Setiap hari, jutaan ton makanan terbuang di seluruh dunia. Mulai dari kentang yang tidak laku di pasar, buah yang terlalu matang, hingga makanan olahan yang kedaluwarsa. Limbah makanan ini biasanya berakhir di tempat pembuangan sampah, membusuk, menghasilkan bau tidak sedap, dan bahkan menyumbang emisi gas rumah kaca yang memperparah pemanasan global.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa limbah makanan ternyata bisa diubah menjadi sesuatu yang sangat berharga: bioetanol (sebagai sumber energi terbarukan) dan pakan ternak bergizi tinggi. Dengan kata lain, makanan yang tadinya dianggap sampah justru bisa memberi energi untuk kendaraan dan juga memperkuat sektor peternakan.
Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan
Apa Itu Bioetanol?
Bioetanol adalah bahan bakar nabati yang biasanya dibuat dari tumbuhan yang kaya gula atau pati, seperti jagung dan tebu. Melalui proses fermentasi, gula dalam bahan tersebut diubah oleh mikroba menjadi etanol, yang bisa digunakan sebagai bahan bakar ramah lingkungan.
Masalahnya, penggunaan jagung atau tebu sebagai bahan baku bioetanol sering menuai kritik karena bersaing dengan kebutuhan pangan manusia. Di sinilah limbah makanan memainkan peran penting: kita bisa membuat bioetanol tanpa harus mengambil bahan makanan yang masih layak konsumsi.
Proses Mengubah Limbah Menjadi Bioetanol dan Pakan
Penelitian yang dilakukan oleh tim ilmuwan di Brasil menguji sepuluh jenis limbah makanan, mulai dari kentang, buah-buahan, hingga makanan olahan. Limbah ini dikelompokkan dalam tiga kategori utama:
- EAS – berbasis kentang.
- BNCP – berbasis makanan olahan.
- ABP – berbasis buah-buahan.
Langkah awalnya, limbah tersebut diolah melalui proses yang disebut gelatinisasi (pemanasan untuk memecah struktur makanan), kemudian ditambah perlakuan ultrasonik agar lebih mudah diuraikan. Setelah itu, enzim-enzim khusus seperti amilase, pektinase, dan selulase ditambahkan untuk memecah pati dan serat menjadi gula sederhana.
Dari gula inilah, mikroba bekerja melakukan fermentasi sehingga menghasilkan bioetanol. Proses ini mirip dengan pembuatan tape singkong atau bir, hanya saja hasil akhirnya dimanfaatkan sebagai energi.
Yang menarik, limbah yang sudah dihidrolisis (dipecah oleh enzim) ternyata masih menyisakan banyak karbohidrat dan protein. Artinya, setelah dipakai untuk produksi bioetanol, sisa olahan tersebut masih bisa dimanfaatkan sebagai bahan campuran pakan ternak.
Spirulina, Bintang Mikroalga yang Membantu Proses
Dalam salah satu percobaan, para peneliti menambahkan Spirulina platensis, sejenis mikroalga yang kaya protein dan nutrisi, ke dalam campuran limbah kentang. Hasilnya luar biasa: fermentasi menjadi lebih efisien hingga 85,54%, menghasilkan bioetanol dalam jumlah lebih banyak dibanding tanpa Spirulina.
Selain meningkatkan produksi bioetanol, Spirulina juga memperkaya kandungan nutrisi dari limbah yang nantinya dijadikan pakan ternak. Dengan kata lain, Spirulina berperan ganda: mempercepat produksi energi sekaligus menambah nilai gizi untuk hewan.

Mengapa temuan ini penting bagi dunia peternakan?
- Pakan lebih murah dan bergizi: Sisa hasil olahan limbah makanan yang kaya protein dan karbohidrat bisa dijadikan bahan pakan alternatif. Hal ini membantu menekan biaya produksi yang sering kali terbebani oleh mahalnya harga pakan.
- Pakan lebih berkelanjutan: Karena berasal dari limbah, penggunaannya membantu mengurangi ketergantungan pada bahan pakan konvensional seperti jagung dan kedelai, yang lahannya sering bersaing dengan kebutuhan pangan manusia.
- Pakan lebih ramah lingkungan: Dengan memanfaatkan limbah makanan, jumlah sampah organik yang menumpuk di TPA bisa berkurang drastis. Ini berarti emisi gas metana dari pembusukan makanan juga ikut menurun.
Manfaat untuk Lingkungan
Selain menguntungkan sektor peternakan, penelitian ini juga membawa dampak besar untuk lingkungan:
- Mengurangi limbah makanan – Salah satu masalah besar di dunia saat ini adalah food waste. Dengan teknologi ini, limbah bisa diubah menjadi sesuatu yang bermanfaat.
- Mengurangi emisi karbon – Bioetanol lebih ramah lingkungan dibanding bahan bakar fosil, dan penggunaannya membantu menekan emisi gas rumah kaca.
- Mendukung ekonomi sirkular – Limbah tidak lagi dianggap sampah, tetapi sebagai bahan baku baru yang terus berputar dalam sistem produksi.
Tantangan yang Masih Ada
Meski hasil penelitian ini menjanjikan, ada beberapa tantangan yang perlu diperhatikan:
- Skalabilitas: Apakah teknologi ini bisa diterapkan dalam skala besar dan tetap ekonomis?
- Kualitas pakan: Perlu penelitian lebih lanjut untuk memastikan keamanan dan nilai nutrisi limbah terhidrolisis yang dijadikan pakan.
- Kesadaran masyarakat: Perlu adanya sistem pengelolaan limbah makanan yang baik, agar bahan baku tersedia dalam jumlah besar dan tidak tercampur dengan sampah non-organik.
Menuju Pertanian dan Peternakan Berkelanjutan
Hasil penelitian ini memberi harapan baru bahwa masa depan pertanian dan peternakan bisa lebih berkelanjutan. Dengan mengubah limbah makanan menjadi bioetanol dan pakan ternak, kita bisa mengurangi sampah, menghemat biaya pakan, dan mendukung energi bersih sekaligus.
Bayangkan sebuah ekosistem di mana restoran, pasar, dan rumah tangga tidak lagi membuang sisa makanan sia-sia, melainkan menyumbangkannya untuk diolah menjadi energi dan pakan. Peternak mendapatkan bahan pakan murah dan bergizi, sementara masyarakat menikmati lingkungan yang lebih bersih dan udara yang lebih sehat.
Penelitian ini menunjukkan bahwa limbah makanan bukanlah sampah, melainkan sumber daya yang sangat berharga. Dengan teknologi fermentasi dan dukungan mikroalga seperti Spirulina, limbah bisa diubah menjadi bioetanol dan bahan pakan ternak.
Jika diterapkan secara luas, inovasi ini dapat membantu menjawab tiga masalah besar sekaligus: krisis energi, mahalnya harga pakan, dan meningkatnya limbah makanan. Inilah contoh nyata bagaimana sains modern bisa menghadirkan solusi cerdas yang bermanfaat bagi peternakan, lingkungan, dan kehidupan manusia.
Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan
REFERENSI:
Bender, Leticia Eduarda dkk. 2025. Utilization of food waste for bioethanol production in a circular bioeconomy approach. Biomass Conversion and Biorefinery 15 (6), 8525-8541.


