Ilmu Veteriner Bertemu Kearifan Lokal: Kunci Peternakan Berkelanjutan

Di banyak wilayah pedesaan di dunia, hewan ternak bukan hanya sumber pangan dan penghasilan, tetapi juga bagian dari kehidupan sosial dan budaya masyarakat. Begitu pula di pedesaan Republik Kolombia, negara di Amerika Selatan yang masih mengandalkan peternakan sapi, kambing, dan babi sebagai tulang punggung ekonomi keluarga kecil.

Namun, menjaga kesehatan hewan ternak di wilayah ini bukan perkara mudah. Pemerintah dan lembaga kesehatan hewan sudah menyediakan panduan vaksinasi, standar kandang, hingga program pemeriksaan rutin. Tetapi kenyataannya banyak program tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Sebagian masyarakat tidak menganggap aturan itu penting. Sebagian lainnya bahkan tidak mempercayainya.

Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak

Sebuah penelitian terbaru yang dilakukan di wilayah Huila, Kolombia, membantu menjawab pertanyaan penting ini. Studi tersebut menekankan bahwa keberhasilan peternakan berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh teknologi atau ilmu kesehatan hewan. Cara masyarakat memandang hewan, kebiasaan turun-temurun, serta nilai budaya justru memiliki peran yang sangat besar dalam tata kelola kesehatan ternak.

Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan Sergio Falla-Tapias dan koleganya ini melibatkan lebih dari 260 peternak kecil hingga menengah dari 23 wilayah pedesaan. Pendekatan yang digunakan tidak sekadar survei angka, melainkan wawancara dan diskusi kelompok. Tujuannya menggali cara pandang masyarakat terhadap hewan, kesehatan, dan praktik perawatan yang mereka lakukan.

Hasil penelitian ini memberi gambaran menarik sekaligus membuka mata banyak pihak.

Hewan Ternak Sebagai Anggota Keluarga

Di beberapa desa, hewan ternak diperlakukan seperti bagian dari keluarga. Peternak memiliki ikatan emosional dengan sapinya, seperti memberi nama atau menyuapi langsung ketika sakit. Perawatan ternak juga dipengaruhi oleh kepercayaan tradisional. Misalnya, menganggap penyakit tertentu datang karena “gangguan alam” dan bukan karena bakteri atau virus.

Bagi sebagian orang, menyuntikkan obat atau melakukan prosedur medis modern dianggap sebagai tindakan yang bisa menyakiti hewan secara spiritual. Karena itu, program vaksinasi atau pengobatan oleh petugas kesehatan kadang ditolak.

Pandangan seperti ini bukan hal langka di masyarakat yang menjunjung tinggi budaya leluhur. Namun ketika pandemi penyakit hewan terjadi, konsekuensinya bisa sangat besar. Kerugian ekonomi meningkat, kesejahteraan hewan menurun, dan penularan penyakit antarhewan sulit dihentikan.

Ekonomi Sebagai Penentu Keputusan

Tidak semua masalah bersumber dari keyakinan budaya. Ketika peneliti bertanya mengapa sebagian peternak tidak melakukan vaksinasi atau perawatan kesehatan rutin, jawaban yang muncul lebih sederhana: tidak mampu membayar.

Pendapatan peternak kecil di pedesaan sering tidak menentu. Ketika harus memilih antara membeli vaksin untuk sapi atau membeli makanan bagi keluarga, pilihan biasanya jatuh pada kebutuhan rumah tangga.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan hewan tidak bisa hanya fokus memberikan instruksi teknis. Aspek ekonomi dan keterjangkauan harus menjadi bagian penting di dalamnya.

Pengetahuan Ilmiah Tidak Selalu Mudah Diterima

Studi ini menemukan adanya jarak besar antara bahasa teknis para ahli dengan pemahaman masyarakat di tingkat peternak. Misalnya, konsep seperti biosekuriti, sanitasi kandang, dan deteksi penyakit dini mungkin terdengar biasa bagi ahli kesehatan hewan. Tetapi bagi sebagian peternak, istilah tersebut membingungkan atau dianggap tidak memiliki manfaat langsung.

