Saat Jerami Dibakar dan Sapi Bersendawa: Menekan Emisi Pertanian di India

Perubahan iklim kini bukan lagi isu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Kita bisa merasakannya langsung lewat cuaca yang semakin tak menentu, banjir bandang yang datang lebih sering, hingga gelombang panas yang membuat aktivitas pertanian dan peternakan jadi sulit diprediksi. Salah satu penyumbang besar perubahan iklim adalah emisi pertanian, yakni gas rumah kaca dan partikel polutan yang dilepaskan dari aktivitas pertanian, termasuk dari ternak.

Sebuah penelitian terbaru di India menyoroti bagaimana pertanian, khususnya peternakan sapi dan kerbau, memberi kontribusi signifikan terhadap emisi yang memperburuk kualitas udara dan iklim global. Menariknya, studi ini tidak hanya berhenti pada mengukur masalah, tapi juga memberikan berbagai solusi praktis untuk menekannya.

Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C

Dari Sisa Tanaman hingga Kotoran Sapi: Sumber Emisi Pertanian

India adalah salah satu negara dengan populasi ternak terbesar di dunia. Tidak heran jika sektor peternakan menjadi salah satu penyumbang utama gas rumah kaca, terutama metana (CH₄) yang berasal dari proses pencernaan hewan ruminansia (seperti sapi dan kerbau).

Selain ternak, ada juga praktik pembakaran sisa tanaman setelah panen, terutama padi, gandum, tebu, dan jagung. Cara ini dianggap cepat dan murah untuk membersihkan lahan sebelum musim tanam berikutnya, tapi menghasilkan partikel berbahaya (PM10 dan PM2.5) yang mencemari udara.

Penelitian menunjukkan bahwa empat komoditas utama (padi, gandum, tebu, dan jagung) menyumbang sekitar 73–89% dari total emisi pertanian di India.

Seberapa Besar Kontribusi Ternak?

Hasil kajian memperlihatkan bahwa emisi dari ternak di India sangat besar. Dengan menggunakan faktor emisi khusus India, ditemukan bahwa:

  • Emisi amonia (NH₃) dari ternak mencapai 3,4 juta ton per tahun.
  • Cattle (sapi) dan buffalo (kerbau) bertanggung jawab atas 91% dari total emisi metana.

Metana sendiri adalah gas rumah kaca yang dampaknya terhadap pemanasan global 25 kali lebih kuat dibanding karbon dioksida (CO₂) dalam jangka waktu 100 tahun. Itu sebabnya sektor peternakan jadi sorotan besar dalam diskusi global soal iklim.

Peta ini menunjukkan distribusi emisi gas rumah kaca pertanian di India, yaitu metana (CH₄), dinitrogen oksida (N₂O), dan amonia (NH₃), dengan konsentrasi tertinggi umumnya berada di wilayah utara dan timur laut.

Peneliti juga menemukan pola waktu emisi.

  • Emisi dari tanah yang diolah (tillage) dan ternak memuncak antara Mei–Juli.
  • Emisi dari pembakaran sisa tanaman paling tinggi pada Oktober–November, terutama di dataran Indo Gangga, wilayah pertanian utama di India.

Polanya erat kaitannya dengan musim tanam dan panen, serta intensitas aktivitas peternakan pada bulan-bulan tertentu.

Mengapa Ini Penting?

Dampak emisi pertanian bukan hanya soal iklim, tapi juga kesehatan masyarakat. Partikel halus (PM2.5) dari pembakaran sisa tanaman dapat masuk ke paru-paru dan memicu penyakit pernapasan kronis. Begitu juga amonia dari kotoran ternak yang bisa bereaksi di atmosfer, memperparah polusi udara.

Bagi peternak kecil, kualitas udara yang buruk juga bisa menurunkan produktivitas ternak dan menambah biaya kesehatan hewan. Jadi, masalah emisi ini sesungguhnya menyentuh langsung kehidupan peternak dan masyarakat pedesaan.

