Ternak Bukan Pesaing Pangan: Pelajaran dari Sistem Sirkular Kenya

Ketahanan pangan masih menjadi tantangan besar di banyak wilayah dunia, termasuk Afrika Timur. Di kawasan ini, jutaan orang masih kesulitan mendapatkan pangan bergizi yang cukup, terutama protein hewani seperti daging, susu, dan telur. Di sisi lain, produksi pangan sering kali dihadapkan pada keterbatasan lahan, tekanan lingkungan, dan dampak perubahan iklim. Dalam kondisi seperti ini, para peneliti mulai melihat kembali peran ternak, bukan sebagai beban lingkungan semata, tetapi sebagai bagian penting dari solusi sistem pangan yang lebih efisien dan berkelanjutan.

Penelitian terbaru yang dilakukan di Kenya memperkenalkan konsep sistem pangan sirkular dan menyoroti peran strategis ternak di dalamnya. Sistem pangan sirkular bertujuan memaksimalkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia dengan meminimalkan limbah. Dalam sistem ini, ternak tidak bersaing langsung dengan manusia untuk mendapatkan pangan, melainkan memanfaatkan bahan pakan yang tidak layak atau tidak efisien jika dikonsumsi manusia.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Di banyak wilayah Afrika Timur, termasuk Kenya, ternak sering diberi pakan berupa sisa tanaman, limbah pertanian, dan bahan organik lain yang tidak memiliki nilai tinggi bagi konsumsi manusia. Bahan bahan ini disebut sebagai pakan berbiaya peluang rendah. Artinya, jika bahan tersebut tidak dimakan ternak, maka hampir tidak ada kegunaan lain yang bernilai bagi manusia. Di sinilah ternak memainkan peran penting sebagai pengubah limbah menjadi pangan bergizi.

Penelitian ini berfokus pada wilayah Nakuru County di Kenya, sebuah daerah yang memiliki sistem pertanian dan peternakan yang beragam. Para peneliti mencoba menjawab pertanyaan sederhana tetapi penting. Seberapa besar peran ternak dalam menyediakan pangan hewani jika mereka hanya diberi pakan berbiaya peluang rendah. Dengan kata lain, apa yang terjadi jika ternak sepenuhnya bergantung pada bahan pakan yang tidak bersaing dengan pangan manusia.

Gambar ini menjelaskan bagaimana limbah makanan, kehilangan pangan, hasil samping pertanian, residu tanaman, dan rumput dimanfaatkan secara melingkar sebagai pakan berbagai jenis ternak untuk menghasilkan daging, telur, dan susu secara lebih efisien dan berkelanjutan (Braamhaar, dkk. 2026).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ternak memiliki potensi besar untuk meningkatkan ketersediaan pangan hewani tanpa menambah tekanan pada sistem pangan manusia. Dengan memanfaatkan pakan berbiaya peluang rendah, ternak dapat menghasilkan daging, susu, dan telur yang sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Hal ini sangat penting di wilayah dengan tingkat kekurangan gizi yang masih tinggi.

Menariknya, tidak semua jenis ternak memiliki peran yang sama dalam sistem pangan sirkular. Penelitian ini menemukan bahwa ternak ruminansia seperti sapi, kambing, dan domba sangat efisien dalam memanfaatkan bahan pakan berserat rendah kualitas yang tidak bisa dicerna manusia. Dengan sistem pencernaannya yang unik, ternak ruminansia mampu mengubah rumput liar, jerami, dan sisa tanaman menjadi protein hewani berkualitas tinggi.

Unggas dan babi juga berperan dalam sistem ini, meskipun dengan karakteristik yang berbeda. Unggas lebih cocok memanfaatkan limbah dapur dan sisa hasil pengolahan pangan, sementara babi dapat mengonsumsi berbagai jenis sisa makanan organik. Kombinasi berbagai jenis ternak ini memungkinkan sistem pangan yang lebih seimbang dan fleksibel.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa sistem pangan sirkular dapat mengurangi ketergantungan pada pakan komersial yang mahal dan sering kali diimpor. Bagi peternak kecil, biaya pakan merupakan salah satu pengeluaran terbesar. Dengan memanfaatkan sumber pakan lokal yang berbiaya rendah, peternak dapat menekan biaya produksi sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi rumah tangga.

