Konsumen memegang peran besar dalam menentukan arah masa depan peternakan. Setiap keputusan membeli daging tidak hanya berkaitan dengan rasa dan harga, tetapi juga menyangkut lingkungan, kesejahteraan hewan, serta keberlanjutan ekonomi peternak lokal. Dalam beberapa tahun terakhir, kesadaran ini semakin menguat, terutama di negara negara Eropa yang memiliki tradisi konsumsi daging babi yang kuat.
Sebuah penelitian terbaru menyoroti bagaimana konsumen memandang daging babi segar yang berasal dari ras lokal Black Slavonian Pig di Kroasia. Penelitian ini memberi gambaran menarik tentang cara berpikir konsumen modern, sekaligus membuka pelajaran penting bagi pengembangan peternakan berkelanjutan di berbagai negara.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Peneliti mengumpulkan data dari lebih dari empat ratus konsumen melalui survei daring. Mereka menanyakan kebiasaan makan, pengetahuan tentang ras ternak, serta pandangan terhadap aspek lingkungan, sosial, ekonomi, dan kesejahteraan hewan. Hasilnya menunjukkan bahwa konsumen tidak lagi bersikap seragam. Mereka terbagi ke dalam beberapa kelompok dengan cara berpikir dan prioritas yang berbeda.
Kelompok pertama dikenal sebagai konsumen sadar. Kelompok ini memperhatikan kesejahteraan hewan, keberlanjutan lingkungan, dan asal usul produk. Mereka cenderung membeli daging langsung dari peternak atau pasar lokal karena ingin memastikan kualitas dan dampak produksinya. Konsumen dalam kelompok ini umumnya berusia lebih dewasa dan memiliki pendapatan yang relatif lebih tinggi. Bagi mereka, membeli daging bukan sekadar memenuhi kebutuhan makan, tetapi juga bentuk dukungan terhadap praktik peternakan yang bertanggung jawab.
Kelompok kedua disebut konsumen berorientasi nilai. Kelompok ini tetap mempertimbangkan kualitas dan asal produk, tetapi harga memainkan peran yang lebih dominan. Mereka lebih sering berbelanja di supermarket dan memilih produk dengan harga menengah. Konsumen ini tidak menolak konsep keberlanjutan, namun mereka menyesuaikan pilihan dengan kondisi ekonomi keluarga. Bagi kelompok ini, daging yang baik adalah daging yang seimbang antara harga, rasa, dan kualitas.
Kelompok ketiga adalah konsumen yang kurang terlibat. Mereka membeli daging terutama berdasarkan kebiasaan dan kemudahan akses. Aspek kesejahteraan hewan, asal produk, atau dampak lingkungan jarang menjadi pertimbangan utama. Kelompok ini cukup besar jumlahnya dan sering kali menjadi target pasar produk daging konvensional.

Temuan ini menunjukkan bahwa konsumen tidak bisa diperlakukan sebagai satu kelompok tunggal. Setiap segmen membutuhkan pendekatan komunikasi yang berbeda. Edukasi yang efektif untuk konsumen sadar tentu berbeda dengan strategi yang ditujukan bagi konsumen berorientasi nilai atau konsumen yang kurang terlibat.
Penelitian ini juga menyoroti pentingnya informasi yang jelas dan transparan. Konsumen yang memahami asal usul daging dan cara pemeliharaan ternak cenderung menunjukkan sikap yang lebih positif terhadap produk lokal dan berkelanjutan. Label yang informatif membantu konsumen membuat keputusan yang lebih sadar, terutama bagi mereka yang ingin mendukung peternakan yang ramah lingkungan dan memperhatikan kesejahteraan hewan.
Bagi peternak, hasil penelitian ini membawa pesan penting. Keberlanjutan tidak hanya ditentukan oleh cara beternak, tetapi juga oleh kemampuan menyampaikan cerita di balik produk. Peternak yang mampu menjelaskan nilai lokal, metode pemeliharaan, dan manfaat lingkungan memiliki peluang lebih besar untuk menarik konsumen sadar. Cerita tentang ras lokal, tradisi beternak, dan hubungan dengan alam menjadi nilai tambah yang tidak bisa ditiru oleh produksi massal.
Dari sisi kebijakan, penelitian ini menunjukkan perlunya dukungan terhadap peternakan lokal dan ras ternak asli. Konsumen yang peduli terhadap keberlanjutan cenderung mendukung produksi lokal karena mereka melihatnya sebagai cara menjaga keanekaragaman hayati dan ekonomi pedesaan. Kebijakan yang mendorong pemasaran langsung, sertifikasi yang kredibel, dan edukasi publik dapat memperkuat hubungan antara peternak dan konsumen.
Penelitian ini juga mengingatkan bahwa perubahan perilaku konsumen tidak terjadi secara instan. Pendidikan konsumen memerlukan waktu dan konsistensi. Informasi tentang kesejahteraan hewan dan dampak lingkungan perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami, tanpa menggurui. Ketika konsumen merasa dihargai dan diberi pilihan yang jelas, mereka lebih terbuka untuk mengubah kebiasaan belanja.
Pelajaran penting lainnya adalah bahwa keberlanjutan tidak selalu berarti mahal. Banyak konsumen berorientasi nilai bersedia memilih produk berkelanjutan jika harganya masuk akal dan manfaatnya jelas. Hal ini membuka peluang inovasi dalam sistem distribusi, pengolahan, dan pemasaran agar produk berkelanjutan dapat menjangkau lebih banyak orang.
Dalam konteks global, temuan dari Kroasia ini relevan bagi banyak negara, termasuk Indonesia. Peternakan lokal di berbagai wilayah menghadapi tantangan serupa, mulai dari tekanan harga hingga perubahan selera konsumen. Memahami cara konsumen berpikir menjadi kunci untuk merancang strategi peternakan yang tidak hanya produktif, tetapi juga berkelanjutan.
Penelitian ini menegaskan bahwa masa depan peternakan tidak hanya ditentukan di kandang, tetapi juga di meja makan. Setiap pilihan konsumen membentuk sistem pangan yang lebih luas. Ketika konsumen semakin sadar, peternakan berkelanjutan memiliki peluang lebih besar untuk berkembang. Hubungan yang kuat antara peternak, konsumen, dan kebijakan publik akan menjadi fondasi penting bagi sistem pangan yang adil, sehat, dan berkelanjutan di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Milković, Sanja Jelić dkk. 2026. Consumer Attitudes, Buying Behaviour, and Sustainability Concerns Toward Fresh Pork: Insights from the Black Slavonian Pig. Sustainability 18 (2), 980.


