Peternakan modern menghasilkan pangan bagi jutaan orang sekaligus menghasilkan limbah dalam jumlah besar. Setiap hari, peternakan sapi, babi, dan unggas memproduksi kotoran ternak yang sering dianggap sebagai masalah lingkungan. Bau menyengat, pencemaran air, dan pelepasan gas rumah kaca menjadi keluhan umum masyarakat sekitar kawasan peternakan. Namun, riset terbaru di Korea menunjukkan bahwa kotoran ternak tidak harus berakhir sebagai sumber masalah. Ilmu pengetahuan justru membuka jalan agar limbah ini berubah menjadi solusi bagi pertanian berkelanjutan dan pengendalian perubahan iklim.
Korea menghasilkan sekitar lima puluh juta ton kotoran ternak setiap tahun. Selama ini, lebih dari tujuh puluh persen limbah tersebut diolah melalui proses pengomposan dan kemudian disebarkan ke lahan pertanian. Cara ini memang mengembalikan unsur hara ke tanah, tetapi juga memicu persoalan baru. Proses pengomposan melepaskan gas metana dan dinitrogen oksida yang berkontribusi besar terhadap pemanasan global. Selain itu, amonia yang terlepas ke udara dapat berubah menjadi partikel halus yang membahayakan kesehatan manusia. Limbah cair dari pupuk kandang juga sering mencemari sungai dan air tanah.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Peneliti di Korea mulai mencari pendekatan yang lebih ramah lingkungan. Mereka mengembangkan teknologi untuk mengubah kotoran ternak menjadi biochar. Biochar merupakan arang hayati yang dihasilkan melalui pemanasan bahan organik pada suhu tinggi dengan sedikit atau tanpa oksigen. Proses ini dikenal sebagai pirolisis. Berbeda dengan pembakaran biasa, pirolisis tidak mengubah bahan organik menjadi abu, tetapi menghasilkan material berpori yang stabil dan kaya karbon.
Para ilmuwan melihat biochar sebagai jawaban atas dua tantangan besar sekaligus. Pertama, biochar mampu mengunci karbon dalam bentuk padat sehingga tidak mudah kembali ke atmosfer sebagai gas rumah kaca. Kedua, biochar memiliki manfaat nyata bagi tanah dan pertanian. Struktur porinya membantu tanah menyimpan air dan unsur hara, meningkatkan aktivitas mikroorganisme tanah, serta memperbaiki kualitas lahan yang terdegradasi.

Di Korea, pemerintah secara aktif mendorong peralihan dari pengomposan konvensional menuju produksi biochar berbasis kotoran ternak. Salah satu inovasi penting yang dikembangkan adalah sistem Manure to Biochar atau MTB. Teknologi ini menggunakan metode pengeringan dan pemanasan yang efisien untuk mengolah kotoran ternak basah menjadi biochar berkualitas tinggi. Sistem ini mengurangi bau, menekan emisi gas berbahaya, dan menghasilkan produk yang lebih stabil dibanding pupuk kandang biasa.
Biochar dari kotoran ternak menawarkan banyak manfaat bagi sektor pertanian. Ketika petani mencampurkannya ke dalam tanah, biochar membantu meningkatkan kesuburan tanah dalam jangka panjang. Tanah menjadi lebih gembur dan mampu menahan air lebih lama, sehingga tanaman lebih tahan terhadap kekeringan. Biochar juga mengikat nutrisi seperti nitrogen dan fosfor agar tidak mudah tercuci oleh air hujan. Hasilnya, tanaman dapat menyerap unsur hara secara lebih efisien dan produktivitas lahan meningkat.
Manfaat biochar tidak berhenti di lahan pertanian. Biochar juga berperan dalam pemulihan lingkungan. Material ini mampu menyerap logam berat dan zat pencemar lainnya, sehingga berguna untuk rehabilitasi tanah dan air yang tercemar. Dalam konteks perubahan iklim, biochar berfungsi sebagai penyimpan karbon jangka panjang. Karbon yang tersimpan dalam biochar dapat bertahan di tanah selama ratusan tahun, membantu menekan konsentrasi karbon dioksida di atmosfer.
Meski menjanjikan, pengembangan biochar dari kotoran ternak juga menghadapi tantangan. Kotoran ternak sering mengandung kadar garam dan logam berat yang cukup tinggi, terutama di wilayah dengan peternakan intensif. Peneliti di Korea terus mengkaji cara untuk mengendalikan kandungan ini agar biochar tetap aman digunakan di lahan pertanian. Standar kualitas, pengawasan produksi, dan regulasi yang ketat menjadi kunci agar teknologi ini tidak menimbulkan dampak baru bagi lingkungan.
Aspek ekonomi juga menjadi perhatian penting. Produksi biochar membutuhkan investasi teknologi dan energi. Namun, jika dihitung secara menyeluruh, manfaat jangka panjangnya cukup besar. Peternak dapat mengurangi biaya pengelolaan limbah, petani memperoleh bahan pembenah tanah yang tahan lama, dan masyarakat luas menikmati lingkungan yang lebih bersih. Biochar bahkan dapat menjadi sumber energi tambahan karena proses pirolisis menghasilkan gas dan panas yang dapat dimanfaatkan kembali.
Pengalaman Korea memberikan pelajaran berharga bagi negara lain, termasuk negara berkembang yang memiliki sektor peternakan besar. Pendekatan ini menunjukkan bahwa masalah limbah dapat diatasi dengan inovasi, bukan sekadar dengan pembatasan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat, riset ilmiah, dan keterlibatan peternak serta petani, teknologi biochar dapat menjadi bagian dari sistem pertanian modern yang lebih berkelanjutan.
Masa depan peternakan tidak hanya berbicara tentang produksi daging, susu, atau telur. Masa depan itu juga mencakup cara manusia mengelola limbah, menjaga kualitas lingkungan, dan melindungi iklim bumi. Biochar dari kotoran ternak menawarkan gambaran nyata tentang bagaimana sains mengubah limbah menjadi sumber daya bernilai. Ketika ilmu pengetahuan bertemu kebijakan dan praktik lapangan, peternakan dapat bertransformasi dari sumber emisi menjadi bagian dari solusi iklim global.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Yoo, Jiho. 2026. Recent advances in livestock manure biochar Development in Korea: A review. Waste Management 210, 115208.


