Integrasi Tanaman dan Sapi Potong: Kunci Kesejahteraan Petani di Gorontalo

Peternakan sapi potong dan pertanian pangan seperti jagung dan padi merupakan dua sektor yang sangat penting bagi kesejahteraan masyarakat di banyak daerah Indonesia. Namun, keduanya sering berjalan sendiri-sendiri sehingga manfaatnya belum maksimal. Di Provinsi Gorontalo, tim peneliti mencoba menjawab tantangan tersebut melalui sebuah pendekatan baru. Mereka mengembangkan model integrasi antara tanaman pangan dan sapi potong yang memanfaatkan teknologi serta pengelolaan ekosistem rantai hilir. Tujuannya bukan hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memperkuat struktur sosial masyarakat desa.

Penelitian ini dilakukan oleh M Humalanggi dan rekan-rekannya. Mereka melihat bagaimana integrasi yang dikelola dengan baik dapat mendorong kemajuan ekonomi dan sosial, sekaligus menjaga keseimbangan lingkungan. Pendekatan yang digunakan adalah metode campuran dengan analisis data secara kuantitatif dan didukung informasi kualitatif dari masyarakat. Mereka menilai tidak hanya keuntungan finansial, tetapi juga dampak terhadap hubungan sosial, peningkatan kapasitas, dan tata kelola sumber daya desa.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Integrasi pertanian dan peternakan cukup efektif dalam memperkuat kehidupan sosial masyarakat. Melalui kerja sama dalam kelompok, pemasaran bersama, dan pengembangan produk olahan, hubungan sosial antarpelaku usaha pertanian semakin kuat. Dalam model ini, petani dan peternak tidak lagi bekerja secara individual, melainkan saling melengkapi dalam satu sistem produksi. Limbah tanaman pangan dapat menjadi pakan ternak, dan kotoran ternak dapat kembali ke sawah sebagai pupuk organik. Dengan demikian, tercipta sistem yang saling menguntungkan.

Selain itu, pendapatan masyarakat juga ikut terdorong naik. Peneliti melakukan analisis kelayakan usaha menggunakan perbandingan antara keuntungan dan biaya yang dikenal sebagai rasio R C. Hasilnya, para petani yang mempraktikkan integrasi mencapai nilai R C 2,75. Angka ini menunjukkan bahwa setiap satu rupiah biaya produksi dapat menghasilkan pendapatan sebesar dua koma tujuh puluh lima rupiah. Nilai ini lebih tinggi dibanding petani tanpa integrasi yang hanya mencapai R C 2,09. Walaupun perbedaan statistiknya tidak terlalu signifikan, arah peningkatan ini menjadi bukti bahwa sinergi antara tanaman pangan dan sapi potong memiliki potensi ekonomi yang menjanjikan.

Penelitian ini menggarisbawahi bahwa keberhasilan integrasi tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kerja sama dan kelembagaan yang kuat. Para peneliti menyusun sebuah model pengembangan yang disebut LAMAHU atau Livestock and Agriculture Management for Holistic Utilization. Model ini mendorong pengelolaan pertanian dan peternakan secara terpadu dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan. Pemerintah desa, kelompok tani, koperasi, dan pelaku usaha hilir diajak untuk bekerja dalam sistem rantai nilai yang terhubung.

Dalam model tersebut, pengembangan usaha tidak berhenti pada tingkat produksi. Ada upaya memperkuat ekosistem downstream atau rantai proses setelah panen dan pemeliharaan ternak. Artinya, masyarakat didorong untuk mengolah hasil produksi menjadi barang bernilai lebih tinggi. Contohnya adalah pengolahan daging, hasil padi, maupun produk pupuk organik yang dapat dipasarkan dengan harga lebih baik. Dengan begitu, keuntungan yang diperoleh tidak hanya dinikmati oleh pihak luar, tetapi kembali kepada masyarakat desa sebagai pemilik sumber daya.

