Peternakan modern tidak hanya berbicara tentang produksi daging, susu, atau telur. Peternakan kini berhadapan langsung dengan isu kesehatan global yang jauh lebih luas, salah satunya adalah meningkatnya resistansi jamur terhadap obat antijamur. Masalah ini jarang terdengar dibanding resistansi antibiotik, tetapi dampaknya sama seriusnya bagi manusia, hewan, dan lingkungan. Para ilmuwan dunia menyebut ancaman ini sebagai bom waktu kesehatan global yang perlu segera ditangani secara bersama.
Resistansi antijamur terjadi ketika jamur menjadi kebal terhadap obat yang selama ini digunakan untuk mengendalikannya. Salah satu contoh paling mengkhawatirkan adalah jamur Aspergillus fumigatus. Jamur ini hidup bebas di lingkungan seperti tanah, jerami, pakan ternak, dan udara kandang. Dalam kondisi tertentu, jamur tersebut dapat menyebabkan infeksi serius pada manusia dan hewan, terutama pada individu dengan daya tahan tubuh rendah. Ketika jamur ini menjadi kebal terhadap obat, pilihan pengobatan menjadi sangat terbatas dan risiko kematian meningkat.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Salah satu penyebab utama meningkatnya resistansi antijamur berasal dari sektor pertanian dan peternakan. Petani dan peternak sering menggunakan fungisida untuk melindungi tanaman pakan dan hasil pertanian dari serangan jamur. Penggunaan fungisida yang berlebihan atau tidak tepat sasaran membuat jamur di lingkungan beradaptasi dan akhirnya menjadi kebal. Jamur yang telah kebal ini kemudian menyebar melalui udara, tanah, pakan, dan bahkan rantai pangan, sehingga berdampak langsung pada kesehatan hewan dan manusia.
Masalah ini mendorong para ahli dari berbagai bidang untuk duduk bersama. Pada akhir tahun 2025, para ilmuwan, dokter, ahli kesehatan hewan, peneliti lingkungan, dan pembuat kebijakan di Brasil mengadakan pertemuan nasional. Hasil dari pertemuan tersebut dikenal sebagai Dokumen Botucatu, sebuah seruan bersama untuk bertindak menghadapi resistansi antijamur melalui pendekatan One Health. Pendekatan ini menekankan bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan saling terhubung dan tidak bisa ditangani secara terpisah.

Dalam konteks peternakan, pendekatan One Health mengubah cara pandang kita terhadap penyakit. Kesehatan ternak tidak hanya soal produktivitas, tetapi juga tentang dampaknya terhadap lingkungan sekitar dan kesehatan masyarakat. Jamur yang berkembang di kandang, limbah ternak, atau lahan pertanian bisa menjadi sumber infeksi bagi manusia di luar peternakan. Karena itu, pengendalian jamur tidak boleh hanya mengandalkan obat, tetapi harus melibatkan pengelolaan lingkungan dan sistem produksi yang lebih bijak.
Dokumen Botucatu menyoroti lemahnya sistem pemantauan jamur resisten di banyak negara. Berbeda dengan bakteri, jamur jarang dipantau secara rutin. Data tentang jenis jamur, tingkat resistansi, dan penyebarannya masih sangat terbatas. Padahal tanpa data yang kuat, pemerintah dan pelaku peternakan sulit mengambil keputusan yang tepat. Oleh karena itu, dokumen ini mendorong penguatan laboratorium, peningkatan kapasitas pengujian, dan sistem pelaporan yang transparan.
Bagi sektor peternakan, rekomendasi ini berarti perlunya perubahan cara kerja. Peternak perlu lebih bijak dalam menggunakan fungisida, terutama pada tanaman pakan dan lingkungan kandang. Praktik sanitasi kandang, pengelolaan kelembapan, sirkulasi udara, dan penanganan limbah menjadi kunci penting untuk menekan pertumbuhan jamur. Dengan lingkungan yang lebih sehat, ketergantungan pada bahan kimia dapat dikurangi secara signifikan.
Dokumen ini juga menekankan pentingnya kerja sama lintas sektor. Peternak, dokter hewan, tenaga kesehatan, peneliti, dan pembuat kebijakan harus saling berbagi informasi. Jika terjadi peningkatan kasus infeksi jamur pada hewan, informasi tersebut perlu segera dikaitkan dengan kondisi lingkungan dan pola penggunaan fungisida. Dengan cara ini, tindakan pencegahan dapat dilakukan lebih cepat sebelum dampaknya meluas ke masyarakat.
Aspek komunikasi publik juga menjadi sorotan utama. Banyak peternak belum menyadari bahwa penggunaan fungisida yang tidak terkontrol dapat berdampak pada kesehatan manusia. Edukasi yang jelas dan mudah dipahami menjadi sangat penting. Peternak perlu mengetahui bahwa praktik peternakan yang lebih ramah lingkungan tidak hanya melindungi ternak, tetapi juga melindungi keluarga dan komunitas di sekitarnya.
Selain itu, Dokumen Botucatu mendorong pengembangan kebijakan nasional yang terkoordinasi. Regulasi penggunaan fungisida harus berbasis risiko, bukan hanya berbasis produktivitas. Pemerintah didorong untuk menetapkan standar baru dalam penilaian risiko fungisida, termasuk dampaknya terhadap mikroorganisme lingkungan. Kebijakan ini penting agar sektor peternakan tetap produktif tanpa mengorbankan kesehatan jangka panjang.
Pendekatan One Health juga membuka peluang inovasi di bidang peternakan. Teknologi kandang yang lebih bersih, sistem pakan yang lebih aman, serta pemanfaatan mikroorganisme baik untuk menekan jamur patogen menjadi area penelitian yang menjanjikan. Dengan dukungan kebijakan dan riset, peternakan dapat bertransformasi menjadi sektor yang lebih tangguh menghadapi tantangan kesehatan global.
Dokumen Botucatu pada akhirnya menjadi pengingat kuat bahwa ancaman resistansi antijamur tidak mengenal batas sektor. Apa yang terjadi di lahan pertanian dan peternakan dapat berdampak hingga rumah sakit dan ruang perawatan intensif. Dengan mengadopsi pendekatan One Health, sektor peternakan memiliki peran strategis dalam menjaga kesehatan bersama. Peternakan yang sehat bukan hanya menghasilkan pangan, tetapi juga menjadi benteng penting dalam melindungi manusia dan lingkungan dari krisis kesehatan di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Ceresini, Paulo Cezar dkk. 2026. The Botucatu document: One health antifungal resistance policies—A call for action. One Health, 101319.


