Resistensi Obat pada Ternak: Tantangan Nyata untuk Masa Depan Peternakan

Antibiotik sudah bertahun-tahun menjadi pilihan utama dalam dunia peternakan. Ketika sapi mengalami batuk, demam, atau terserang infeksi pada saluran pernapasan, antibiotik sering dianggap sebagai solusi paling cepat dan efektif. Namun penggunaan antibiotik yang terus menerus dan sering kali tidak terkontrol ternyata dapat menyebabkan masalah besar di kemudian hari. Salah satunya adalah munculnya resistensi antimikroba atau antibiotic resistance yang kini menjadi perhatian global.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2025 di Amerika Serikat, khususnya di negara bagian Illinois, memberikan gambaran penting tentang bagaimana pengetahuan, sikap, dan praktik peternak sapi terhadap penerapan biosekuriti serta penggunaan antibiotik pada ternak mereka. Penelitian ini melibatkan 514 peternak sapi potong melalui survei yang dilakukan pada Juni hingga Agustus 2022. Hasilnya menunjukkan bahwa masih terdapat kesenjangan informasi yang cukup besar mengenai risiko resistensi antibiotik, khususnya terkait kesehatan hewan dan manusia.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Pertama-tama kita perlu memahami apa yang dimaksud dengan resistensi antimikroba. Ketika antibiotik diberikan berulang kali dalam jangka panjang, bakteri akan beradaptasi dan menjadi kebal terhadap obat tersebut. Akibatnya antibiotik yang dulunya mampu menyembuhkan penyakit tidak lagi bekerja sebagaimana mestinya. Kondisi ini bukan hanya merugikan hewan ternak yang menjadi lebih sulit disembuhkan ketika sakit, tetapi juga sangat berbahaya bagi manusia yang mengonsumsi produk ternak atau tinggal di sekitar lingkungan peternakan. Jika bakteri resisten menyebar ke manusia, infeksi yang awalnya ringan dapat berubah menjadi penyakit parah yang sulit ditangani.

Temuan penelitian menunjukkan bahwa hanya empat puluh lima persen peternak yang memahami apa itu resistensi antimikroba. Lebih kecil lagi, hanya sebelas persen peternak yang menyatakan merasa khawatir dengan ancaman ini. Artinya masih banyak peternak yang berasumsi bahwa resistensi obat bukan merupakan masalah penting atau tidak berhubungan langsung dengan usaha ternak mereka. Kenyataannya, ancaman resistensi antibiotik justru berdampak secara langsung pada biaya perawatan hewan, tingkat kematian ternak, serta keamanan pangan yang nantinya dikonsumsi masyarakat.

Gambar ini menunjukkan bahwa peternak sapi potong yang menjalani evaluasi biosekuriti cenderung memiliki tingkat pengetahuan dan pemahaman yang lebih tinggi terhadap berbagai penyakit ternak dibandingkan yang tidak menjalani evaluasi (Shrestha, dkk. 2025).

Selain itu banyak peternak yang menilai efektivitas antibiotik tetap sama dibandingkan lima tahun lalu. Padahal secara global peningkatan kasus resistensi sudah tercatat dalam berbagai penelitian. Jika anggapan seperti ini terus dipertahankan, penggunaan antibiotik secara sembarangan akan semakin memicu percepatan munculnya bakteri kebal obat.

Penelitian juga mengidentifikasi pola penggunaan antibiotik di peternakan. Penyakit pernapasan merupakan penyebab terbesar penggunaan antibiotik pada sapi. Masalah muncul ketika antibiotik mulai diberikan bukan hanya untuk pengobatan, melainkan sebagai pencegahan yang belum tentu diperlukan. Kondisi menjadi semakin berisiko apabila obat diberikan tanpa pemeriksaan dokter hewan. Antibiotik seharusnya diberikan pada kasus yang sudah terdiagnosis dengan jelas, dengan dosis dan durasi yang tepat serta sesuai arahan tenaga profesional. Jika tidak, bakteri yang bertahan dalam tubuh hewan justru akan semakin kuat dan mengembangkan ketahanan baru.

