Perempuan, Pengetahuan, dan Peternakan: Menghapus Batas dalam Akses Penyuluhan

Peternakan menjadi sumber kehidupan utama bagi jutaan keluarga di pedesaan, bukan hanya di India tetapi juga di banyak negara berkembang lainnya. Hewan ternak menjadi sumber pangan, pendapatan, tabungan keluarga, serta penopang berbagai kebutuhan sosial ekonomi. Namun, tanpa pengelolaan yang baik dan akses terhadap informasi teknologi yang terbaru, usaha peternakan akan sulit berkembang dan terus tertinggal. Di sinilah peran layanan penyuluhan pertanian dan peternakan menjadi sangat penting.

Sebuah penelitian terbaru di Tamil Nadu, India, menyoroti bagaimana peran layanan penyuluhan dalam meningkatkan produktivitas peternakan. Penelitian ini berfokus pada perbedaan akses dan tingkat keterlibatan peternak terhadap layanan penyuluhan yang disediakan oleh beberapa lembaga. Tujuannya adalah untuk mengetahui siapa yang mendapatkan manfaat terbesar dari penyuluhan, serta tantangan apa yang menyebabkan sebagian peternak lain kurang terjangkau.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Penyuluhan merupakan jembatan antara ilmu pengetahuan dengan praktik peternakan di lapangan. Para penyuluh membantu peternak memperbaiki manajemen pakan, kesehatan ternak, perkandangan, serta pemasaran hasil produksi. Melalui penyuluhan yang baik, peternak dapat mengurangi angka kematian ternak, meningkatkan hasil susu maupun daging, dan pada akhirnya memperbaiki kesejahteraan keluarga mereka.

Penelitian dilakukan dengan melibatkan 276 peternak yang berasal dari wilayah layanan dua lembaga penyuluhan yang berbeda. Informasi yang dikumpulkan mencakup karakteristik peternak seperti usia, pendidikan, pengalaman, kepemilikan lahan, hingga partisipasi sosialnya dalam komunitas. Data ini kemudian dianalisis untuk memahami faktor yang mendorong atau menghambat akses peternak terhadap penyuluhan.

Kerangka konseptual yang menjelaskan bagaimana faktor personal, kondisi usaha tani, dan karakter sosial memengaruhi pilihan serta intensitas kontak peternak dengan penyedia layanan penyuluhan (Mani, dkk. 2025).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak semua peternak memiliki kesempatan yang sama dalam mengakses layanan penyuluhan. Peternak yang berusia lebih tua cenderung lebih aktif mencari informasi tentang peternakan. Tingkat pendidikan juga berpengaruh besar, di mana peternak yang menempuh pendidikan lebih tinggi lebih mampu memahami dan memanfaatkan informasi baru. Selain itu, individu yang memiliki posisi sosial sebagai pemimpin komunitas juga lebih mudah terhubung dengan penyedia layanan penyuluhan.

Namun, terdapat satu temuan yang cukup memprihatinkan. Gender ternyata mempengaruhi tingkat akses terhadap penyuluhan. Peternak perempuan memiliki peluang lebih kecil dibandingkan laki-laki untuk mendapatkan layanan penyuluhan. Hal ini menunjukkan bahwa ketimpangan berbasis gender masih menjadi hambatan yang cukup besar dalam sektor peternakan.

Selain akses, penelitian ini juga melihat seberapa sering peternak berinteraksi dengan penyuluh dan seberapa aktif mereka menerapkan informasi yang diterima. Faktor yang meningkatkan tingkat keterlibatan antara lain pengalaman beternak, keterlibatan sosial, kepemilikan lahan pertanian yang lebih luas, dan praktik pertanian campuran. Dengan kata lain, mereka yang sudah memiliki modal sosial dan ekonomi yang lebih baik cenderung semakin berkembang ketika mendapat bimbingan penyuluh.

Di sisi lain, penyuluhan cenderung lebih intensif diberikan kepada peternak yang sudah tergolong mapan. Hal ini berpotensi memperlebar kesenjangan, karena kelompok yang sudah maju akan semakin maju, sedangkan mereka yang tertinggal akan makin sulit mengejar. Meski demikian, penelitian mencatat adanya upaya untuk meningkatkan inklusi bagi peternak kecil dan terpinggirkan. Kontak yang lebih intens dengan penyuluh di beberapa daerah justru lebih banyak menyasar kelompok marjinal sehingga memberikan harapan untuk pemerataan manfaat teknologi peternakan.

Temuan-temuan ini memberikan pelajaran penting bagi lembaga pemerintah, organisasi sosial, serta pembuat kebijakan. Pengembangan program penyuluhan harus mempertimbangkan aspek pemerataan dan sensitivitas terhadap kondisi sosial, terutama terkait peran perempuan dalam peternakan. Di banyak daerah pedesaan, perempuan memiliki kontribusi yang sangat besar dalam pemeliharaan ternak, tetapi perannya sering kali tidak terlihat dan tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

Penyuluhan yang berkeadilan harus memberikan perhatian lebih kepada peternak yang paling membutuhkan, bukan hanya kepada mereka yang sudah mampu berkembang. Program perlu dirancang agar mudah diakses, ramah perempuan, dan sesuai dengan kondisi sosial serta ekonomi masyarakat setempat. Komunitas peternak juga perlu diberdayakan dengan membentuk kelompok belajar yang saling mendukung, sehingga informasi dan keterampilan dapat menyebar lebih cepat.

Penelitian di Tamil Nadu ini memiliki pesan kuat yang relevan tidak hanya di India tetapi juga bagi negara-negara lain seperti Indonesia. Tantangan yang dihadapi peternak kecil pada umumnya serupa. Mereka menghadapi keterbatasan dalam akses informasi, teknologi, modal, dan jaringan pemasaran. Tanpa dukungan penyuluhan yang memadai, teknologi yang canggih sekalipun tidak akan memberikan manfaat nyata di lapangan.

Kesimpulan umum dari penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan pembangunan peternakan tidak hanya bergantung pada teknologi terbaru, melainkan juga pada kemampuan semua peternak untuk mengakses pengetahuan tersebut. Ketika penyuluhan dapat menjangkau seluruh lapisan peternak tanpa diskriminasi, maka peningkatan produktivitas, kesejahteraan keluarga, serta keberlanjutan usaha peternakan akan lebih mudah dicapai.

Dalam konteks ini, penyuluhan peternakan bukan semata kegiatan berbasis teknologi, melainkan juga bentuk keadilan dan pemberdayaan sosial. Peternakan yang maju lahir dari peternak yang memiliki kesempatan belajar yang setara. Memberikan akses informasi dan bimbingan yang inklusif berarti memberikan masa depan yang lebih cerah bagi komunitas pedesaan yang menggantungkan harapan pada hewan ternaknya.

Dengan demikian, jika ingin melihat sektor peternakan bertumbuh tanpa meninggalkan kelompok yang lemah, maka penyuluhan harus menjadi prioritas dalam setiap kebijakan yang menyangkut peternak kecil. Kemajuan peternakan seharusnya tidak hanya dirasakan oleh sebagian, tetapi oleh seluruh pelaku yang bekerja keras setiap hari merawat ternak dan menjaga keberlangsungan pangan masyarakat.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Mani, Jothilakshmi dkk. 2025. Factors affecting livestock farmers’ access and level of engagement with extension agencies in Tamil Nadu, India. Development in Practice 35 (4), 549-565.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top