Ketika kita membayangkan udang makan, mungkin yang terpikir adalah gerakan kecil mulutnya yang sibuk menggigit pakan. Namun, tahukah Anda bahwa udang sebenarnya mengeluarkan suara saat makan? Suara itu berupa bunyi “klik” kecil yang berasal dari rahang udang (mandibula) ketika menghancurkan pakan. Suara ini sangat halus, tidak terdengar oleh telinga manusia, tapi bisa ditangkap oleh alat khusus.
Fenomena inilah yang melahirkan sebuah teknologi baru bernama Passive Acoustic Monitoring (PAM). Teknologi ini memanfaatkan mikrofon bawah air (hydrophone) untuk merekam suara-suara makan udang. Dengan mendengarkan dan menganalisis pola bunyi tersebut, peneliti dapat mengetahui seberapa aktif udang makan, berapa banyak pakan yang dikonsumsi, hingga apakah pakan yang diberikan sesuai kebutuhan mereka.
Baca juga artikel tentang: Domestikasi Wader: Menjaga Keanekaragaman, Menambah Penghasilan
Masalah Klasik: Pakan dan Efisiensi
Dalam budidaya udang, biaya pakan bisa mencapai 50–70% dari total biaya produksi. Karena itu, memberi pakan secara tepat menjadi kunci utama untuk keberhasilan usaha tambak. Sayangnya, petambak sering menghadapi dilema: jika pakan terlalu banyak, sisanya menumpuk di dasar tambak, menurunkan kualitas air, memicu penyakit, dan menambah biaya. Sebaliknya, jika pakan terlalu sedikit, udang kekurangan nutrisi sehingga pertumbuhannya terhambat.
Metode tradisional biasanya mengandalkan perkiraan kasar atau observasi visual, seperti melihat apakah udang masih berkumpul di sekitar pakan. Namun, cara ini tidak selalu akurat, apalagi dalam skala tambak besar atau ketika air keruh. Inilah yang membuat teknologi PAM menjadi terobosan penting.

Bagaimana PAM Bekerja?
Prinsip kerja PAM sebenarnya sederhana, tapi cerdas. Alat ini merekam suara di dalam air, lalu perangkat lunak menganalisis frekuensi dan intensitas bunyi “klik” yang dihasilkan udang saat makan. Dari pola suara itu, ilmuwan bisa:
- Mengidentifikasi spesies udang – karena tiap jenis udang punya karakteristik suara yang berbeda.
- Mengukur intensitas makan – semakin banyak suara klik, semakin aktif udang makan.
- Menganalisis kondisi lingkungan – ukuran udang, kepadatan tebar, bahkan tekstur pakan bisa memengaruhi suara makan.
Bayangkan seperti “Fitbit” untuk udang: bukan menghitung langkah, tapi menghitung bunyi kunyahan. Dengan data ini, petambak bisa tahu kapan waktu terbaik memberi pakan, seberapa banyak, dan dalam bentuk apa (butiran besar, kecil, atau tekstur tertentu).
Hasil Penelitian: Dari Laboratorium ke Tambak
Kajian terbaru yang dipublikasikan di Reviews in Aquaculture (2025) oleh Silvio Peixoto dan Roberta Soares menyoroti berbagai kemajuan penggunaan PAM dalam riset udang.
- Di laboratorium, PAM membantu peneliti mempelajari perilaku makan udang dalam kondisi terkontrol. Misalnya, bagaimana perbedaan ukuran udang memengaruhi suara kunyahan, atau bagaimana jenis pakan tertentu (pelet keras vs lunak) menghasilkan pola bunyi berbeda.
- Di lapangan (tambak), PAM mulai diuji untuk aplikasi nyata. Alat ini memungkinkan petambak memantau aktivitas makan tanpa harus selalu mengandalkan observasi manual. Artinya, pemberian pakan bisa lebih presisi, mengurangi pemborosan, sekaligus menjaga kualitas air.

