Dunia pertanian dan peternakan perlahan memasuki babak baru. Jika selama ini petani dan peternak bekerja mengandalkan pengalaman turun-temurun, kini muncul dorongan kuat untuk memanfaatkan teknologi cerdas. Salah satu terobosan yang kini mendapat perhatian global adalah penggabungan Internet of Things atau IoT dengan teknologi blockchain.
Penelitian yang dilakukan oleh Yang Yang dan rekan-rekannya pada tahun 2025 menjelaskan bagaimana kedua teknologi ini sedang membuka peluang besar dalam meningkatkan keamanan, transparansi, dan efisiensi pengelolaan sektor pertanian dan peternakan. Artikel ini akan mengulas apa sebenarnya IoT dan blockchain, mengapa keduanya cocok digunakan dalam peternakan dan pertanian, dan seperti apa masa depan sektor pangan dunia jika teknologi ini diadopsi lebih luas.
Internet of Things dapat dipahami sebagai jaringan berbagai perangkat yang saling terhubung. Di bidang peternakan misalnya, sensor dipasang pada sapi untuk memantau kondisi tubuh, lokasi, konsumsi pakan, atau potensi penyakit secara real time. Di pertanian, sensor dapat mengukur kelembapan tanah, suhu lingkungan, hingga tingkat kesuburan lahan. Semua informasi ini dikirimkan ke sistem komputer untuk dianalisis demi pengambilan keputusan yang lebih tepat.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Namun IoT memiliki tantangan penting. Data yang terkumpul sangat banyak dan terus mengalir. Di satu sisi data itu menjadi modal penting bagi pengelolaan peternakan modern. Di sisi lain, data sensitif seperti informasi distribusi daging, obat yang digunakan pada ternak, atau asal usul bahan pangan sangat rentan dipalsukan atau hilang jika sistem tidak aman.
Di sinilah blockchain hadir sebagai solusi. Banyak orang mengenal blockchain sebagai teknologi di balik mata uang kripto, tetapi sesungguhnya blockchain jauh lebih luas manfaatnya. Teknologi ini bekerja layaknya buku catatan digital yang tidak bisa sembarangan diubah. Semua data yang dicatat akan tersimpan dalam bentuk blok yang saling terhubung. Setiap perubahan harus disetujui oleh seluruh jaringan sehingga pemalsuan data menjadi hampir mustahil dilakukan.

Bayangkan pemantauan perjalanan seekor sapi sejak lahir hingga menjadi produk pangan. Dengan IoT, setiap tahap bisa direkam otomatis, mulai dari kesehatan sapi, pakan yang dikonsumsi, vaksin yang diberikan, hingga proses pemotongan dan distribusi daging. Blockchain kemudian menjadi penjaga keamanan data tersebut. Konsumen dapat dengan mudah menelusuri apakah daging yang dibeli benar-benar berasal dari sumber yang terpercaya.
Tidak hanya konsumen yang mendapatkan keuntungan. Peternak dan perusahaan pengolahan pangan ikut merasakan manfaat dari sistem yang efisien dan transparan. Jika terjadi masalah seperti kontaminasi pangan, penelusuran sumber masalah dapat dilakukan lebih cepat dan tepat sasaran. Pada akhirnya, kerugian ekonomi dapat dihindari sekaligus menjaga keselamatan konsumen.
Penelitian oleh Yang dan timnya juga menyoroti persoalan yang selama ini menghambat penerapan IoT dalam sektor pangan. Salah satunya adalah rendahnya kejelasan mengenai aturan penggunaan dan pengawasan perangkat pintar dalam pertanian. Banyak negara belum memiliki standar baku untuk memastikan bahwa perangkat IoT aman digunakan dan data yang dikumpulkan tidak disalahgunakan.
Blockchain kembali memberikan jawaban. Dengan sistem pencatatan yang tidak bisa dimanipulasi, regulator dapat mengawasi aliran data dan menjamin bahwa informasi yang digunakan benar adanya. Selain itu, blockchain membantu menciptakan rasa saling percaya antara petani, distributor, pedagang, dan pembeli. Semua pihak dapat melihat data yang sama tanpa rasa curiga bahwa ada pihak yang menyembunyikan informasi.