Komunikasi menjadi tantangan besar. Banyak kebijakan kesehatan hewan dijalankan dari pusat tanpa memperhatikan konteks lokal. Pendekatan seperti ini sering disebut sebagai “top-down”, yaitu instruksi dari atas ke bawah. Ketika masyarakat tidak merasa dilibatkan dalam penyusunan kebijakan, rasa kepemilikan terhadap program menjadi rendah. Akibatnya, tingkat kepatuhan pun menurun.

Kesejahteraan Hewan Dipahami Berbeda-Beda

Para peneliti menemukan ada beragam cara masyarakat memaknai kesejahteraan hewan. Sebagian besar peternak memandang hewan sebagai sumber nafkah yang harus dijaga agar tetap bisa menghasilkan susu atau daging. Namun ada juga perspektif spiritual dan simbolik yang sangat kuat, misalnya keyakinan bahwa hewan juga memiliki hak untuk diperlakukan dengan penuh hormat.

Menariknya, di beberapa komunitas terdapat rasa solidaritas sosial dalam mengurus hewan. Ketika sapi salah satu warga sakit atau mati, tetangga turut membantu karena hal itu dianggap sebagai masalah bersama.

Artinya, prinsip kesejahteraan hewan di lapangan tidak hanya berbasis sains dan ekonomi, tetapi juga solidaritas dan hubungan sosial.

Apa Pelajarannya bagi Dunia?

Penelitian ini memberikan bahan penting bagi negara-negara lain yang sedang mendorong peternakan berkelanjutan:

Pertama, kebijakan kesehatan hewan harus menghargai kearifan lokal. Masyarakat memiliki alasan kuat untuk mempertahankan praktik yang sudah turun-temurun. Jika aturan baru bertentangan secara langsung tanpa kompromi, resistensi akan muncul.

Kedua, dialog antarbudaya sangat dibutuhkan. Penyuluh peternakan, dokter hewan, dan pembuat kebijakan perlu mendengarkan suara peternak sebelum menetapkan program. Edukasi bisa disesuaikan menggunakan bahasa sederhana dan pendekatan yang sensitif budaya.

Ketiga, dukungan ekonomi tidak boleh diabaikan. Program kesehatan hewan yang bagus hanya bisa berhasil jika peternak mampu menjalankannya secara finansial.

Keempat, kesejahteraan hewan harus dilihat sebagai hasil dari kerja sama manusia, budaya, dan teknologi. Bukan semata-mata soal alat dan obat-obatan.

Arah Masa Depan: Peternakan yang Lebih Manusiawi dan Berkelanjutan

Dari penelitian ini, kita belajar bahwa peternakan yang baik tidak hanya soal produktivitas atau keuntungan. Kesehatan dan kesejahteraan hewan harus menjadi bagian utama dalam sistem pangan masa depan.

Untuk itu, ilmu pengetahuan modern perlu merangkul berbagai nilai sosial yang sudah hidup dalam masyarakat. Dengan memahami cara peternak memaknai hewan, kebijakan dapat dibuat lebih inklusif dan lebih mudah diterima.

Di masa depan, pendekatan yang menggabungkan ilmu veteriner, antropologi budaya, dan dukungan ekonomi sangat mungkin menciptakan sistem peternakan yang lebih kuat. Hewan menjadi lebih sehat, peternak lebih sejahtera, dan pangan lebih aman bagi semua.

Kolombia mungkin hanya salah satu negara yang diteliti. Namun pesan dari studi ini berlaku secara universal: jika kita ingin membangun peternakan berkelanjutan, kita harus membangun pemahaman bersama antara sains dan budaya.

Karena pada akhirnya, merawat hewan bukan hanya tugas ilmuwan atau pemerintah. Itu adalah bagian dari kehidupan masyarakat yang penuh nilai dan cerita.

Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput

REFERENSI:

Falla-Tapias, Sergio dkk. 2025. Social Representations of Animal Health and Welfare in Rural Colombia: Implications for Sustainable Livestock Farming. Sustainability 17 (11), 5168.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top