Rahasia Menekan Emisi Peternakan Tanpa Mengorbankan Produksi

Perdebatan tentang peternakan dan perubahan iklim sering kali mengarah pada satu kesimpulan sederhana: jumlah ternak harus dikurangi agar emisi gas rumah kaca menurun. Pandangan ini terdengar logis, karena sapi dan ruminansia lain menghasilkan metana yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Namun, pendekatan tersebut juga menimbulkan kekhawatiran besar, terutama terkait ketahanan pangan dan mata pencaharian jutaan peternak. Apakah mengurangi jumlah sapi berarti kita harus mengorbankan produksi susu dan daging.

Penelitian terbaru di bidang ketahanan pangan global memberikan sudut pandang yang lebih nuansa dan realistis. Para peneliti menunjukkan bahwa pengurangan jumlah sapi sebenarnya dapat membuka peluang besar untuk menurunkan emisi gas rumah kaca tanpa harus mengorbankan produksi susu dan daging. Kuncinya terletak pada peningkatan produktivitas dan efisiensi sistem peternakan.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Selama ini, banyak strategi mitigasi perubahan iklim di sektor peternakan berfokus pada penurunan intensitas emisi. Intensitas emisi berarti jumlah gas rumah kaca yang dihasilkan per liter susu atau per kilogram daging. Ketika produktivitas meningkat, intensitas emisi biasanya menurun karena setiap hewan menghasilkan lebih banyak produk. Namun, penelitian ini mengingatkan bahwa penurunan intensitas emisi tidak otomatis berarti total emisi juga menurun.

Para peneliti menganalisis perkembangan sektor sapi selama sekitar lima belas tahun terakhir di tingkat global. Dalam periode tersebut, produktivitas per ekor sapi meningkat di banyak wilayah dunia. Sapi menghasilkan lebih banyak susu dan daging dibandingkan sebelumnya berkat perbaikan pakan, manajemen, dan genetika. Pada saat yang sama, total produksi juga meningkat karena permintaan pangan terus tumbuh.

Grafik ini menunjukkan bahwa negara dengan produktivitas sapi yang lebih tinggi cenderung memiliki intensitas emisi gas rumah kaca per kilogram susu atau daging yang lebih rendah, sehingga peningkatan efisiensi produksi dan pengurangan jumlah ternak dapat menurunkan emisi global sektor peternakan (Fischer & Herrero, 2026).

Masalahnya, meskipun emisi per unit produk menurun, total emisi tidak selalu ikut turun. Hal ini terjadi karena jumlah ternak secara keseluruhan tetap tinggi atau bahkan meningkat. Dengan kata lain, efisiensi yang lebih baik sering kali diimbangi oleh skala produksi yang lebih besar. Inilah yang membuat penurunan emisi di sektor peternakan menjadi tantangan yang kompleks.

Penelitian ini kemudian menawarkan pendekatan yang berbeda. Para peneliti menunjukkan bahwa jika peningkatan produktivitas diiringi dengan pengurangan jumlah ternak secara terencana, maka total produksi susu dan daging masih dapat dipertahankan. Pada saat yang sama, total emisi gas rumah kaca dapat ditekan secara signifikan. Pendekatan ini membuka jalan tengah antara kebutuhan pangan dan tanggung jawab lingkungan.

Konsep ini dapat dijelaskan dengan contoh sederhana. Bayangkan sebuah peternakan yang memiliki sepuluh ekor sapi dengan produksi susu yang relatif rendah. Jika peternak meningkatkan kualitas pakan dan manajemen sehingga setiap sapi menghasilkan lebih banyak susu, maka kebutuhan produksi yang sama dapat dipenuhi dengan jumlah sapi yang lebih sedikit. Dengan berkurangnya jumlah sapi, emisi metana juga menurun, sementara produksi susu tetap terjaga.

