Peternakan modern, terutama peternakan intensif, memiliki satu persoalan besar yang sering diabaikan: kotoran ternak. Setiap tahun, jutaan ton kotoran dihasilkan oleh sapi, ayam, kambing, dan hewan ternak lainnya. Masalahnya, limbah ini tidak hanya menimbulkan bau tak sedap, tapi juga menjadi sumber pencemar lingkungan. Gas metana (CH₄) dan karbon dioksida (CO₂) dari kotoran ternak berkontribusi besar terhadap pemanasan global.
Selama ini, pengelolaan kotoran ternak biasanya dilakukan dengan cara kompos, pengolahan biologis, atau biogas melalui digester anaerobik. Cara-cara tersebut memang bermanfaat, tetapi sering kali kurang efisien dalam memanfaatkan karbon, sehingga emisi gas rumah kaca tetap tinggi.
Di sinilah muncul sebuah gagasan baru: bagaimana jika kotoran ternak bisa “diubah” menjadi energi sekaligus mengurangi jejak karbon?
Baca juga artikel tentang: Domestikasi Wader: Menjaga Keanekaragaman, Menambah Penghasilan
Teknologi Pirolisis: Membakar Tanpa Oksigen
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Science of The Total Environment (2025) menawarkan solusi menarik: pirolisis berbantuan CO₂.
Apa itu pirolisis?
Pirolisis adalah proses pemanasan bahan organik pada suhu tinggi, tanpa adanya oksigen. Alih-alih terbakar menjadi abu, bahan tersebut akan terurai menjadi gas, minyak, dan padatan arang (biochar). Pada kasus kotoran ternak, hasil utamanya adalah syngas (gas sintetis) yang kaya energi dan bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar alternatif.
Namun, para peneliti tidak hanya menggunakan pirolisis biasa. Mereka menambahkan gas CO₂ ke dalam proses ini. Tujuannya bukan hanya untuk mempercepat reaksi, tetapi juga memanfaatkan kembali CO₂ sebagai oksidator parsial. Hasilnya, produksi gas karbon monoksida (CO) meningkat, sehingga syngas yang dihasilkan menjadi lebih “kaya energi”.
Kenapa Fokus pada Kotoran Ayam?
Dalam penelitian ini, para peneliti menggunakan kotoran ayam sebagai bahan utama. Alasannya cukup menarik: dibandingkan dengan kotoran sapi atau kambing, kotoran ayam mengandung lebih banyak kalsium karbonat (CaCO₃). Zat ini punya sifat unik yang dapat melepaskan CO₂ ketika dipanaskan, lalu berperan dalam mempercepat reaksi kimia pirolisis.
Artinya, kotoran ayam bukan hanya limbah, tapi juga bisa jadi “katalis alami” untuk menghasilkan energi.
Hasil yang Mengejutkan
Proses pirolisis berbantuan CO₂ pada kotoran ayam terbukti:
- Menghasilkan syngas berkualitas tinggi, kaya akan karbon monoksida (CO) dan hidrogen (H₂), yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar.
- Mengurangi jejak karbon secara signifikan, karena CO₂ yang biasanya terbuang justru dimanfaatkan dalam proses.
- Berpotensi mengurangi 934,67 juta ton CO₂ per tahun jika diterapkan secara global. Angka ini sangat besar, setara dengan memangkas emisi tahunan dari ratusan juta mobil!

Jika teknologi ini diterapkan secara luas, dampaknya bisa sangat besar, bukan hanya untuk lingkungan tetapi juga untuk dunia peternakan:
- Mengurangi Limbah dan Polusi
Kotoran ayam yang biasanya hanya jadi masalah kini bisa diolah menjadi sesuatu yang berguna. Bau berkurang, pencemaran air tanah bisa ditekan, dan emisi gas rumah kaca berkurang drastis. - Menghasilkan Energi Murah
Syngas hasil pirolisis bisa dipakai sebagai bahan bakar untuk pemanas, pembangkit listrik skala kecil, bahkan untuk keperluan industri. Dengan begitu, peternak bisa menghemat biaya energi atau bahkan menjual energi ke pihak lain. - Produk Samping yang Bernilai
Selain gas, pirolisis juga menghasilkan biochar (arang hayati) yang bisa dipakai sebagai pupuk tanah atau bahan bakar padat. Jadi, tidak ada yang benar-benar terbuang.
Tantangan Penerapan
Meski hasil penelitian ini menjanjikan, ada beberapa tantangan yang perlu dipikirkan:
- Teknologi dan Biaya Awal
Peralatan pirolisis masih tergolong mahal dan rumit untuk skala peternak kecil. Diperlukan dukungan pemerintah atau swasta agar teknologi ini bisa diakses lebih luas. - Efisiensi Skala Industri
Penelitian masih dilakukan pada skala laboratorium. Untuk diterapkan secara global, perlu uji coba skala besar agar hasilnya konsisten dan ekonomis. - Regulasi dan Kebijakan
Dukungan regulasi sangat penting. Misalnya, insentif bagi peternak yang mau mengolah limbah dengan teknologi rendah karbon, atau subsidi bagi investasi peralatan.
Peternakan Masa Depan: Ramah Lingkungan dan Mandiri Energi
Bayangkan sebuah peternakan ayam modern di masa depan. Kotoran ayam tidak lagi menumpuk dan mencemari lingkungan. Sebaliknya, limbah tersebut masuk ke dalam mesin pirolisis, diolah menjadi energi yang bisa menyalakan lampu kandang, memanaskan air, atau bahkan menyuplai listrik untuk desa sekitar.
Dengan begitu, peternakan bukan hanya menghasilkan daging dan telur, tetapi juga energi bersih. Satu langkah kecil untuk peternak, tapi langkah besar untuk bumi.
Penelitian tentang pirolisis berbantuan CO₂ pada kotoran ayam membuka jalan baru dalam mengelola limbah peternakan. Dengan teknologi ini, kita tidak hanya menyelesaikan masalah pencemaran, tapi juga ikut berkontribusi mengurangi emisi karbon global.
Kotoran ayam yang dulu dianggap masalah ternyata bisa jadi harta karun energi. Tantangan terbesar adalah bagaimana membuat teknologi ini terjangkau dan bisa diadopsi oleh banyak peternak, dari skala kecil hingga besar.
Jika berhasil, bukan tidak mungkin di masa depan peternakan ayam akan dikenal bukan hanya sebagai sumber pangan, tetapi juga sebagai penyumbang energi bersih dunia.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
REFERENSI:
Kim, Seungwon dkk. 2025. Suppression of carbon footprint through the CO2-assisted pyrolysis of livestock waste. Science of The Total Environment 964, 178615.


