Bagi para peternak ikan dan udang, keberhasilan budidaya sangat bergantung pada pakan. Pakan bukan hanya sekadar makanan, melainkan faktor utama yang menentukan kecepatan pertumbuhan, kesehatan hewan, serta jumlah dan kualitas hasil panen. Dengan kata lain, pakan yang baik adalah kunci untuk menghasilkan ikan dan udang yang sehat dan bernilai jual tinggi.
Namun, sebuah penelitian terbaru di Bangladesh menemukan kenyataan yang cukup mengkhawatirkan. Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa sebagian pakan lokal yang beredar untuk ikan dan udang ternyata sudah terkontaminasi racun berbahaya. Dua kelompok pencemar utama yang ditemukan adalah:
- Aflatoksin – racun yang dihasilkan oleh jamur tertentu (misalnya Aspergillus flavus) yang bisa tumbuh pada biji-bijian atau bahan pakan yang disimpan dalam kondisi lembap. Aflatoksin sangat berbahaya karena bisa merusak hati, menurunkan daya tahan tubuh, bahkan bersifat karsinogenik (dapat memicu kanker).
- Logam berat seperti timbal (Pb), kromium (Cr), dan kadmium (Cd). Logam berat ini tidak dibutuhkan tubuh, bahkan dalam jumlah kecil sekalipun bisa berbahaya. Jika menumpuk dalam tubuh ikan atau udang, logam ini dapat mengganggu kesehatan hewan, dan lebih parah lagi, bisa berpindah ke manusia yang mengonsumsinya. Paparan logam berat dalam jangka panjang berisiko menyebabkan kerusakan ginjal, gangguan saraf, hingga kanker.
Temuan ini menjadi peringatan serius, karena menunjukkan bahwa pakan yang tampak biasa saja bisa menyimpan bahaya tersembunyi. Dampaknya bukan hanya pada hasil budidaya yang merugi, tetapi juga pada keamanan pangan bagi manusia yang mengonsumsi ikan dan udang tersebut.
Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan
Apa Itu Aflatoksin dan Mengapa Berbahaya?
Aflatoksin adalah racun alami yang diproduksi oleh jenis jamur tertentu, terutama Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus. Jamur ini biasanya tumbuh pada bahan pakan yang disimpan dalam kondisi lembap dan hangat, seperti jagung atau kacang-kacangan.
Masalahnya, aflatoksin bukan racun biasa. Zat ini dikenal sangat beracun dan bahkan bersifat karsinogenik, artinya bisa memicu kanker. Pada hewan, aflatoksin dapat merusak hati, menurunkan sistem imun, serta menghambat pertumbuhan. Pada manusia, konsumsi makanan yang terkontaminasi aflatoksin dalam jangka panjang bisa meningkatkan risiko kanker hati dan masalah kesehatan serius lainnya.
Dalam penelitian di Bangladesh, kandungan aflatoksin dalam pakan ikan mencapai 196,25 mikrogram per kilogram, sebuah angka yang cukup tinggi dan mengkhawatirkan.
Logam Berat: Racun yang Tidak Bisa Hancur
Selain aflatoksin, penelitian ini juga menemukan tingginya kadar logam berat pada pakan ikan dan udang. Logam berat seperti timbal (Pb), kromium (Cr), dan kadmium (Cd) bersifat toksik dan tidak dapat dihancurkan oleh proses metabolisme tubuh.
Begitu masuk ke dalam tubuh ikan, udang, atau manusia, logam ini akan menumpuk seiring waktu. Dampaknya bisa sangat serius, seperti:
- Timbal (Pb): merusak sistem saraf, terutama pada anak-anak.
- Kromium (Cr): beberapa bentuknya bersifat karsinogenik.
- Kadmium (Cd): dapat merusak ginjal dan tulang.
