Peternakan sapi perah dan sapi potong memegang peran penting dalam penyediaan pangan dunia, terutama sebagai sumber protein hewani berupa daging dan susu. Namun di balik kontribusinya, sektor ini juga menghadapi tantangan besar terkait perubahan iklim dan kesehatan ternak. Sapi ruminansia menghasilkan gas metana dari proses pencernaan alami di dalam rumen, dan gas ini memiliki dampak pemanasan global yang jauh lebih kuat dibandingkan karbon dioksida. Pada saat yang sama, perubahan iklim memicu suhu lingkungan yang semakin tinggi sehingga sapi lebih sering mengalami stres panas. Kondisi ini menurunkan produktivitas, mengganggu kesehatan pencernaan, dan meningkatkan kerentanan terhadap penyakit. Penelitian terbaru menawarkan pendekatan menarik untuk menjawab dua tantangan tersebut secara bersamaan melalui pemanfaatan mikroorganisme tertentu sebagai bahan tambahan pakan.
Salah satu mikroorganisme yang banyak dikaji adalah Aspergillus niger, sejenis jamur yang sebenarnya sudah lama dikenal dan digunakan dalam industri pangan dan fermentasi. Jamur ini berperan dalam produksi asam sitrat dan enzim, sehingga keamanannya relatif dikenal. Dalam konteks peternakan, peneliti mulai mengeksplorasi potensi Aspergillus niger dan turunannya sebagai aditif pakan untuk sapi, khususnya dalam kondisi lingkungan panas. Tujuannya bukan hanya meningkatkan efisiensi pencernaan, tetapi juga menekan emisi metana sekaligus membantu ternak beradaptasi terhadap stres panas.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Metana pada sapi berasal dari aktivitas mikroba di dalam rumen yang memecah serat pakan. Proses ini menghasilkan energi bagi sapi, tetapi juga menghasilkan gas metana yang dikeluarkan melalui sendawa. Semakin tidak efisien proses pencernaan, semakin besar pula gas metana yang dilepaskan. Pada kondisi stres panas, sapi cenderung makan lebih sedikit dan fungsi rumen menjadi kurang optimal. Akibatnya, produksi gas metana per satuan pakan dapat meningkat, sementara performa ternak justru menurun. Di sinilah peran aditif pakan menjadi sangat relevan.
Penelitian yang dilakukan pada sapi pejantan Holstein yang mengalami stres panas menunjukkan bahwa pemberian Aspergillus niger atau campuran senyawa yang mengandung jamur ini mampu memberikan efek positif. Sapi yang mendapatkan tambahan ini menghasilkan metana dalam jumlah lebih rendah dibandingkan sapi tanpa perlakuan. Penurunan ini terjadi baik secara total maupun jika dihitung per satuan bobot badan dan konsumsi pakan. Dengan kata lain, pencernaan menjadi lebih efisien sehingga lebih sedikit energi yang terbuang dalam bentuk gas.
Selain menekan emisi metana, Aspergillus niger juga membantu sapi menghadapi stres panas. Suhu tubuh sapi yang mendapat tambahan ini cenderung lebih rendah, menandakan bahwa ternak mampu mengatur panas tubuh dengan lebih baik. Peneliti juga menemukan peningkatan aktivitas sistem antioksidan di dalam tubuh sapi. Antioksidan berfungsi melindungi sel dari kerusakan akibat stres oksidatif yang sering muncul saat suhu lingkungan tinggi. Ketika sistem antioksidan bekerja lebih baik, sapi dapat mempertahankan kesehatan jaringan dan organ meski berada dalam kondisi panas.
Manfaat lain yang tidak kalah penting muncul pada tingkat mikrobiota rumen. Rumen dapat diibaratkan sebagai pabrik fermentasi alami yang dihuni oleh miliaran mikroorganisme. Keseimbangan mikrobiota ini menentukan seberapa baik pakan diubah menjadi energi dan nutrisi. Pemberian Aspergillus niger terbukti mengubah komposisi mikrobiota ke arah yang lebih menguntungkan. Beberapa jenis mikroba yang mendukung pembentukan asam lemak volatil meningkat jumlahnya. Asam lemak volatil seperti asetat dan propionat merupakan sumber energi utama bagi sapi. Ketika produksinya meningkat, sapi dapat memanfaatkan pakan dengan lebih efisien.

