tengah tantangan besar, sektor peternakan Myanmar tetap memiliki potensi kuat. Sistem peternakan rakyat yang fleksibel dan terintegrasi sebenarnya selaras dengan prinsip keberlanjutan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, investasi pada sumber daya manusia, dan stabilitas politik, peternakan dapat menjadi pilar penting ketahanan pangan dan ketahanan iklim.
Kisah Myanmar menunjukkan bahwa peternakan bukan hanya soal produksi daging atau susu. Peternakan adalah bagian dari strategi bertahan hidup jutaan orang. Di era perubahan iklim dan ketidakpastian global, memperkuat peternakan berkelanjutan berarti memperkuat ketahanan masyarakat secara keseluruhan. Masa depan pangan Myanmar sangat bergantung pada kemampuan sektor peternakan untuk beradaptasi, bertahan, dan terus memberi kehidupan di tengah krisis yang berlapis.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Shareen, Naw. 2026. Sustainable Agriculture in Myanmar: Towards Climate Resilience and Food Security. Sustainable Agriculture and Food Security in Southeast Asia: Towards Climate Resilience and Digitalization, 191-210.


