Sapi dan Panas Ekstrem: Tantangan Baru Peternakan Eropa

Gelombang panas kini tidak lagi menjadi peristiwa langka di Eropa. Suhu ekstrem yang dulu hanya terjadi sesekali kini datang lebih sering, berlangsung lebih lama, dan berdampak lebih luas. Perubahan ini tidak hanya dirasakan oleh manusia, tetapi juga oleh sektor peternakan, khususnya peternakan sapi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa gelombang panas berpotensi menjadi salah satu ancaman terbesar bagi keberlanjutan peternakan sapi di Eropa dalam beberapa dekade ke depan.

Sapi merupakan hewan yang sangat sensitif terhadap panas. Tubuhnya menghasilkan panas internal yang besar, terutama ketika mencerna pakan. Ketika suhu lingkungan meningkat, sapi kesulitan melepaskan panas tubuhnya. Akibatnya, ternak mengalami stres panas yang dapat menurunkan nafsu makan, memperlambat pertumbuhan, menurunkan produksi susu, dan meningkatkan risiko penyakit. Dalam kondisi ekstrem, stres panas bahkan dapat menyebabkan kematian.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Penelitian ini berusaha menjawab pertanyaan penting tentang masa depan peternakan sapi di Eropa. Seberapa besar paparan gelombang panas yang akan dialami sektor ini dalam beberapa dekade mendatang. Untuk menjawabnya, para peneliti menggunakan model iklim dan data sistem peternakan di seluruh wilayah Uni Eropa dan Inggris. Pendekatan ini memungkinkan mereka memetakan risiko secara lebih rinci dan realistis.

Gambar ini memperlihatkan bahwa hingga tahun 2050 semakin banyak sapi di negara-negara Uni Eropa dan Inggris yang akan terpapar gelombang panas lebih lama dan lebih sering, dengan tingkat risiko berbeda antar negara dan sistem pemeliharaan (Malek & See, 2026).

Hasil penelitian menunjukkan gambaran yang cukup mengkhawatirkan. Pada tahun 2050, antara sekitar sebelas hingga dua puluh persen populasi sapi di Eropa diperkirakan akan mengalami tambahan sedikitnya lima belas hari gelombang panas setiap tahun. Angka ini berarti jutaan ekor sapi akan hidup dalam kondisi yang jauh lebih panas dibandingkan saat ini. Dampaknya tidak hanya bersifat sementara, tetapi dapat memengaruhi produktivitas dan kesejahteraan ternak dalam jangka panjang.

Menariknya, penelitian ini juga menemukan bahwa risiko tidak tersebar secara merata. Sistem pemeliharaan sapi sangat memengaruhi tingkat paparan panas. Sapi yang dipelihara di dalam kandang tertutup tanpa akses ke luar ruangan justru menghadapi risiko stres panas yang lebih tinggi dibandingkan sapi yang digembalakan di padang rumput. Hal ini mungkin terdengar mengejutkan, karena banyak orang mengira sapi di luar ruangan akan lebih terpapar panas.

Penjelasannya terletak pada ventilasi dan akumulasi panas. Kandang tertutup yang tidak dirancang untuk iklim panas dapat menjebak panas dan kelembapan. Tanpa aliran udara yang baik, sapi sulit mendinginkan tubuhnya. Sebaliknya, sapi yang berada di luar ruangan sering kali masih memiliki kesempatan mencari tempat teduh, merasakan angin, dan menyesuaikan perilaku untuk mengurangi panas.

Penelitian ini juga menunjukkan perbedaan geografis yang jelas. Negara negara Eropa bagian selatan diperkirakan akan mengalami dampak paling berat. Wilayah ini sudah terbiasa dengan suhu tinggi, tetapi intensitas dan durasi gelombang panas di masa depan diperkirakan melampaui kemampuan adaptasi sistem peternakan yang ada. Sementara itu, negara di Eropa utara yang sebelumnya relatif sejuk juga akan menghadapi tantangan baru karena sistem peternakan mereka belum dirancang untuk suhu ekstrem.