Perubahan pada mikrobiota ini juga berkaitan dengan penurunan metana. Beberapa mikroba yang bersaing dengan penghasil metana menjadi lebih dominan, sehingga jalur pembentukan gas ini berkurang. Pendekatan ini menarik karena tidak mematikan mikroba secara langsung, melainkan mengarahkan ekosistem rumen agar bekerja lebih efisien dan ramah lingkungan. Prinsip ini sejalan dengan konsep peternakan berkelanjutan yang berusaha memanfaatkan proses alami tanpa intervensi kimia berlebihan.
Bagi peternak, temuan ini memiliki implikasi praktis yang penting. Stres panas selama ini menyebabkan kerugian ekonomi karena penurunan pertumbuhan, kualitas daging, dan efisiensi pakan. Jika aditif pakan berbasis mikroorganisme mampu menjaga kesehatan sapi sekaligus mengurangi emisi, maka manfaatnya bersifat ganda. Peternak dapat meningkatkan produktivitas ternak, sementara sektor peternakan turut berkontribusi pada upaya mitigasi perubahan iklim. Pendekatan ini juga relatif mudah diterapkan karena aditif pakan dapat dicampurkan langsung ke dalam ransum harian.
Dari sudut pandang lingkungan, pengurangan metana dari ternak memiliki arti strategis. Metana memang bertahan di atmosfer lebih singkat dibandingkan karbon dioksida, tetapi daya pemanasannya jauh lebih kuat. Penurunan emisi metana dalam jangka pendek dapat memberikan dampak cepat terhadap laju pemanasan global. Jika teknologi seperti aditif pakan berbasis Aspergillus niger diterapkan secara luas, sektor peternakan dapat bertransformasi dari sumber masalah menjadi bagian dari solusi iklim.
Meski demikian, penerapan di lapangan tetap memerlukan kehati hatian. Peneliti perlu memastikan dosis yang tepat, konsistensi kualitas produk, serta keamanan jangka panjang bagi ternak dan konsumen. Evaluasi ekonomi juga penting agar biaya tambahan pakan sebanding dengan peningkatan produktivitas yang diperoleh peternak. Selain itu, kondisi peternakan di berbagai wilayah berbeda, baik dari segi iklim, jenis pakan, maupun sistem pemeliharaan. Uji coba di berbagai skala dan lingkungan akan membantu memastikan bahwa manfaat yang ditemukan di penelitian dapat direplikasi secara luas.
Penelitian tentang Aspergillus niger sebagai aditif pakan menggambarkan arah baru dalam inovasi peternakan modern. Ilmu mikrobiologi, nutrisi ternak, dan isu lingkungan bertemu dalam satu pendekatan terpadu. Alih alih hanya fokus pada produksi, pendekatan ini menempatkan kesehatan ternak dan keberlanjutan lingkungan sebagai tujuan yang setara. Dengan bahasa sederhana, jamur kecil yang selama ini dikenal di dunia industri ternyata dapat membantu sapi mencerna pakan lebih baik, merasa lebih nyaman di tengah panas, dan menghasilkan gas rumah kaca yang lebih sedikit.
Ke depan, inovasi semacam ini membuka peluang besar bagi peternakan yang lebih ramah iklim dan tangguh menghadapi perubahan lingkungan. Ketika ilmu pengetahuan diterjemahkan ke dalam solusi praktis yang mudah dipahami dan diterapkan, peternakan tidak lagi sekadar aktivitas produksi, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keseimbangan bumi dan ketahanan pangan global.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Wang, Jiangge dkk. 2026. Effects of Aspergillus niger and Its Compound Preparations on Methane Emissions and Gastrointestinal Microbiota in Heat-Stressed Holstein Bulls. Animals 16 (2), 154.


