Sistem pangan dunia menghadapi tekanan yang semakin besar dari berbagai arah. Pertumbuhan penduduk meningkatkan kebutuhan pangan, sementara perubahan iklim, degradasi lingkungan, dan keterbatasan sumber daya alam membuat produksi pangan menjadi semakin menantang. Dalam situasi ini, sektor peternakan sering berada di posisi yang rumit. Di satu sisi, peternakan berperan penting dalam penyediaan protein hewani. Di sisi lain, peternakan kerap dituding sebagai penyumbang pencemaran lingkungan dan penggunaan sumber daya yang berlebihan.
Para ilmuwan kemudian mulai mencari pendekatan yang lebih seimbang dan berkelanjutan. Salah satu pendekatan yang kembali mendapat perhatian besar adalah integrasi tanaman dan ternak, atau yang sering disebut sebagai sistem pertanian terpadu. Pendekatan ini mencoba menghubungkan kembali dua kegiatan yang selama ini sering dipisahkan, yaitu bercocok tanam dan beternak, dalam satu sistem yang saling mendukung.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Penelitian terbaru dari wilayah Huang Huai Hai di Tiongkok memberikan gambaran kuat tentang bagaimana integrasi tanaman dan ternak dapat berkontribusi langsung terhadap ketahanan pangan. Wilayah ini merupakan salah satu lumbung pangan penting, namun juga menghadapi tekanan lingkungan akibat intensifikasi pertanian dan peternakan selama puluhan tahun. Melalui analisis data jangka panjang, para peneliti menilai sejauh mana integrasi tanaman dan ternak benar benar memberikan manfaat nyata.
Integrasi tanaman dan ternak pada dasarnya memanfaatkan prinsip daur ulang alami. Limbah dari kegiatan peternakan, seperti kotoran ternak, digunakan kembali sebagai pupuk untuk tanaman. Sebaliknya, sisa hasil pertanian dan tanaman pakan dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Dengan cara ini, limbah tidak lagi dipandang sebagai masalah, tetapi sebagai sumber daya yang bernilai.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa wilayah dengan tingkat integrasi tanaman dan ternak yang lebih tinggi cenderung memiliki tingkat ketahanan pangan yang lebih baik. Ketahanan pangan di sini tidak hanya berarti ketersediaan pangan, tetapi juga stabilitas produksi dan kemampuan masyarakat untuk mengakses pangan secara berkelanjutan. Temuan ini penting karena menunjukkan bahwa pendekatan pertanian terpadu tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga relevan secara ekonomi dan sosial.
Salah satu mekanisme utama yang menjelaskan hubungan ini adalah peningkatan efisiensi penggunaan sumber daya. Dalam sistem terpadu, pupuk organik dari ternak dapat menggantikan sebagian pupuk kimia. Hal ini tidak hanya mengurangi biaya produksi, tetapi juga memperbaiki kualitas tanah dalam jangka panjang. Tanah yang lebih sehat mampu menyimpan air dan nutrisi dengan lebih baik, sehingga produktivitas tanaman menjadi lebih stabil.
Selain itu, integrasi tanaman dan ternak membantu mengurangi pencemaran lingkungan. Penelitian ini mencatat bahwa pengelolaan limbah ternak yang lebih baik dapat menurunkan emisi dan risiko pencemaran air serta tanah. Ketika kotoran ternak dibuang tanpa pengelolaan, dampaknya bisa sangat merugikan. Namun, ketika limbah tersebut diolah dan dimanfaatkan kembali, dampak negatif tersebut dapat ditekan secara signifikan.
Dari sisi ekonomi, sistem terpadu memberikan manfaat tambahan bagi petani dan peternak. Pendapatan tidak hanya bergantung pada satu jenis usaha, tetapi berasal dari kombinasi produksi tanaman dan ternak. Diversifikasi ini membuat rumah tangga pertanian lebih tahan terhadap guncangan, seperti gagal panen atau fluktuasi harga. Ketika satu sektor mengalami penurunan, sektor lainnya dapat membantu menutup kerugian.
Penelitian ini juga menemukan bahwa integrasi tanaman dan ternak memberikan dampak yang berbeda di berbagai wilayah. Daerah dengan kondisi ekonomi yang relatif lemah, tetapi memiliki potensi produksi pertanian yang baik, justru memperoleh manfaat paling besar dari pendekatan ini. Hal ini menunjukkan bahwa sistem terpadu dapat menjadi alat penting untuk mengurangi kesenjangan dan memperkuat ketahanan pangan di wilayah pedesaan.
Bagi peternak dan petani kecil, temuan ini sangat relevan. Banyak pelaku usaha skala kecil menghadapi keterbatasan modal dan akses teknologi. Integrasi tanaman dan ternak menawarkan solusi yang relatif terjangkau karena memanfaatkan sumber daya yang sudah tersedia di tingkat lokal. Dengan pengetahuan dan pendampingan yang tepat, sistem ini dapat diterapkan tanpa investasi besar.
Namun, para peneliti juga menekankan bahwa integrasi tanaman dan ternak tidak terjadi secara otomatis. Diperlukan dukungan kebijakan, infrastruktur, dan pengetahuan teknis agar sistem ini dapat berjalan dengan baik. Misalnya, petani perlu memahami cara mengelola pupuk organik secara aman dan efektif. Tanpa pengelolaan yang benar, manfaat lingkungan justru bisa berubah menjadi masalah baru.
Selain itu, perubahan pola usaha sering kali membutuhkan perubahan cara berpikir. Di banyak tempat, spesialisasi dianggap sebagai jalan menuju efisiensi. Penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks tertentu, integrasi justru memberikan hasil yang lebih baik. Oleh karena itu, pendekatan pembangunan pertanian perlu lebih fleksibel dan menyesuaikan dengan kondisi lokal.
Bagi masyarakat umum, penelitian ini memberikan sudut pandang baru tentang hubungan antara peternakan dan ketahanan pangan. Peternakan tidak harus menjadi beban lingkungan jika dikelola dalam sistem yang tepat. Sebaliknya, peternakan dapat menjadi bagian penting dari solusi untuk membangun sistem pangan yang lebih berkelanjutan.
Integrasi tanaman dan ternak juga mengingatkan kita bahwa alam bekerja dalam siklus. Ketika manusia meniru dan mendukung siklus tersebut, produksi pangan dapat berjalan lebih selaras dengan lingkungan. Pendekatan ini sejalan dengan gagasan pertanian sirkular yang kini semakin banyak dibicarakan di tingkat global.
Penelitian dari Tiongkok ini menunjukkan bahwa masa depan peternakan dan pertanian tidak harus dipisahkan. Dengan menghubungkan kembali tanaman dan ternak dalam satu sistem yang saling mendukung, ketahanan pangan dapat diperkuat, lingkungan dapat dijaga, dan kesejahteraan pelaku usaha pertanian dapat ditingkatkan. Sains peternakan modern semakin menegaskan bahwa solusi terbaik sering kali lahir dari cara pandang yang menyeluruh dan berimbang terhadap alam dan manusia.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Xiong, Xuezhen & Lian, Hongping. 2026. Assessing the impact of crop–livestock integration on food security: Evidence from the Huang–Huai–Hai region of China. Journal of Cleaner Production 538, 147395.


