Usaha peternakan sapi perah memegang peran penting dalam kehidupan jutaan keluarga pedesaan di negara berkembang. Di banyak wilayah, susu bukan hanya sumber gizi, tetapi juga sumber pendapatan harian yang relatif stabil. Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa tidak semua peternak kecil mampu menikmati manfaat ekonomi dari usaha sapi perah. Produktivitas rendah, keterbatasan akses pasar, dan lemahnya dukungan kelembagaan sering kali membuat usaha peternakan berjalan di tempat.
Sebuah penelitian ilmiah terbaru yang mengambil contoh kasus di Bangladesh mencoba menjawab pertanyaan penting. Apakah peningkatan produktivitas susu benar benar dapat mendorong peternak kecil untuk lebih terlibat dalam pasar dan mengembangkan usaha mereka secara komersial. Pertanyaan ini sangat relevan karena banyak program pembangunan peternakan berfokus pada peningkatan produksi, tetapi belum tentu menghasilkan kesejahteraan yang lebih baik bagi peternak.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Penelitian ini menyoroti kondisi sektor sapi perah di Bangladesh yang masih menghadapi berbagai tantangan struktural. Banyak peternak berskala kecil hanya memiliki satu atau dua ekor sapi dan mengandalkan tenaga keluarga untuk operasional sehari hari. Produksi susu sering kali rendah akibat pakan yang kurang berkualitas, keterbatasan pengetahuan manajemen ternak, serta akses terbatas terhadap layanan kesehatan hewan. Dalam kondisi seperti ini, menjual susu ke pasar menjadi pilihan yang tidak selalu mudah.
Para peneliti menggunakan data dari peternak kecil di wilayah pedesaan dan menganalisis bagaimana produktivitas susu memengaruhi keputusan peternak untuk berpartisipasi di pasar. Hasilnya menunjukkan bahwa semakin tinggi produksi susu, semakin besar kemungkinan peternak menjual susu ke pasar dan meningkatkan volume penjualannya. Temuan ini menegaskan bahwa produktivitas merupakan pintu masuk utama menuju komersialisasi usaha peternakan.

Namun, penelitian ini juga mengungkap bahwa produktivitas saja tidak cukup. Banyak faktor lain yang menentukan apakah peternak mampu benar benar memanfaatkan peluang pasar. Salah satu faktor penting adalah usia dan pengalaman kepala rumah tangga. Peternak yang lebih berpengalaman cenderung lebih percaya diri dalam berinteraksi dengan pasar, memahami fluktuasi harga, dan mengambil keputusan ekonomi yang lebih berani.
Pendidikan juga memainkan peran penting, terutama dalam menentukan besarnya volume penjualan susu. Peternak dengan tingkat pendidikan yang lebih baik biasanya lebih mudah menerima inovasi, memahami pelatihan teknis, dan menerapkan praktik manajemen yang lebih efisien. Pendidikan membantu peternak melihat usaha sapi perah bukan hanya sebagai kegiatan tradisional, tetapi sebagai bisnis yang bisa dikembangkan.
Selain pendidikan formal, pelatihan keterampilan praktis terbukti sangat berpengaruh. Pelatihan manajemen ternak, pakan, dan kebersihan pemerahan dapat meningkatkan kualitas dan kuantitas susu. Ketika kualitas susu meningkat, peternak memiliki peluang lebih besar untuk menjual produk mereka dengan harga yang lebih baik. Dengan demikian, pelatihan bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan investasi penting dalam pengembangan usaha peternakan.
Tenaga kerja keluarga juga menjadi faktor yang tidak kalah penting. Dalam banyak rumah tangga peternak kecil, anggota keluarga terlibat langsung dalam memberi pakan, memerah susu, dan merawat ternak. Ketersediaan tenaga kerja keluarga memungkinkan peternak meningkatkan skala produksi tanpa harus mengeluarkan biaya tambahan yang besar. Hal ini membantu meningkatkan volume penjualan dan memperkuat posisi ekonomi rumah tangga.
Di sisi lain, penelitian ini menunjukkan bahwa faktor infrastruktur dapat menjadi penghambat serius bagi komersialisasi. Jarak yang jauh ke pasar membuat biaya transportasi meningkat dan mengurangi keuntungan peternak. Dalam beberapa kasus, peternak memilih untuk tidak menjual susu ke pasar karena biaya dan risiko yang terlalu tinggi. Kondisi ini menunjukkan bahwa peningkatan produksi tanpa dukungan infrastruktur yang memadai tidak akan menghasilkan dampak yang optimal.
Masalah infrastruktur ini mencakup kualitas jalan, ketersediaan sarana transportasi, dan akses ke pusat pengumpulan susu. Ketika infrastruktur lemah, susu sebagai produk yang mudah rusak menjadi sulit dipasarkan. Akibatnya, peternak terjebak dalam lingkaran produksi rendah dan pendapatan terbatas. Penelitian ini menekankan bahwa pembangunan peternakan harus berjalan seiring dengan pembangunan infrastruktur pedesaan.
Penelitian tersebut juga menyoroti pentingnya kebijakan yang sensitif terhadap kondisi sosial. Hambatan berbasis gender, misalnya, dapat membatasi peran perempuan dalam pengambilan keputusan dan akses ke pelatihan. Padahal, perempuan sering kali berperan besar dalam kegiatan peternakan sapi perah. Mengatasi hambatan ini dapat membuka potensi produktivitas dan pemasaran yang selama ini terabaikan.
Berdasarkan temuan tersebut, para peneliti merekomendasikan sejumlah langkah kebijakan. Peningkatan produktivitas susu harus dilakukan melalui pelatihan berkelanjutan, akses terhadap pakan berkualitas, dan layanan kesehatan hewan yang lebih baik. Pada saat yang sama, pemerintah dan pemangku kepentingan perlu memperbaiki infrastruktur pasar dan transportasi agar peternak kecil dapat menjual produk mereka dengan lebih mudah dan efisien.
Penelitian ini memberikan pelajaran penting bagi negara berkembang lainnya, termasuk Indonesia. Banyak peternak kecil menghadapi tantangan serupa, mulai dari keterbatasan modal hingga akses pasar yang lemah. Temuan dari Bangladesh menunjukkan bahwa peningkatan produksi memang penting, tetapi harus diikuti oleh dukungan kelembagaan, pendidikan, dan infrastruktur.
Bagi masyarakat umum, penelitian ini membantu kita memahami bahwa segelas susu yang kita konsumsi setiap hari berasal dari sistem yang kompleks. Di baliknya terdapat peternak kecil yang berjuang meningkatkan produksi, mengakses pasar, dan mempertahankan penghidupan mereka. Ketika sistem pendukung berjalan dengan baik, peternakan sapi perah tidak hanya menyediakan pangan bergizi, tetapi juga menjadi motor penggerak pembangunan pedesaan.
Sains peternakan modern mengajarkan bahwa transformasi sektor sapi perah tidak bisa dilakukan secara parsial. Produktivitas, manusia, pasar, dan kebijakan harus bergerak bersama. Dengan pendekatan yang menyeluruh, usaha peternakan sapi perah dapat menjadi jalan nyata menuju kesejahteraan peternak kecil dan ketahanan pangan yang berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Jannat, Arifa dkk. 2026. Livestock Production and Dairy Sector Performance in Bangladesh: Does Dairy Productivity Promote Smallholder Commercialization?. Food and Energy Security 15 (1), e70171.