Dari sisi sosial, pendekatan integrasi ini terbukti membantu meningkatkan kerjasama antar warga, terutama melalui kelompok usaha dan kemitraan dengan pihak swasta. Keberadaan kelembagaan lokal seperti badan usaha milik desa juga menjadi jembatan penting untuk membangun kepercayaan dan keadilan dalam pembagian manfaat usaha. Walaupun demikian, penelitian ini menemukan bahwa aspek lingkungan para petani belum menjadi prioritas utama. Banyak kelompok masih fokus pada peningkatan pendapatan dan menganggap keberlanjutan lingkungan sebagai hal yang kurang mendesak.

Aspek ekonomi juga masih menjadi tantangan besar. Keterbatasan akses modal, teknologi, dan pasar sering membuat petani kesulitan bertahan dalam persaingan. Hal ini mendorong peneliti merekomendasikan dukungan pemerintah yang lebih kuat terutama dalam penyediaan infrastruktur dan pelatihan teknologi. Pembangunan jalan usaha tani, gudang penyimpanan pakan, pusat pengolahan hasil ternak, serta pemasaran berbasis digital menjadi bagian penting dari strategi keberlanjutan sistem integrasi.

Penelitian ini juga mencatat bahwa adopsi teknologi memegang peran sentral dalam meningkatkan produktivitas. Di antaranya adalah penggunaan pakan fermentasi dari limbah pertanian, seleksi bibit sapi potong yang berkualitas, serta penerapan sistem informasi untuk pemantauan kesehatan ternak. Teknologi sederhana sekalipun dapat memberikan dampak besar apabila disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat setempat dan mudah diterapkan. Di sisi lain, teknologi yang terlalu rumit justru dapat menambah beban jika tidak diikuti dengan pendampingan yang tepat.

Salah satu hal penting yang menjadi sorotan adalah perlunya memperluas akses petani terhadap pasar yang lebih menguntungkan. Selama ini, banyak petani menjual hasil panen dan ternaknya secara individual dengan harga rendah. Model integrasi berbasis komunitas memberikan kekuatan kolektif dalam menentukan harga jual dan menjangkau pasar lebih luas. Dengan pemasaran bersama, biaya distribusi bisa ditekan dan keuntungan dapat dibagi secara adil.

Integrasi tanaman pangan dan sapi potong berbasis teknologi mampu meningkatkan banyak aspek kehidupan masyarakat Gorontalo. Mulai dari pendapatan, hubungan sosial, hingga keberlanjutan sistem pangan lokal. Namun untuk mencapai keberhasilan jangka panjang, diperlukan dukungan berkelanjutan. Pemerintah daerah, lembaga penelitian, sektor swasta, serta masyarakat harus berbagi peran dalam memperkuat sistem ini.

Pengembangan model tidak boleh berhenti pada beberapa desa saja, melainkan perlu diperluas ke wilayah lain dengan menyesuaikan kondisi lokal. Dengan pengelolaan yang tepat, integrasi pertanian dan peternakan bukan hanya menjadi strategi ekonomi, tetapi juga menjadi jalan untuk meningkatkan kesejahteraan sosial dan memperkuat ketahanan pangan daerah.

Harapan ke depan adalah masyarakat Gorontalo dapat menjadi contoh bagi daerah lain di Indonesia. Kerja sama, teknologi tepat guna, dan pemberdayaan komunitas menjadi kunci keberhasilan menuju masa depan pertanian dan peternakan yang lebih maju. Melalui pendekatan ini, pertanian tidak sekadar menjadi pekerjaan, tetapi menjadi fondasi untuk kehidupan yang lebih baik dan berkelanjutan bagi semua.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Humalanggi, M dkk. 2025. Development Model of Food Crop-Beef Cattle Livestock Integration Based on Technology and Ecosystem Downstreamization for Improving Social Structure Communities in Gorontalo Province. Adv. Anim. Vet. Sci 13 (1), 51-63.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top