Dalam usaha budidaya udang, petambak sering kali dihadapkan pada satu pertanyaan penting: seberapa sering sebenarnya udang harus diberi makan setiap harinya? Sekilas, pertanyaan ini terdengar sederhana—tinggal memberikan pakan hingga udang terlihat kenyang. Namun, kenyataannya jauh lebih rumit.
Frekuensi pemberian pakan bukan hanya soal memastikan udang tidak kelaparan. Cara kita memberi makan akan memengaruhi laju pertumbuhan udang, kesehatan tubuhnya, dan juga efisiensi biaya produksi di tambak. Bahkan, jika pakan tidak diberikan dengan bijak, bisa menimbulkan masalah lingkungan.
Misalnya, ketika pakan diberikan terlalu banyak atau terlalu sering tanpa perhitungan, sebagian pakan akan terbuang sia-sia dan mengendap di dasar kolam. Endapan ini kemudian bisa membusuk, menghasilkan gas beracun, menurunkan kualitas air, dan pada akhirnya mengganggu kesehatan udang. Sebaliknya, jika pakan terlalu sedikit, udang tidak akan tumbuh maksimal, sehingga waktu panen jadi lebih lama dan keuntungan berkurang.
Jadi, menentukan frekuensi pemberian pakan yang tepat adalah kunci keseimbangan: udang tumbuh sehat dan cepat, biaya pakan lebih hemat, serta lingkungan kolam tetap terjaga.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Animals (2025) mencoba menjawab pertanyaan ini dengan meneliti Litopenaeus vannamei, atau yang lebih dikenal sebagai udang vaname. Spesies ini adalah primadona di dunia akuakultur karena pertumbuhannya cepat, relatif tahan penyakit, dan sangat diminati pasar internasional.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
Mengapa Frekuensi Pakan Itu Penting?
Dalam budidaya intensif, pakan adalah biaya terbesar, bisa mencapai 50–70% dari total biaya produksi. Jika pakan diberikan terlalu sedikit, udang akan kekurangan nutrisi dan pertumbuhannya melambat. Sebaliknya, jika terlalu sering atau terlalu banyak, pakan bisa terbuang, mencemari air, dan meningkatkan biaya operasional.
Selain itu, sistem pencernaan udang berbeda dengan ikan atau ternak darat. Udang tidak memiliki perut besar untuk menyimpan makanan, sehingga mereka cenderung makan sedikit tetapi sering. Maka, mencari frekuensi pemberian pakan yang ideal menjadi kunci penting untuk memaksimalkan hasil budidaya.
Percobaan: Uji 6 Hingga 12 Kali Pemberian Pakan
Dalam penelitian ini, para ilmuwan membandingkan enam kelompok udang vaname dengan frekuensi pemberian pakan berbeda menggunakan automatic feeder (mesin pemberi pakan otomatis). Kelompok tersebut adalah:
- A6 → diberi makan 6 kali/hari
- A8 → 8 kali/hari
- A10 → 10 kali/hari
- A12 → 12 kali/hari
- M6 → kelompok kontrol, diberi makan manual 6 kali/hari
Percobaan berlangsung selama 63 hari, melibatkan udang dengan bobot awal sekitar 3,8 gram. Peneliti kemudian memantau pertumbuhan, pemanfaatan pakan, kesehatan sistem pencernaan, kapasitas antioksidan, dan keuntungan ekonomi.
Hasil: 6–8 Kali Sehari Jadi Pilihan Terbaik
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan otomatis 6–8 kali sehari memberikan hasil terbaik. Udang pada kelompok A6 dan A8 tumbuh lebih cepat, lebih efisien dalam memanfaatkan pakan, serta menunjukkan kondisi kesehatan yang lebih baik dibanding kelompok lain.
Secara khusus, kelompok A8 (8 kali/hari) menunjukkan profitabilitas tertinggi. Artinya, meskipun biaya operasional bertambah sedikit karena frekuensi pakan lebih tinggi dibanding manual, keuntungan bersih tetap lebih besar karena pertumbuhan udang lebih cepat dan hasil panen lebih tinggi.