Penelitian ini mencatat bahwa kadar kromium di pakan udang mencapai 174,6 mg/kg, sementara timbal mencapai 3,324 mg/kg. Angka-angka ini jauh di atas batas aman yang direkomendasikan badan kesehatan internasional.
Dari Kolam ke Meja Makan
Kontaminasi pada pakan bukanlah masalah yang berhenti di tambak. Ikan dan udang yang mengonsumsi pakan tercemar akan menyerap sebagian racun tersebut. Akibatnya, racun bisa berpindah ke manusia yang memakan ikan dan udang tersebut.
Fenomena ini disebut bioakumulasi, yaitu proses ketika zat beracun menumpuk dalam tubuh makhluk hidup dari waktu ke waktu. Semakin lama kita mengonsumsi hasil perikanan yang terkontaminasi, semakin besar risiko kesehatan yang kita hadapi.

Bagi peternak ikan dan udang, masalah ini bisa menimbulkan kerugian besar. Ikan dan udang yang terpapar racun sering kali mengalami pertumbuhan lambat, rentan penyakit, dan bahkan kematian massal. Hal ini berarti biaya produksi meningkat, sementara hasil panen menurun.
Lebih jauh lagi, jika produk perikanan dari suatu wilayah diketahui terkontaminasi, reputasi peternak dan akses pasar bisa hancur. Konsumen, baik di pasar lokal maupun internasional, semakin berhati-hati terhadap isu keamanan pangan.
Apa yang Bisa Dilakukan?
Penelitian ini menekankan perlunya tindakan segera untuk mengatasi masalah kontaminasi pakan. Beberapa langkah yang bisa dilakukan antara lain:
- Pengawasan Ketat Pakan Lokal
Pemerintah dan lembaga terkait perlu rutin melakukan pengujian pakan, terutama terhadap kandungan aflatoksin dan logam berat. - Penyimpanan Pakan yang Tepat
Aflatoksin banyak muncul karena pakan disimpan dalam kondisi lembap. Dengan menjaga kelembapan rendah dan sirkulasi udara baik, pertumbuhan jamur bisa ditekan. - Diversifikasi Sumber Pakan
Mengurangi ketergantungan pada satu jenis bahan pakan bisa membantu menekan risiko kontaminasi. - Penggunaan Aditif Pengikat Racun
Beberapa bahan tambahan pakan dapat mengikat aflatoksin sehingga mengurangi penyerapannya di tubuh ikan atau udang. - Edukasi Peternak
Peternak perlu diberi pemahaman tentang bahaya kontaminasi pakan dan cara pencegahannya.
Bahaya yang Tidak Bisa Diabaikan
Meski penelitian ini dilakukan di Bangladesh, isu kontaminasi pakan sebenarnya adalah masalah global. Banyak negara berkembang, termasuk di Asia Tenggara, masih menghadapi tantangan serupa.
Kita sering kali berfokus pada bagaimana meningkatkan produksi ikan dan udang, tetapi lupa bahwa kualitas pakan sama pentingnya. Tanpa perhatian serius, peternakan bisa menjadi sumber racun yang membahayakan kesehatan masyarakat.
Kasus pakan tercemar aflatoksin dan logam berat ini memberi kita pelajaran penting: pakan yang aman adalah dasar dari pangan yang sehat. Ikan dan udang hanya bisa tumbuh dengan baik jika mereka diberi pakan yang bersih dan berkualitas.
Sebagai konsumen, kita mungkin merasa jauh dari persoalan ini. Namun, kenyataannya apa yang terjadi di tambak akan berakhir di meja makan kita. Oleh karena itu, mendukung upaya peningkatan kualitas pakan bukan hanya demi peternak, tapi juga demi kesehatan kita bersama.
Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan
REFERENSI:
Tabassum, Anika dkk. 2025. Evaluation of Aflatoxins and Heavy Metals Exposure in the Local Feeds of Fish and Shrimp in Bangladesh. Biological Trace Element Research 203 (2), 1129-1141.