Infografik ini menunjukkan bahwa aktivitas pertanian seperti olah tanah, pembakaran sisa tanaman, dan peternakan menyumbang signifikan terhadap emisi gas rumah kaca di India, namun langkah mitigasi dapat mengurangi emisi hingga 44%.

Kabar baiknya, penelitian ini juga menyoroti berbagai strategi mitigasi yang sudah diuji dan terbukti efektif.

  1. Zero Tillage (Tanpa Olah Tanah)
    • Dengan tidak mengolah tanah secara intensif, emisi partikel bisa berkurang hingga 17%, bahkan lebih jika diterapkan secara luas.
    • Selain menekan emisi, metode ini menjaga kelembaban tanah dan meningkatkan kesuburan jangka panjang.
  2. Manajemen Sisa Tanaman yang Berkelanjutan
    • Alih-alih dibakar, sisa tanaman bisa dijadikan pakan ternak, pupuk organik, atau bahan bioenergi.
    • Cara ini terbukti mampu mengurangi emisi 36–45% sekaligus memberikan nilai ekonomi tambahan bagi petani.
  3. Intervensi Pakan untuk Ternak
    • Memberikan pakan tambahan atau aditif khusus bisa menurunkan produksi metana dari sapi dan kerbau hingga 12%.
    • Beberapa solusi yang sedang dikembangkan termasuk penggunaan pakan fermentasi, probiotik, hingga alga merah (Asparagopsis) yang dikenal sangat efektif menekan emisi metana.
Gambar ini menunjukkan distribusi jenis tanaman utama di India (A), sebaran lahan pertanian nasional (B), dan kontribusi musiman dari berbagai wilayah terhadap aktivitas pertanian dengan dominasi produksi di India Utara (C).

Meskipun penelitian ini berfokus pada India, hasilnya sangat relevan bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia, yang juga memiliki populasi ternak besar dan menghadapi masalah serupa:

  • Pembakaran jerami padi yang masih lazim dilakukan petani.
  • Tingginya emisi metana dari sapi potong dan kerbau di pedesaan.
  • Tekanan perubahan iklim yang berdampak pada ketersediaan pakan dan kesehatan ternak.

Jika strategi seperti zero tillage dan manajemen sisa tanaman berkelanjutan diterapkan lebih luas, Indonesia berpotensi tidak hanya mengurangi emisi, tapi juga meningkatkan kesejahteraan peternak.

Menuju Peternakan Rendah Karbon

Ke depan, tantangan terbesar adalah bagaimana memastikan petani dan peternak kecil bisa mengadopsi teknologi ramah lingkungan ini. Dukungan dari pemerintah, akses ke pembiayaan hijau, serta penyuluhan yang mudah dipahami menjadi kunci keberhasilan.

Peternakan rendah karbon bukan hanya soal melindungi bumi, tapi juga tentang menciptakan sistem pangan yang lebih sehat, adil, dan berkelanjutan. Jika kita bisa menekan emisi sambil meningkatkan kesejahteraan peternak, maka ini adalah langkah besar menuju masa depan pertanian yang lebih baik.

Penelitian di India membuka mata kita bahwa sektor pertanian dan peternakan bisa menjadi bagian dari masalah, tapi juga bisa menjadi solusi dalam menghadapi perubahan iklim. Dengan teknologi sederhana seperti zero tillage, manajemen jerami yang cerdas, hingga pakan inovatif untuk ternak, emisi bisa ditekan tanpa mengorbankan produktivitas.

Kini, saatnya negara-negara lain belajar dan menerapkan strategi serupa. Karena pada akhirnya, menjaga bumi berarti juga menjaga masa depan peternakan dan ketahanan pangan kita semua.

Baca juga artikel tentang: Daging Kelinci: Potensi Tersembunyi di Dunia Peternakan

REFERENSI:

Thirunagari, Baby Keerthi dkk. 2025. Assessing and mitigating India’s agricultural emissions: A regional and temporal perspective on crop residue, tillage, and livestock contributions. Journal of Hazardous Materials 488, 137407.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top