Dari sudut pandang produksi, dampak stres panas sangat nyata. Sapi perah yang mengalami stres panas biasanya mengurangi konsumsi pakan. Ketika asupan pakan turun, produksi susu ikut menurun. Selain itu, kualitas susu juga dapat berubah. Pada sapi potong, stres panas dapat memperlambat pertumbuhan dan menurunkan efisiensi pakan. Semua ini berujung pada kerugian ekonomi bagi peternak.

Penelitian ini menegaskan bahwa adaptasi menjadi kata kunci. Peternakan sapi di Eropa tidak bisa lagi mengandalkan pola lama dalam menghadapi iklim yang berubah. Namun, adaptasi tidak bisa bersifat seragam. Sistem peternakan sangat beragam, mulai dari penggembalaan ekstensif hingga pemeliharaan intensif di kandang. Setiap sistem memerlukan pendekatan yang berbeda.

Beberapa langkah adaptasi sebenarnya sudah dikenal, tetapi perlu diterapkan lebih luas dan konsisten. Penyediaan naungan, peningkatan ventilasi kandang, penggunaan kipas atau sistem pendingin, serta akses air minum yang cukup merupakan langkah dasar yang dapat mengurangi stres panas. Dalam sistem penggembalaan, pengelolaan padang rumput dan pohon peneduh menjadi semakin penting.

Selain itu, manajemen pakan juga berperan besar. Pada kondisi panas, sapi membutuhkan pakan dengan kualitas tinggi yang mudah dicerna untuk mengurangi panas metabolik. Penyesuaian waktu pemberian pakan ke jam yang lebih sejuk juga dapat membantu. Semua langkah ini memerlukan pengetahuan dan investasi, sehingga dukungan kebijakan dan pendampingan menjadi sangat penting.

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa adaptasi tidak hanya soal teknis, tetapi juga soal perencanaan jangka panjang. Pemilihan lokasi peternakan, desain kandang, dan bahkan pemilihan jenis sapi perlu mempertimbangkan iklim masa depan, bukan hanya kondisi saat ini. Beberapa ras sapi lebih toleran terhadap panas, dan pemanfaatan keragaman genetik dapat menjadi bagian dari strategi adaptasi.

Bagi masyarakat awam, penelitian ini memberikan gambaran bahwa perubahan iklim bukanlah isu abstrak yang hanya dibicarakan di tingkat global. Dampaknya nyata dan langsung memengaruhi cara pangan diproduksi. Susu dan daging yang tersedia di pasar sangat bergantung pada kesejahteraan ternak dan kemampuan peternak beradaptasi dengan lingkungan yang berubah.

Penelitian ini juga menantang anggapan bahwa sistem peternakan modern selalu lebih aman dari risiko iklim. Justru, sistem yang sangat intensif dan tertutup dapat menjadi lebih rentan jika tidak dirancang dengan mempertimbangkan panas ekstrem. Di sisi lain, sistem yang lebih fleksibel dan selaras dengan lingkungan lokal memiliki peluang adaptasi yang lebih baik.

Pada akhirnya, penelitian tentang paparan gelombang panas ini menegaskan satu pesan penting. Masa depan peternakan sapi di Eropa, dan juga di wilayah lain, sangat bergantung pada kesiapan menghadapi iklim yang semakin ekstrem. Adaptasi yang tepat, berbasis ilmu pengetahuan dan kondisi lokal, dapat membantu melindungi kesejahteraan ternak, menjaga produksi pangan, dan mempertahankan mata pencaharian peternak.

Sains peternakan modern tidak hanya berbicara tentang meningkatkan produksi, tetapi juga tentang membangun sistem yang tangguh terhadap perubahan. Gelombang panas mungkin tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya dapat dikelola jika kita bersiap sejak sekarang.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Malek, Žiga & See, Linda. 2026. Future heatwave exposure of the European cattle sector. npj Sustainable Agriculture 4 (1), 6.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top