Di banyak wilayah dunia, peternakan sapi perah sering kali dikaitkan dengan dua hal: sumber pangan bergizi berupa susu dan produk olahannya, tetapi juga penyumbang gas rumah kaca yang berdampak buruk bagi iklim. Pertanyaannya, mungkinkah ada cara agar sapi bisa tetap menghasilkan susu berkualitas tinggi tanpa merusak lingkungan?
Jawaban menarik datang dari sebuah penelitian terbaru di wilayah Amazon-Andes, Kolombia. Para peneliti meneliti sistem silvopastura, yaitu model peternakan yang menggabungkan sapi, pohon, dan pagar hidup dalam satu lahan. Hasilnya, sistem ini tidak hanya meningkatkan hasil susu, tetapi juga mampu menyerap karbon lebih banyak, sehingga berkontribusi pada penanggulangan perubahan iklim.

Baca juga artikel tentang: Silase: Solusi Pakan Ternak Masa Depan untuk Menyongsong Kemandirian Pangan
Apa Itu Sistem Silvopastura?
Silvopastura berasal dari kata silvo (hutan/pohon) dan pastura (padang rumput). Artinya, padang penggembalaan sapi tidak dibiarkan polos, tetapi ditanami pepohonan, pagar hidup, atau hutan kecil di sekitarnya.
Manfaatnya banyak:
- Pohon memberi naungan untuk sapi, sehingga sapi lebih nyaman dan sehat.
- Daun dan buah bisa jadi pakan tambahan alami.
- Akar pohon menjaga tanah tetap subur dan menyimpan karbon di dalam tanah.
- Keanekaragaman hayati di sekitar lahan meningkat, mulai dari serangga hingga burung.
Dengan kata lain, silvopastura mencoba menjawab tantangan: bagaimana menyeimbangkan kebutuhan manusia akan susu dengan kebutuhan bumi untuk tetap lestari.
Riset di Wilayah Amazon-Andes
Penelitian ini melibatkan 30 peternakan sapi perah kecil di Kolombia. Para peneliti membagi peternakan menjadi tiga kategori:
- Tingkat tinggi penggunaan silvopastura (banyak pohon dan pagar hidup).
- Tingkat sedang.
- Tingkat rendah (minim pohon, mirip padang rumput biasa).
Mereka lalu mengukur tiga hal penting:
- Jumlah karbon yang tersimpan di tanah dan biomassa (tanaman hidup, kayu mati, dll.).
- Adopsi teknologi (misalnya pakan, manajemen laktasi, kesehatan sapi).
- Hasil susu dari sapi-sapi di setiap peternakan.

Hasil penelitian menunjukkan, peternakan dengan silvopastura tinggi mampu menyimpan karbon jauh lebih banyak. Misalnya, total karbon di tanah dan vegetasi pada peternakan dengan pohon yang banyak bisa mencapai lebih dari 150 ton per hektar, angka yang jauh lebih tinggi dibanding peternakan dengan sedikit pohon.
Artinya, setiap peternakan bukan hanya menghasilkan susu, tetapi juga menjadi “tabungan karbon” bagi bumi. Ini penting, karena peternakan sapi dikenal sebagai salah satu sumber emisi metana terbesar di dunia. Dengan adanya pohon, sebagian dampak ini bisa dikompensasi.
Susu yang Lebih Banyak dan Berkualitas
Bagaimana dengan hasil susu? Menariknya, peternakan dengan pohon lebih banyak juga menghasilkan susu lebih tinggi.
- Rata-rata hasil susu mencapai 3190 kg per ekor per tahun (sudah dikoreksi lemak dan protein).
- Bahkan, 10% peternakan terbaik bisa menghasilkan hingga 6056 kg per ekor per tahun!
Sebaliknya, peternakan dengan pohon yang sedikit memiliki hasil susu jauh lebih rendah. Selain itu, sapi di lahan yang panas dan gersang lebih mudah stres, sehingga produksinya menurun.
Dengan kata lain, keberadaan pohon bukan hanya baik bagi lingkungan, tapi juga membantu sapi lebih produktif.
Teknologi dan Manajemen Sapi
Selain faktor pohon, penelitian ini juga menyoroti pentingnya teknologi peternakan.
Contohnya:
- Manajemen laktasi yang tepat (berapa lama sapi diperah).
- Usia penyapihan anak sapi yang sesuai.
- Pakan tambahan berkualitas.
Peternakan dengan kombinasi silvopastura dan adopsi teknologi yang lebih baik bisa memaksimalkan hasil susu sekaligus menjaga lingkungan.
Menutup Kesenjangan Hasil
Salah satu temuan menarik adalah adanya “yield gap”, yaitu perbedaan hasil susu antara peternakan biasa dengan peternakan terbaik.
- Peternakan dengan pohon minim hanya menghasilkan sekitar 2883 kg susu per ekor per tahun.
- Sedangkan peternakan dengan manajemen baik bisa mencapai lebih dari 6000 kg.
Artinya, jika semua peternak bisa menerapkan silvopastura dan teknologi yang tepat, hasil susu nasional bisa meningkat drastis tanpa perlu memperluas lahan.
Mengapa Ini Penting?
Dunia saat ini menghadapi dua tantangan besar:
- Meningkatkan produksi pangan untuk populasi yang terus bertambah.
- Mengurangi dampak lingkungan dari sistem pangan, termasuk peternakan.
Sistem silvopastura menawarkan jalan tengah. Petani tetap bisa menghasilkan susu yang cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat, sambil membantu bumi melawan perubahan iklim dengan menyerap karbon.
Pelajaran untuk Peternakan di Negara Lain
Meskipun riset ini dilakukan di Kolombia, pelajaran pentingnya relevan untuk banyak negara tropis, termasuk Indonesia. Kita punya iklim yang cocok untuk pohon dan rumput tumbuh bersama. Jika konsep silvopastura diterapkan lebih luas, peternakan sapi di Indonesia bisa lebih ramah lingkungan sekaligus meningkatkan hasil susu lokal yang selama ini masih kurang.
Penelitian di Amazon-Andes Kolombia menunjukkan bahwa menggabungkan pohon dengan padang rumput sapi perah mampu menyimpan karbon lebih banyak, meningkatkan hasil susu, dan membuat peternakan lebih berkelanjutan.
Dengan pendekatan terintegrasi memadukan teknologi, manajemen sapi, dan silvopastura, peternak dapat menutup kesenjangan hasil, menjaga kesehatan ternak, dan ikut serta dalam upaya global melawan perubahan iklim.
Susu yang kita minum setiap hari, pada akhirnya, tidak hanya soal gizi. Ia juga bisa menjadi bagian dari cerita besar tentang bagaimana manusia, hewan, dan alam bisa hidup lebih selaras.
Baca juga artikel tentang: Mengapa Warna Cangkang Telur Bisa Berbeda? Ini Jawaban dari Ilmu Genetika
REFERENSI:
Mavisoy, Henry dkk. 2025. Carbon stocks, technological development, and milk yields of dairy cattle silvopastoral production systems in the Andean-amazon region of Colombia. Agroforestry Systems 99 (2), 49.


