Selama ini ketika berbicara soal peternakan, kita sering membayangkan petani yang mengenali hewan ternaknya satu per satu berdasarkan tanda fisik unik, seperti corak bulu, ukuran tubuh, atau tag telinga yang dipasang khusus. Namun, teknologi berkembang sangat cepat. Kini, ilmuwan tengah mengembangkan cara baru yang jauh lebih canggih untuk mengenali hewan ternak, yaitu melalui identifikasi wajah berbasis kecerdasan buatan.
Sebuah tinjauan ilmiah yang dipublikasikan dalam Journal of Animal Science and Technology tahun 2025 menyoroti tren penelitian terbaru mengenai teknologi pengenalan wajah pada ternak. Studi ini dilakukan oleh peneliti Mun Hye Kang dan Sang Hyon Oh. Mereka menjelaskan bahwa teknologi ini memanfaatkan video dan kecerdasan buatan berbasis Convolutional Neural Network atau CNN. CNN adalah salah satu teknik pembelajaran mendalam yang umumnya digunakan untuk mengenali wajah manusia di kamera ponsel atau sistem keamanan.
Kini, teknologi yang sama mulai diterapkan pada sapi, kambing, babi, bahkan unggas. Tujuannya bukan sekadar gaya modern, tetapi untuk menjawab kebutuhan peternakan masa depan yang lebih presisi, sehat, efisien, dan ramah lingkungan.
Baca juga artikel tentang: Rahasia Protein Air: Menggali Potensi Mikroalga dan Duckweed untuk Ternak
Mengapa Pengenalan Wajah pada Ternak Dibutuhkan
Di banyak negara, hewan ternak diberi penanda khusus untuk membedakan satu sama lain. Tag telinga adalah metode paling umum. Namun metode konvensional ini memiliki sejumlah tantangan. Tag dapat hilang, rusak, atau sengaja dicopot. Selain itu, pemasangan tag bisa menimbulkan stres pada hewan dan memerlukan sentuhan langsung.
Pada skala industri besar, di mana ribuan hewan dipelihara sekaligus, melacak identitas dan kondisi masing masing ternak menjadi pekerjaan yang rumit. Kesalahan pencatatan dapat berdampak pada penanganan kesehatan, program vaksinasi, hingga mutu daging dan susu yang dihasilkan.
Dengan teknologi identifikasi wajah, kamera di kandang dapat mengenali hewan secara otomatis setiap kali mereka lewat. Informasi tentang hewan itu, seperti umur, berat badan, riwayat kesehatan, dan pola makan dapat tercatat secara digital dan tersimpan dalam sistem.
Cara Kerja Teknologi Pengenalan Wajah Ternak
CNN dalam teknologi ini dilatih menggunakan ribuan foto wajah hewan dari berbagai sudut dan kondisi pencahayaan. Komputer kemudian belajar mengenali ciri khusus pada wajah hewan, misalnya bentuk moncong, jarak antara mata, atau kontur dahi.
Ketika kamera memantau hewan di kandang, sistem akan mencocokkan wajah yang terekam dengan database yang telah ada. Tidak diperlukan alat tambahan yang dipasang di tubuh hewan, sehingga tidak menimbulkan rasa sakit maupun stres.
Tidak hanya mengenali identitas hewan, teknologi ini dapat digunakan untuk:
- Mengestimasi pertumbuhan hewan secara otomatis
Kamera dapat mengukur ukuran tubuh dari waktu ke waktu, sehingga peternak mengetahui apakah pertumbuhan berlangsung normal. - Memantau perilaku
Sistem dapat mengamati apakah hewan menunjukkan tanda stres, agresif, atau sakit dari perubahan perilakunya. - Deteksi penyakit lebih cepat
Hewan yang sakit biasanya kurang aktif atau perubahan pada ekspresi wajah. Teknologi dapat mengenali sinyal awal sebelum peternak melihat perubahan nyata. - Manajemen pakan yang lebih tepat
Kamera dapat mendeteksi berapa banyak hewan makan, sehingga pakan bisa diberikan sesuai kebutuhan individu.