Penelitian ini juga menunjukkan bahwa suara makan udang dipengaruhi banyak faktor, termasuk kepadatan tebar (stocking density), formulasi pakan, hingga bahan tambahan yang digunakan. Dengan kata lain, PAM bukan hanya berguna untuk menentukan jumlah pakan, tetapi juga bisa dipakai sebagai alat evaluasi kualitas pakan itu sendiri.
Manfaat Besar untuk Petambak dan Lingkungan
Penerapan PAM membawa beberapa keuntungan nyata:
- Efisiensi biaya pakan – Dengan mengetahui kapan udang benar-benar lapar, petambak bisa mengurangi pakan berlebih.
- Pertumbuhan lebih optimal – Udang yang mendapat pakan sesuai kebutuhan akan tumbuh lebih cepat dan sehat.
- Lingkungan tambak lebih bersih – Sisa pakan yang menumpuk di dasar kolam bisa menyebabkan amonia tinggi dan memicu penyakit. Dengan pakan yang lebih tepat, risiko ini berkurang.
- Data akurat untuk manajemen – PAM memberikan informasi real-time yang bisa dipakai untuk mengatur jadwal pemberian pakan secara otomatis.
Dari sisi keberlanjutan, teknologi ini juga membantu mengurangi jejak lingkungan budidaya udang, yang sering dikritik karena menghasilkan limbah berlebih.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski menjanjikan, penerapan PAM masih menghadapi beberapa kendala. Misalnya, alat perekam suara bawah air masih relatif mahal bagi sebagian petambak kecil. Selain itu, interpretasi data akustik membutuhkan perangkat lunak canggih dan keterampilan teknis.
Ada juga tantangan teknis lain, seperti membedakan suara udang dari kebisingan lingkungan (misalnya pompa aerator atau suara hewan lain di tambak). Peneliti masih terus mengembangkan algoritme yang lebih baik untuk memilah suara-suara tersebut.
Masa Depan: Tambak Pintar Berbasis Suara
Ke depan, PAM bisa menjadi bagian dari sistem “smart aquaculture”, yaitu budidaya yang memanfaatkan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Bayangkan sebuah tambak di mana sensor suara bekerja bersama kamera bawah air, sensor oksigen, dan alat pemantau kualitas air. Semua data ini dianalisis secara otomatis, lalu memberi rekomendasi atau bahkan langsung mengatur pemberian pakan melalui feeder otomatis.
Dengan cara ini, petambak tidak hanya menghemat biaya, tetapi juga meningkatkan produktivitas secara berkelanjutan. Bahkan, teknologi ini berpotensi dikombinasikan dengan aplikasi smartphone, sehingga petambak bisa memantau kondisi udang dari jarak jauh.
Mendengarkan suara udang mungkin terdengar seperti ide aneh, tapi kenyataannya inilah masa depan budidaya modern. Passive Acoustic Monitoring (PAM) membuka cara baru dalam memahami perilaku makan udang, yang selama ini sulit dipantau secara langsung. Dari laboratorium hingga tambak, teknologi ini menunjukkan potensi besar untuk membuat budidaya lebih efisien, ramah lingkungan, dan menguntungkan.
Seiring perkembangan teknologi yang semakin murah dan mudah diakses, bukan mustahil suatu hari nanti suara “klik” kecil udang akan menjadi panduan utama bagi petambak dalam memberi pakan. Dengan begitu, pertanyaan klasik “berapa banyak pakan yang harus diberikan?” akhirnya bisa dijawab dengan lebih pasti, berdasarkan suara udang itu sendiri.
Baca juga artikel tentang: Tetrastigma, Herbal Ajaib yang Bisa Bikin Ayam Tumbuh Lebih Optimal
REFERENSI:
Peixoto, Silvio & Soares, Roberta. 2025. Recent Advances and Applications of Passive Acoustic Monitoring in Assessing Shrimp Feeding Behaviour Under Laboratory and Farm Conditions. Reviews in Aquaculture 17 (1), e12978.