Salah satu contoh penerapan yang kini mulai banyak dibahas adalah sistem pelabelan pangan berbasis blockchain. Dalam model ini, setiap produk yang dijual memiliki kode khusus yang dapat dipindai menggunakan ponsel. Melalui kode tersebut, konsumen dapat melihat riwayat lengkap produk mulai dari lokasi kandang, proses pemerahan susu, perjalanan distribusi, hingga tanggal sampai di rak supermarket.
Penerapan teknologi gabungan ini juga dapat membantu upaya keberlanjutan lingkungan. IoT memungkinkan pengelolaan sumber daya seperti air dan pakan secara lebih cerdas. Penggunaan obat dan antibiotik pada ternak dapat dipantau sehingga tidak berlebihan. Blockchain membantu memastikan bahwa catatan upaya tersebut transparan dan bisa diverifikasi sehingga menjadi nilai tambah dalam praktik pertanian hijau.
Walaupun sejauh ini banyak potensi positif yang terlihat, pengembangan teknologi ini juga menghadapi tantangan berarti. Infrastruktur digital belum merata, terutama di daerah pedesaan tempat petani dan peternak tinggal. Biaya awal untuk memasang sensor dan sistem blockchain belum tentu mampu ditanggung oleh petani kecil. Selain itu, diperlukan pelatihan dan pendampingan agar pelaku usaha dapat memahami pemanfaatan teknologi ini.
Regulator juga memiliki pekerjaan besar untuk menetapkan aturan yang jelas mengenai hak kepemilikan data, perlindungan privasi, serta tata kelola sistem. Keamanan siber harus selalu diutamakan karena teknologi setinggi apa pun tetap memiliki potensi risiko.
Meski begitu peneliti menilai bahwa masa depan blockchain dan IoT dalam pertanian sangat menjanjikan. Mereka memperkirakan akan semakin banyak sistem cerdas berbasis kecerdasan buatan yang terhubung dengan blockchain untuk analisis data yang lebih akurat. Teknologi ini dapat membantu prediksi penyakit ternak lebih cepat, menentukan kombinasi pakan yang paling efisien, serta mendorong rantai pasokan pangan yang lebih terjaga kualitasnya.
Pada skala global, inovasi ini dianggap penting untuk menjawab berbagai krisis pangan dan isu keamanan pangan yang terus mengancam. Dengan populasi dunia yang terus bertambah, kebutuhan daging, telur, susu, sayuran, dan produk pangan lainnya juga meningkat pesat. Sektor pertanian dan peternakan dituntut untuk memproduksi lebih banyak tanpa merusak lingkungan. Teknologi menjadi kunci untuk mencapainya.
Indonesia pun mulai memperlihatkan minat terhadap adopsi sistem digital dalam sektor pangan. Dengan wilayah pertanian yang luas dan jumlah peternak rakyat yang besar, peluang penerapan IoT dan blockchain untuk mengatasi berbagai persoalan seperti ketidakpastian harga, rantai distribusi panjang, dan rendahnya akses konsumen pada informasi produk sangat terbuka lebar.
Penelitian ini menunjukkan satu hal penting. Transformasi digital bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan. Petani dan peternak yang mampu memanfaatkan teknologi akan berada selangkah lebih maju dalam menghadapi tantangan zaman. Namun keberhasilan tidak hanya bergantung pada teknologi itu sendiri. Dukungan pemerintah, investasi infrastruktur, dan pemberdayaan sumber daya manusia adalah faktor yang menentukan seberapa cepat inovasi ini bisa memberikan manfaat nyata.
Jika semua dapat berjalan seiring, masa depan pangan dunia bisa menjadi lebih aman, efisien, dan transparan. Dan semua itu dimulai dari kepercayaan yang dibangun lewat data. Blockchain dan IoT adalah jembatan menuju era baru pertanian dan peternakan yang lebih cerdas dan berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Yang, Yang dkk. 2025. A Survey of Blockchain Applications for Management in Agriculture and Livestock Internet of Things. Future Internet 17 (1), 40.


