Peternakan dan Udara yang Kita Hirup: Mengurai Dampak Limbah Ternak terhadap Kesehatan dan Biaya Sosial

Peternakan memainkan peran penting dalam kehidupan sehari hari masyarakat, mulai dari penyediaan daging, susu, telur, hingga sumber penghidupan jutaan keluarga pedesaan. Namun di balik manfaat besarnya, sektor ini juga ikut berkontribusi terhadap masalah lingkungan dan kesehatan, salah satunya melalui pencemaran udara berupa partikel halus yang dikenal sebagai PM2.5. Penelitian terbaru yang mengkaji kebijakan pengendalian PM2.5 di Asia Tenggara memberikan gambaran jelas bahwa peternakan tidak bisa dipisahkan dari upaya menjaga kesehatan manusia dan menekan biaya sosial akibat polusi udara.

PM2.5 adalah partikel udara yang ukurannya sangat kecil, bahkan lebih kecil dari diameter rambut manusia. Karena ukurannya yang sangat halus, partikel ini mudah terhirup dan masuk jauh ke dalam paru paru, bahkan bisa menembus aliran darah. Paparan PM2.5 dalam jangka panjang meningkatkan risiko penyakit pernapasan, penyakit jantung, stroke, dan kematian dini. Di banyak negara berkembang, termasuk kawasan Asia Tenggara, PM2.5 menjadi salah satu ancaman kesehatan masyarakat terbesar.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Selama ini, sumber PM2.5 sering dikaitkan dengan kendaraan bermotor, industri, dan pembangkit listrik. Namun riset mutakhir menunjukkan bahwa aktivitas pertanian dan peternakan juga memberi kontribusi signifikan. Peternakan menghasilkan gas amonia yang berasal dari kotoran ternak dan penggunaan pupuk berbasis nitrogen. Di udara, gas amonia bereaksi dengan zat lain dan membentuk partikel PM2.5. Proses ini terjadi secara perlahan tetapi dampaknya luas dan berlangsung terus menerus.

Grafik ini menunjukkan bahwa kebijakan pengendalian emisi di berbagai sektor, termasuk pertanian dan peternakan, dapat secara signifikan menurunkan dampak kesehatan dan biaya ekonomi akibat polusi udara terutama PM2.5 jika diterapkan secara terpadu dan konsisten (Ayudhya, dkk. 2026).

Peternakan intensif dengan jumlah ternak besar mempercepat pembentukan PM2.5, terutama di wilayah dengan kepadatan penduduk tinggi. Kandang tertutup, pengelolaan limbah yang kurang baik, serta pembakaran limbah pertanian di sekitar kawasan peternakan memperparah kondisi udara. Akibatnya, masyarakat yang tinggal di sekitar sentra peternakan ikut menanggung dampak kesehatan meskipun mereka tidak terlibat langsung dalam aktivitas tersebut.

Penelitian yang menjadi rujukan artikel ini menyoroti pentingnya kebijakan pengendalian PM2.5 yang menyasar berbagai sektor sekaligus, termasuk peternakan. Tanpa intervensi kebijakan, biaya kesehatan akibat polusi udara diperkirakan akan terus meningkat hingga puluhan tahun ke depan. Biaya tersebut mencakup pengeluaran rumah sakit, kehilangan hari kerja, penurunan produktivitas, dan beban ekonomi negara secara keseluruhan.

Kabar baiknya, sektor peternakan memiliki peluang besar untuk berkontribusi dalam menurunkan polusi udara tanpa harus mengorbankan produksi pangan. Salah satu kunci utama terletak pada pengelolaan kotoran ternak. Kotoran yang dibiarkan terbuka akan melepaskan gas amonia ke udara. Sebaliknya, pengolahan kotoran melalui teknologi sederhana seperti kompos tertutup atau biogas mampu menekan emisi sekaligus menghasilkan manfaat tambahan berupa pupuk organik dan energi.

Biogas menjadi contoh solusi yang ramah lingkungan dan realistis untuk diterapkan di tingkat peternak kecil hingga menengah. Dengan mengolah kotoran ternak di dalam reaktor biogas, peternak dapat mengurangi bau, menekan pelepasan gas pencemar, serta memperoleh gas untuk memasak atau penerangan. Langkah ini tidak hanya menurunkan PM2.5, tetapi juga mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.

Selain pengelolaan limbah, perbaikan manajemen pakan juga berperan penting. Pemberian pakan yang seimbang dan sesuai kebutuhan ternak mengurangi kelebihan nitrogen yang akhirnya terbuang melalui kotoran. Semakin efisien pakan dimanfaatkan oleh tubuh ternak, semakin kecil potensi pembentukan gas amonia di lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip peternakan modern yang menekankan efisiensi dan keberlanjutan.

Kebijakan pemerintah memegang peranan kunci dalam mendorong perubahan di sektor peternakan. Penelitian menunjukkan bahwa kebijakan yang terintegrasi, mulai dari insentif teknologi ramah lingkungan, penyuluhan bagi peternak, hingga regulasi pengelolaan limbah, mampu menurunkan dampak kesehatan dan biaya ekonomi akibat PM2.5 secara signifikan. Tanpa dukungan kebijakan, peternak sering kesulitan mengadopsi teknologi baru karena keterbatasan modal dan pengetahuan.

Pendekatan berbasis wilayah juga sangat penting. Setiap daerah memiliki karakteristik peternakan, iklim, dan kepadatan penduduk yang berbeda. Oleh karena itu, solusi pengendalian PM2.5 tidak bisa disamaratakan. Wilayah dengan peternakan unggas skala besar memerlukan strategi berbeda dibandingkan daerah dengan peternakan sapi rakyat. Penyesuaian kebijakan berdasarkan kondisi lokal membuat upaya pengendalian polusi lebih efektif dan adil.

Masyarakat luas juga berperan dalam mendorong peternakan yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Kesadaran konsumen terhadap asal produk hewani dapat memicu perubahan praktik produksi. Ketika konsumen mulai menghargai produk dari peternakan yang menerapkan pengelolaan limbah dan lingkungan yang baik, peternak memiliki insentif tambahan untuk bertransformasi.

Ke depan, sektor peternakan tidak lagi bisa dipandang semata sebagai penyedia pangan. Peternakan menjadi bagian dari sistem yang saling terhubung antara kesehatan manusia, lingkungan, dan ekonomi. Penelitian tentang PM2.5 menunjukkan bahwa perbaikan di sektor ini memberikan manfaat ganda, yaitu udara yang lebih bersih dan biaya kesehatan yang lebih rendah.

Transformasi peternakan menuju sistem yang lebih bersih dan berkelanjutan memang membutuhkan waktu, investasi, dan kerja sama banyak pihak. Namun langkah kecil seperti pengelolaan kotoran yang lebih baik, perbaikan pakan, dan dukungan kebijakan yang tepat sudah mampu membawa perubahan nyata. Dengan pendekatan ini, peternakan dapat tetap memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus menjaga kualitas udara dan kesehatan generasi mendatang.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Ayudhya, Maywalin Jumsai Na dkk. 2026. Assessing policies for health impact and cost reduction from PM2. 5 formation. Environmental Impact Assessment Review 118, 108265.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top