Manfaat untuk Kesejahteraan Hewan dan Lingkungan
Penelitian menunjukkan bahwa teknologi ini mampu meningkatkan kesejahteraan hewan secara signifikan. Hewan tidak perlu disentuh atau ditangkap untuk pemeriksaan. Semua dilakukan secara otomatis dan nonkontak.
Teknologi ini juga membantu mengurangi penggunaan antibiotik yang tidak perlu. Seringkali peternak memberikan obat untuk seluruh kelompok hewan karena sulit mengetahui siapa yang sakit lebih dulu. Dengan pemantauan detail, pengobatan bisa lebih tepat sasaran.
Dampak positif lainnya adalah lebih efisien dalam penggunaan pakan dan ruang. Hewan yang terpantau kesehatannya dengan baik akan tumbuh optimal, sehingga produksi daging dan susu meningkat. Efisiensi ini berkontribusi pada penurunan emisi dan limbah peternakan.
Dengan kata lain, teknologi ini mendukung keberlanjutan industri peternakan. Kepedulian terhadap hewan dan lingkungan menjadi lebih terukur dan terimplementasi dalam kegiatan sehari hari.
Perkembangan Teknologi yang Mendorong Perubahan
Sistem monitoring ternak awalnya berbasis sensor yang ditempel di tubuh hewan. Kini teknologi video dan kamera yang lebih murah dan berkualitas tinggi mulai menggantikan metode tersebut.
Kecerdasan buatan yang semakin cepat dan akurat memungkinkan analisis data secara real time. Sistem dapat memberikan peringatan dini kepada peternak melalui telepon genggam jika ada hewan yang menunjukkan gejala tidak normal.
Selain itu, tren digitalisasi data peternakan memungkinkan seluruh riwayat hewan dicatat sejak lahir hingga dipasarkan. Konsumen bisa lebih percaya pada keamanan pangan karena jejak kualitas hewan dapat dipertanggungjawabkan.
Tantangan yang Masih Harus Diatasi
Walaupun menjanjikan, teknologi ini masih menghadapi beberapa kendala.
- Kondisi lingkungan yang tidak menentu
Cahaya redup atau kotoran yang menempel pada wajah hewan dapat mengurangi akurasi sistem. - Perbedaan ras dan spesies
Setiap spesies memiliki bentuk wajah yang sangat beragam sehingga membutuhkan database khusus yang lebih luas. - Biaya instalasi awal
Peternak kecil mungkin membutuhkan dukungan teknologi agar mampu mengadopsi sistem ini. - Keamanan data
Informasi digital harus dilindungi agar tidak disalahgunakan.
Namun, para peneliti optimistis tantangan tersebut akan teratasi seiring perkembangan teknologi kamera, kecerdasan buatan, dan sistem penyimpanan data.
Masa Depan Peternakan yang Lebih Cerdas
Dengan dunia yang semakin terdigitalisasi, peternakan tidak lagi hanya mengandalkan keterampilan manual. Data menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan. Teknologi pengenalan wajah ternak adalah salah satu inovasi yang membawa peternakan menuju era baru yang lebih presisi dan bertanggung jawab.
Bayangkan peternak yang bisa mengetahui kondisi setiap hewan tanpa harus selalu berada di lokasi. Bayangkan daging dan susu yang sampai di rumah konsumen dilengkapi riwayat lengkap kesehatan hewan yang memproduksinya. Semua ini bukan lagi angan angan, tetapi sedang berkembang dan akan semakin luas diterapkan.
Kesimpulannya, teknologi identifikasi wajah berbasis kecerdasan buatan bukan hanya memudahkan peternak, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan hewan, keamanan pangan, serta keberlanjutan lingkungan. Penelitian yang terus berkembang menunjukkan bahwa inovasi ini akan menjadi salah satu pilar utama dalam sistem peternakan masa depan.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Kuda Memilih Rumput Tertentu? Sains di Balik Perilaku Merumput
REFERENSI:
Kang, Mun-Hye & Oh, Sang-Hyon. 2025. Research trends in livestock facial identification: a review. Journal of Animal Science and Technology 67 (1), 43.