Menariknya, penelitian ini juga menyoroti hubungan antara frekuensi pakan dan sistem pertahanan tubuh udang. Udang yang diberi makan 6–8 kali sehari memiliki kadar enzim antioksidan lebih tinggi, seperti superoksida dismutase (SOD) dan glutathione peroxidase (GPx).
Apa artinya? Enzim ini berfungsi melawan radikal bebas, molekul berbahaya yang bisa merusak sel dan jaringan. Dengan kadar antioksidan yang tinggi, udang lebih tahan terhadap stres, penyakit, dan kondisi lingkungan yang kurang ideal.
Selain itu, kadar MDA (malondialdehyde)—penanda kerusakan akibat oksidasi lemak—lebih rendah pada kelompok A6 dan A8. Ini menunjukkan bahwa pakan dengan frekuensi tepat tidak hanya mempercepat pertumbuhan, tetapi juga membuat tubuh udang lebih sehat.
Teknologi Automatic Feeder: Efisiensi Tenaga dan Waktu
Pemberian pakan manual enam kali sehari jelas membutuhkan banyak tenaga kerja dan waktu. Dalam skala tambak besar, ini menjadi tantangan besar bagi petani. Kehadiran automatic feeder menjadi solusi praktis.
Alat ini memungkinkan pakan diberikan secara teratur dengan jumlah yang konsisten, mengurangi risiko pakan berlebih atau kurang. Selain itu, mesin bisa diatur untuk frekuensi tinggi (hingga 12 kali sehari) tanpa menambah beban kerja manusia.
Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa tidak perlu hingga 12 kali sehari. Justru, 6–8 kali sudah cukup optimal untuk mendukung pertumbuhan dan kesehatan udang. Dengan kata lain, teknologi feeder membuat sistem lebih efisien, tetapi strategi penggunaannya tetap harus didasarkan pada riset ilmiah.
Dampak Ekonomi bagi Petani Udang
Bagi petambak, keuntungan adalah faktor utama. Penelitian ini memberikan kabar baik: dengan frekuensi 8 kali sehari, rasio konversi pakan (FCR) menjadi lebih baik, artinya lebih sedikit pakan yang diperlukan untuk menghasilkan bobot udang yang lebih besar.
Hasilnya, biaya produksi menurun dan margin keuntungan meningkat. Jika sebelumnya banyak petambak ragu untuk berinvestasi pada automatic feeder karena dianggap mahal, hasil penelitian ini bisa menjadi bukti bahwa investasi tersebut layak.

Selain aspek ekonomi dan kesehatan udang, ada juga dampak lingkungan yang positif. Pemberian pakan dengan frekuensi optimal berarti pakan yang tidak termakan lebih sedikit. Artinya, pencemaran air tambak berkurang, kualitas air lebih terjaga, dan risiko penyakit menurun.
Dalam jangka panjang, ini mendukung praktik akuakultur yang lebih berkelanjutan dan ramah lingkungan, sesuai dengan tuntutan konsumen global yang kini semakin peduli terhadap sustainability.
Penelitian ini mengajarkan bahwa strategi pemberian pakan jauh lebih kompleks daripada sekadar “membuat udang kenyang”. Frekuensi pakan yang tepat terbukti mampu meningkatkan pertumbuhan, memperkuat sistem pertahanan tubuh udang, menekan biaya produksi, sekaligus mengurangi dampak lingkungan.
Bagi petambak udang vaname, jawabannya kini semakin jelas: beri makan 6–8 kali sehari dengan bantuan automatic feeder. Dengan langkah sederhana ini, produktivitas bisa meningkat pesat, keuntungan lebih besar, dan usaha budidaya udang semakin berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Domestikasi Wader: Menjaga Keanekaragaman, Menambah Penghasilan
REFERENSI:
Liang, Qinlang dkk. 2025. Impact of Feeding Frequency on Growth Performance and Antioxidant Capacity of Litopenaeus vannamei in Recirculating Aquaculture Systems. Animals 15 (2), 192.


