Peternak domba dan kambing di banyak negara menghadapi satu masalah klasik yang sering diremehkan tetapi berdampak besar, yaitu penyakit kudis atau scabies. Penyakit kulit ini bukan sekadar menyebabkan gatal pada hewan, tetapi juga menurunkan produktivitas, meningkatkan kematian ternak muda, dan bahkan berpotensi menular ke manusia. Sebuah studi komprehensif yang dilakukan di Palestina memberikan gambaran jelas tentang betapa seriusnya scabies dalam sistem peternakan rakyat serta bagaimana ilmu pengetahuan dapat membantu mengendalikannya secara efektif.
Scabies pada domba dan kambing disebabkan oleh tungau mikroskopis bernama Sarcoptes scabiei. Tungau ini hidup dan berkembang biak di lapisan kulit, terutama di epidermis dan dermis, dengan cara menggali terowongan kecil. Aktivitas ini memicu reaksi peradangan hebat pada tubuh hewan. Akibatnya, hewan mengalami rasa gatal yang sangat intens, muncul luka basah, lepuh, kerontokan bulu, serta penebalan dan pengerasan kulit. Dalam kondisi parah, hewan menjadi lemah, kehilangan nafsu makan, dan mudah terserang penyakit lain.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Penelitian tersebut mempelajari scabies dari berbagai sisi, mulai dari epidemiologi, patologi, hingga potensi penularannya ke manusia. Para peneliti mengamati domba dan kambing dari berbagai kelompok umur, mulai dari anak baru lahir hingga hewan dewasa. Hasilnya menunjukkan bahwa penyakit ini menyerang semua kelompok umur tanpa terkecuali, tetapi tingkat keparahannya berbeda-beda. Anak ternak menjadi kelompok yang paling rentan, baik dari sisi tingkat infeksi maupun risiko kematian.
Angka kejadian scabies yang ditemukan cukup mengkhawatirkan. Pada anak domba yang baru lahir, tingkat infeksi mencapai hampir setengah populasi, sementara pada anak kambing mendekati empat puluh persen. Angka ini menurun pada hewan yang sudah disapih dan dewasa, tetapi tetap berada pada tingkat yang signifikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa lingkungan peternakan dan sistem manajemen memegang peran penting dalam penyebaran penyakit.

Musim juga memengaruhi tingkat kejadian scabies. Penelitian menunjukkan bahwa infeksi paling sering terjadi pada musim dingin. Pada periode ini, hewan biasanya dipelihara lebih rapat, ventilasi kandang kurang optimal, dan kelembapan meningkat. Situasi tersebut menciptakan kondisi ideal bagi tungau untuk bertahan hidup dan berpindah dari satu hewan ke hewan lain melalui kontak langsung.
Dari sisi dampak ekonomi, scabies menimbulkan kerugian yang tidak kecil. Hewan yang terinfeksi mengalami penurunan pertumbuhan, kualitas bulu memburuk, dan produksi susu menurun. Pada anak ternak, penyakit ini bahkan dapat berujung pada kematian. Penelitian mencatat tingkat kematian mencapai lebih dari sepuluh persen pada anak ternak, sementara pada hewan dewasa angkanya lebih rendah tetapi tetap signifikan. Bagi peternak kecil, kehilangan beberapa ekor ternak saja sudah cukup untuk mengganggu stabilitas ekonomi keluarga.
Para peneliti juga mempelajari perubahan yang terjadi pada jaringan kulit hewan yang terinfeksi. Pemeriksaan histopatologi menunjukkan bahwa tungau merusak struktur normal kulit, memicu penebalan lapisan epidermis, peradangan kronis, dan kerusakan sel. Temuan ini menjelaskan mengapa gejala scabies sulit sembuh tanpa pengobatan yang tepat, karena kerusakan terjadi hingga ke lapisan kulit yang lebih dalam.
Salah satu bagian paling penting dari penelitian ini adalah evaluasi efektivitas berbagai obat yang digunakan untuk mengendalikan scabies. Empat jenis pengobatan diuji dan dibandingkan hasilnya. Ivermektin menunjukkan tingkat keberhasilan paling tinggi, dengan efektivitas mendekati seratus persen. Obat lain seperti diazinon, permetrin, dan krim sulfur juga menunjukkan hasil yang cukup baik, meskipun tingkat keberhasilannya lebih rendah. Temuan ini memberikan panduan praktis bagi peternak dan dokter hewan dalam memilih strategi pengobatan yang paling efisien dan ekonomis.
Namun, penelitian ini tidak hanya berhenti pada kesehatan hewan. Para peneliti juga menyoroti potensi scabies sebagai penyakit zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia. Hasilnya menunjukkan bahwa penularan ke manusia memang terjadi, meskipun dengan tingkat yang relatif rendah. Risiko tertinggi ditemukan pada pemerah susu yang sering melakukan kontak langsung dengan hewan terinfeksi. Temuan ini menegaskan pentingnya penggunaan alat pelindung diri, kebersihan tangan, dan kesadaran kesehatan kerja di lingkungan peternakan.
Dari sudut pandang yang lebih luas, penelitian ini menegaskan bahwa pengendalian penyakit di peternakan bukan hanya soal mengobati hewan yang sakit. Pencegahan memegang peran yang sama pentingnya. Praktik manajemen kandang yang baik, seperti menjaga kebersihan, mengurangi kepadatan ternak, memastikan ventilasi yang memadai, dan melakukan pemeriksaan rutin, dapat menurunkan risiko wabah scabies secara signifikan. Edukasi peternak tentang tanda awal penyakit juga sangat penting agar pengobatan dapat dilakukan sebelum infeksi menyebar luas.
Penelitian ini memberikan contoh nyata bagaimana pendekatan ilmiah yang menyeluruh dapat membantu memecahkan masalah klasik di sektor peternakan. Dengan memahami pola penyebaran penyakit, dampaknya terhadap hewan dan manusia, serta efektivitas berbagai metode pengobatan, peternak dapat mengambil keputusan yang lebih tepat. Pada akhirnya, pengendalian scabies bukan hanya meningkatkan kesejahteraan hewan, tetapi juga melindungi kesehatan manusia dan menjaga keberlanjutan usaha peternakan rakyat.
Studi ini mengingatkan kita bahwa kesehatan hewan, manusia, dan lingkungan saling terkait erat. Ketika peternak menerapkan praktik kesehatan hewan yang baik, manfaatnya tidak berhenti di kandang, tetapi meluas ke keluarga peternak dan masyarakat sekitar. Ilmu pengetahuan, jika diterjemahkan dengan bahasa yang sederhana dan diterapkan secara konsisten, dapat menjadi alat yang sangat kuat untuk meningkatkan kualitas hidup di sektor peternakan.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Sawalha, H dkk. 2026. Comprehensive study on scabies in Palestinian sheep and goats: epidemiology, pathology, serology, control, and zoonotic potential. J. Anim. Health Prod 14 (1), 01-10.