Penelitian ini menegaskan bahwa peningkatan produktivitas merupakan syarat penting dalam strategi ini. Tanpa peningkatan produktivitas, pengurangan ternak memang akan menurunkan emisi, tetapi juga menurunkan produksi pangan. Oleh karena itu, inovasi di bidang pakan, kesehatan hewan, dan manajemen menjadi kunci utama. Produktivitas bukan hanya soal teknologi canggih, tetapi juga soal praktik dasar yang konsisten dan berbasis pengetahuan.

Pendekatan ini juga memiliki implikasi sosial yang penting. Banyak peternak kecil bergantung pada ternak sebagai aset utama. Pengurangan ternak secara sembarangan dapat mengancam penghidupan mereka. Namun, jika pengurangan ternak dilakukan bersamaan dengan peningkatan produktivitas dan nilai tambah, pendapatan peternak tidak harus turun. Bahkan dalam beberapa kasus, pendapatan dapat meningkat karena biaya produksi per unit produk menjadi lebih rendah.

Penelitian ini juga menyoroti bahwa strategi pengurangan ternak tidak dapat diterapkan secara seragam di semua wilayah. Kondisi sosial, ekonomi, dan lingkungan sangat beragam. Di beberapa daerah, potensi peningkatan produktivitas masih sangat besar. Di daerah lain, produktivitas sudah tinggi dan ruang untuk pengurangan ternak lebih terbatas. Oleh karena itu, kebijakan harus disesuaikan dengan konteks lokal.

Dari sudut pandang ketahanan pangan, temuan ini memberikan harapan. Selama ini, diskusi tentang pengurangan emisi sering dipersepsikan sebagai ancaman terhadap ketersediaan pangan. Penelitian ini menunjukkan bahwa dengan pendekatan yang tepat, tujuan lingkungan dan pangan tidak harus saling bertentangan. Produksi susu dan daging tetap dapat dipenuhi, sementara dampak lingkungan ditekan.

Bagi masyarakat awam, pesan utama dari penelitian ini adalah bahwa solusi perubahan iklim di sektor peternakan tidak sesederhana mengurangi konsumsi atau mematikan usaha peternakan. Solusi yang lebih efektif justru terletak pada perbaikan cara kita memproduksi pangan. Efisiensi, pengetahuan, dan perencanaan jangka panjang memainkan peran yang jauh lebih besar daripada sekadar angka jumlah ternak.

Penelitian ini juga mengingatkan bahwa transisi menuju sistem peternakan rendah emisi membutuhkan waktu dan dukungan kebijakan. Peternak tidak bisa diminta berubah secara mendadak tanpa akses terhadap pelatihan, teknologi, dan pembiayaan. Pemerintah, industri, dan konsumen perlu berbagi tanggung jawab dalam mendorong perubahan ini.

Konsumen juga memiliki peran penting. Permintaan terhadap produk peternakan yang dihasilkan secara berkelanjutan dapat mendorong adopsi praktik yang lebih efisien. Ketika pasar menghargai kualitas, efisiensi, dan keberlanjutan, peternak memiliki insentif yang lebih kuat untuk berinvestasi dalam peningkatan produktivitas.

Penelitian ini menawarkan pesan optimistis di tengah kekhawatiran global tentang iklim dan pangan. Pengurangan jumlah sapi tidak harus berarti pengurangan pangan. Dengan strategi yang tepat, sektor peternakan dapat menjadi bagian dari solusi perubahan iklim tanpa kehilangan perannya sebagai penyedia pangan dan penghidupan. Sains peternakan modern menunjukkan bahwa masa depan peternakan tidak harus dipilih antara lingkungan atau pangan, tetapi dapat dirancang untuk melayani keduanya secara bersamaan.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Fischer, Carlos Gonzalez & Herrero, Mario. 2026. Reduction in cattle numbers can unlock greenhouse gas mitigation potentials without compromising milk and meat production. Global Food Security, 100906.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top