Dunia saat ini masih sangat bergantung pada gas alam untuk memenuhi kebutuhan energi rumah tangga dan industri. Gas alam dipakai untuk memasak, pemanas ruangan, pembangkit listrik, hingga proses industri. Masalahnya, gas alam berasal dari fosil dan menyumbang emisi karbon dioksida yang mempercepat perubahan iklim. Ketika banyak negara berkomitmen mencapai target Net Zero Emission, muncul pertanyaan besar: apakah kita bisa mengurangi emisi tanpa harus membangun ulang seluruh sistem energi yang sudah ada?
Salah satu jawabannya datang dari biomethane, gas terbarukan yang bisa diproduksi dari limbah organik melalui proses yang disebut anaerobic digestion. Teknologi ini menawarkan pendekatan yang menarik karena tidak hanya menghasilkan energi bersih, tetapi juga membantu mengelola limbah pertanian, peternakan, dan perkotaan.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Anaerobic digestion atau sering disingkat AD adalah proses penguraian bahan organik oleh mikroorganisme dalam kondisi tanpa oksigen. Proses ini mirip dengan apa yang terjadi secara alami di rawa atau di dalam perut hewan ruminansia seperti sapi. Limbah organik seperti kotoran ternak, sisa makanan, limbah pertanian, dan lumpur instalasi pengolahan air limbah dimasukkan ke dalam reaktor tertutup. Mikroba kemudian menguraikannya dan menghasilkan biogas.
Biogas ini terutama terdiri dari metana dan karbon dioksida. Jika biogas dimurnikan sehingga kandungan metananya tinggi dan memenuhi standar jaringan gas, hasilnya disebut biomethane. Biomethane secara kimia sangat mirip dengan gas alam, sehingga bisa langsung disalurkan ke jaringan gas yang sudah ada tanpa perubahan besar pada infrastruktur.

Penelitian terbaru memodelkan potensi teknis biomethane dari anaerobic digestion untuk membantu mendekarbonisasi jaringan gas, khususnya dengan studi kasus di Inggris. Tujuan utama penelitian ini adalah menjawab pertanyaan realistis: seberapa besar biomethane benar benar bisa menggantikan gas alam, jika semua keterbatasan teknis diperhitungkan?
Selama ini, banyak studi hanya menghitung potensi teoritis biomethane, seolah semua limbah bisa dikumpulkan dan diolah dengan efisiensi sempurna. Penelitian ini mengambil pendekatan yang lebih membumi. Para peneliti memasukkan berbagai keterbatasan teknis seperti efisiensi reaktor, kehilangan energi dalam proses pemurnian, keterbatasan pengumpulan limbah, serta kebutuhan energi tambahan untuk menjalankan sistem.
Hasilnya cukup membuka mata. Biomethane dari anaerobic digestion ternyata hanya mampu menggantikan sekitar lima persen dari total permintaan gas alam domestik saat ini di Inggris. Angka ini jauh lebih kecil dibandingkan klaim optimistis yang sering muncul dalam diskusi publik tentang energi terbarukan.
Namun, temuan ini tidak berarti biomethane gagal atau tidak berguna. Justru sebaliknya, penelitian ini membantu kita memahami peran biomethane secara lebih tepat dan strategis.
Salah satu pesan penting dari penelitian ini adalah bahwa biomethane sebaiknya tidak dipandang sebagai pengganti total gas alam, melainkan sebagai solusi pelengkap untuk sektor sektor tertentu. Ada beberapa penggunaan gas yang sangat sulit didekarbonisasi dengan teknologi lain, misalnya proses industri bersuhu tinggi atau sistem pemanas tertentu yang tidak mudah dialihkan ke listrik.
Dalam konteks inilah biomethane menjadi sangat berharga. Meski jumlahnya terbatas, biomethane bisa diarahkan ke aplikasi yang benar benar membutuhkan molekul gas, bukan sekadar energi listrik. Dengan strategi ini, manfaat iklim dari biomethane menjadi jauh lebih besar dibandingkan jika digunakan secara acak.
Selain menghasilkan energi, anaerobic digestion juga menghasilkan produk samping yang disebut digestate. Digestate adalah sisa bahan organik yang kaya nutrisi dan dapat digunakan sebagai pupuk. Penelitian ini juga memodelkan jumlah digestate yang dihasilkan bersamaan dengan biomethane. Ini penting karena digestate bisa menggantikan pupuk kimia, yang proses produksinya juga menghasilkan emisi karbon tinggi.
Dengan kata lain, manfaat anaerobic digestion tidak hanya datang dari energi yang dihasilkan, tetapi juga dari pengurangan emisi di sektor pertanian. Limbah yang sebelumnya menjadi sumber polusi bau dan air kini berubah menjadi sumber energi dan nutrisi tanah.
Penelitian ini juga menekankan bahwa kebijakan publik memainkan peran kunci dalam menentukan keberhasilan biomethane. Karena potensi biomethane terbatas, kebijakan sebaiknya fokus pada pemanfaatan limbah yang sudah ada, bukan mendorong produksi bahan baku khusus yang bisa bersaing dengan pangan atau merusak lingkungan.
Pendekatan berbasis limbah ini sejalan dengan konsep ekonomi sirkular, di mana sisa dari satu aktivitas menjadi bahan baku bagi aktivitas lain. Dalam hal ini, limbah makanan, kotoran ternak, dan residu pertanian tidak lagi dipandang sebagai masalah, melainkan sebagai aset energi.
Bagi sektor peternakan, temuan ini sangat relevan. Peternakan sering dituding sebagai sumber emisi gas rumah kaca, terutama metana dari kotoran dan fermentasi enterik. Dengan teknologi anaerobic digestion, sebagian emisi tersebut bisa ditangkap dan dimanfaatkan sebagai energi, sehingga jejak karbon peternakan berkurang secara signifikan.
Namun, penelitian ini juga secara jujur menunjukkan bahwa anaerobic digestion bukan solusi ajaib. Investasi awal, kebutuhan lahan, keahlian operasional, dan koneksi ke jaringan gas tetap menjadi tantangan nyata. Oleh karena itu, pengembangan biomethane perlu diprioritaskan di lokasi lokasi yang paling masuk akal secara teknis dan ekonomi.
Kesimpulan utama dari penelitian ini sederhana namun penting. Biomethane dari anaerobic digestion memiliki peran nyata dalam transisi energi menuju Net Zero, tetapi perannya terbatas. Biomethane tidak akan menggantikan gas alam sepenuhnya, namun dapat memberikan kontribusi strategis yang signifikan jika digunakan secara tepat sasaran.
Dengan pemodelan yang realistis, penelitian ini membantu pembuat kebijakan, pelaku industri, dan masyarakat memahami apa yang bisa dan tidak bisa diharapkan dari biomethane. Di tengah urgensi krisis iklim, kejujuran ilmiah seperti ini sangat dibutuhkan agar transisi energi berjalan efektif, adil, dan berbasis bukti.
Alih alih mencari satu solusi tunggal, masa depan energi kemungkinan besar akan dibangun dari kombinasi berbagai teknologi. Dalam mozaik besar tersebut, biomethane dari anaerobic digestion mungkin hanya satu keping kecil, tetapi keping ini memiliki nilai strategis yang tidak tergantikan, terutama dalam mengubah limbah menjadi sumber daya dan mengurangi emisi di sektor yang sulit disentuh oleh solusi lain.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Hurst, Camilla F & Allwood, Julian M. 2026. Modelling the technical production potential of biomethane from anaerobic digestion to decarbonise the gas grid. Energy Policy 210, 115041.