Dari sisi lingkungan, pendekatan ini menawarkan manfaat yang signifikan. Ketika ternak memanfaatkan limbah dan sisa tanaman, jumlah limbah yang terbuang ke lingkungan dapat berkurang. Limbah pertanian yang sebelumnya dibakar atau dibiarkan membusuk kini memiliki nilai guna. Selain itu, sistem ini membantu mengurangi tekanan untuk membuka lahan baru bagi produksi pakan, sehingga berpotensi menekan deforestasi dan degradasi lahan.

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa peran ternak dalam sistem pangan sirkular tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial dan budaya. Di Kenya dan banyak wilayah Afrika Timur, ternak bukan hanya sumber pangan, tetapi juga aset ekonomi, simbol status, dan bagian dari tradisi masyarakat. Oleh karena itu, pendekatan yang mengintegrasikan ternak dalam sistem pangan berkelanjutan memiliki peluang besar untuk diterima oleh masyarakat lokal.

Namun, para peneliti juga menekankan bahwa sistem pangan sirkular bukan tanpa tantangan. Ketersediaan pakan berbiaya peluang rendah dapat bervariasi sepanjang tahun, terutama di daerah yang sangat bergantung pada musim hujan. Manajemen pakan yang baik dan penyimpanan bahan pakan menjadi kunci agar ternak tetap mendapatkan nutrisi yang cukup sepanjang tahun.

Selain itu, produktivitas ternak dalam sistem ini mungkin lebih rendah dibandingkan sistem intensif berbasis pakan konsentrat. Namun, penelitian ini menegaskan bahwa tujuan utama sistem pangan sirkular bukanlah memaksimalkan produksi per ekor ternak, melainkan mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya secara keseluruhan. Dalam konteks ketahanan pangan dan keberlanjutan, pendekatan ini justru lebih masuk akal.

Bagi pembuat kebijakan, temuan ini memberikan pesan penting. Upaya meningkatkan konsumsi pangan hewani di wilayah rawan pangan tidak harus selalu bergantung pada intensifikasi peternakan yang mahal dan berisiko bagi lingkungan. Mendukung sistem pangan sirkular berbasis ternak lokal dan pakan berbiaya peluang rendah dapat menjadi alternatif yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

Bagi masyarakat awam, penelitian ini membantu mengubah cara pandang terhadap peternakan. Ternak sering disalahkan sebagai penyebab utama kerusakan lingkungan dan perubahan iklim. Padahal, jika dikelola dengan cara yang tepat, ternak justru dapat membantu mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi sistem pangan, dan menyediakan gizi penting bagi manusia.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa solusi pangan berkelanjutan tidak selalu harus bersifat global dan seragam. Solusi yang efektif sering kali berakar pada kondisi lokal, memanfaatkan sumber daya yang tersedia, dan menghargai praktik tradisional yang telah berkembang selama bertahun tahun. Sistem pangan sirkular di Kenya menjadi contoh bagaimana pendekatan berbasis konteks lokal dapat memberikan dampak besar.

Pada akhirnya, peran ternak dalam sistem pangan masa depan tidak hanya ditentukan oleh jumlah ternak atau teknologi canggih, tetapi oleh bagaimana ternak tersebut diintegrasikan dalam sistem yang lebih luas. Dengan memanfaatkan pakan berbiaya peluang rendah dan prinsip sirkular, ternak dapat menjadi jembatan antara limbah dan pangan, antara keterbatasan dan peluang.

Penelitian ini memberikan gambaran optimistis bahwa di tengah tantangan besar ketahanan pangan dan lingkungan, masih ada ruang untuk solusi yang cerdas, sederhana, dan berbasis sains. Di Kenya dan wilayah lain yang menghadapi tantangan serupa, ternak dapat menjadi bagian penting dari sistem pangan yang lebih adil, efisien, dan berkelanjutan.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Braamhaar, Dagmar JM dkk. 2026. Circular food systems in Kenya: Exploring the role of livestock. Agricultural Systems 231, 104536.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top