Biosekuriti merupakan aspek krusial dalam upaya pencegahan penyakit pada ternak. Biosekuriti mencakup berbagai tindakan yang bertujuan mengurangi peluang masuknya penyakit ke dalam peternakan serta menekan penyebarannya. Contohnya adalah menjaga kebersihan kandang, melakukan karantina pada hewan baru atau hewan yang sakit, menerapkan sanitasi air dan pakan, serta mengatur keluar masuknya orang atau kendaraan ke area ternak. Namun sayangnya penelitian menemukan bahwa baru sekitar tiga puluh lima persen peternakan yang mengevaluasi biosekuriti mereka dalam satu tahun terakhir. Lebih jauh lagi hanya lima puluh persen peternakan yang menerima kunjungan dokter hewan secara rutin dalam kurun satu tahun.

Dengan kata lain upaya pencegahan penyakit masih kurang mendapatkan perhatian yang seharusnya. Banyak peternak baru menyadari pentingnya biosekuriti setelah terjadi kasus penyakit yang menyebabkan kerugian besar.

Hal yang menarik dalam penelitian ini adalah adanya perbedaan perilaku berdasarkan jenis sistem pemeliharaan. Peternakan yang menjalankan sistem pemeliharaan siklus penuh atau whole-cycle serta peternakan tipe stocker atau backgrounder ditemukan lebih sering menggunakan jasa dokter hewan dan rutin mengevaluasi biosekuriti. Hal ini dapat dimengerti karena semakin besar populasi ternak, semakin besar pula risiko kerugian apabila terjadi wabah penyakit. Peternakan besar akan lebih terdorong untuk menjaga kesehatan hewan secara sistematis dan profesional.

Mengapa isu ini sangat penting bagi semua orang, bukan hanya bagi peternak sapi di Amerika Serikat. Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO sudah memperingatkan bahwa pada tahun 2050 kematian akibat bakteri kebal antibiotik dapat melampaui jumlah kematian akibat kanker. Jika ini terjadi maka biaya kesehatan akan meningkat, infeksi ringan dapat berubah menjadi kondisi yang mengancam nyawa, dan pasokan pangan dunia terancam terganggu. Dalam konteks peternakan jika ternak sering sakit dan obat menjadi tidak lagi efektif maka produksi pangan asal hewan seperti daging dan susu akan menurun dan harganya menjadi lebih mahal.

Solusi dari masalah ini bukan menghentikan penggunaan antibiotik, karena obat tersebut tetap penting dalam penanganan penyakit bakteri. Namun penggunaan antibiotik harus dilakukan secara cermat, bertanggung jawab, dan berdasarkan diagnosa yang tepat. Edukasi menjadi kunci utama agar peternak memahami risiko dan menerapkan praktik terbaik dalam menjaga kesehatan ternak. Kunjungan dokter hewan perlu ditingkatkan agar penggunaan obat dapat terkontrol dan evaluasi kesehatan dapat dilakukan secara berkala. Selain itu penerapan biosekuriti harus menjadi kebiasaan umum di seluruh peternakan.

Penelitian ini menegaskan bahwa program peningkatan kesadaran dan pendampingan terhadap peternak sangat dibutuhkan. Dengan pemahaman yang lebih baik, peternak dapat menjaga kesehatan ternak secara lebih efektif, mengurangi ketergantungan pada antibiotik, serta turut melindungi masyarakat dari ancaman bakteri kebal obat. Kesehatan hewan, kesehatan manusia, dan kesehatan lingkungan merupakan satu kesatuan yang saling terhubung. Ketika ternak sehat, peternak pun sejahtera dan konsumen merasa aman. Melindungi masa depan pangan dan kesehatan global dapat dimulai dari kandang ternak yang dikelola dengan bijak.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Shrestha, Rima dkk. 2025. Beef Cattle Farmers’ Knowledge, Attitudes, and Practices Toward On-Farm Biosecurity, Antimicrobial Use, and Antimicrobial Resistance in Illinois, United States of America. Antibiotics 14 (3), 282.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top