PFAS Tak Lagi Menakutkan: Inovasi Ramah Lingkungan untuk Pertanian dan Peternakan

Bayangkan Anda seorang petani yang menanam jagung atau padi, atau beternak sapi dan ayam. Tanahnya tampak subur, hasil panen terlihat baik, namun tanpa disadari ada racun berbahaya yang perlahan-lahan meresap ke dalam tanaman dan hewan ternak Anda. Racun itu bernama PFAS (per- and polyfluoroalkyl substances), kelompok bahan kimia sintetis yang terkenal sangat sulit terurai.

PFAS sering disebut sebagai “forever chemicals” karena bisa bertahan di lingkungan selama puluhan tahun. Senyawa ini banyak dipakai di industri, misalnya pada pelapis anti air, busa pemadam kebakaran, hingga kemasan makanan. Masalahnya, limbah PFAS bisa mencemari tanah dan air, lalu masuk ke rantai makanan termasuk ke dalam pakan ternak dan produk pangan seperti daging, susu, dan telur. Akibatnya, manusia pun ikut berisiko terpapar.

Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan

Cara Lama Membersihkan Tanah: Mahal dan Merusak

Selama ini, metode untuk membersihkan tanah dari PFAS cenderung ekstrem. Ada teknik pencucian tanah, penggalian, hingga pembakaran suhu tinggi. Sayangnya, cara-cara itu sangat mahal, merusak ekosistem, dan menghasilkan emisi karbon baru. Bukannya menyelesaikan masalah, justru menimbulkan masalah tambahan bagi lingkungan.

Riset terbaru menghadirkan solusi yang lebih ramah lingkungan dengan menggabungkan tiga pendekatan:

  1. Fitoremediasi – memanfaatkan tanaman tertentu untuk menyerap polutan PFAS dari tanah. Tanaman ini bertindak seperti “penyedot debu alami” yang menarik racun dari dalam tanah melalui akar dan menyimpannya di jaringan tanaman.
  2. Pirolisis – proses memanaskan biomassa (misalnya sisa tanaman hasil fitoremediasi) dalam kondisi minim oksigen. Tujuannya adalah menghancurkan molekul PFAS yang sudah terkumpul di tanaman tersebut, sehingga tidak kembali mencemari tanah atau udara.
  3. Biochar – hasil dari pirolisis berupa arang ramah lingkungan yang bisa dimanfaatkan kembali. Biochar memiliki struktur berpori yang sangat efektif menyerap polutan, sekaligus menyimpan karbon di tanah untuk jangka panjang.

Dengan memadukan ketiga metode ini, peneliti menciptakan sebuah “siklus kebajikan” (virtuous cycle) yang tidak hanya mengurangi PFAS, tetapi juga memberikan manfaat tambahan untuk pertanian dan peternakan.

Strategi mengurangi paparan PFAS pada sapi dengan fitoremediasi rumput dan aplikasi biochar dari pirolisis, yang mampu mengikat PFAS rantai panjang di tanah dan menurunkan ketersediaan hayatinya hingga 700 kali lebih rendah.

Mari kita lihat bagaimana siklus ini bekerja:

  • Tanaman yang dipilih untuk fitoremediasi menyerap PFAS dari tanah.
  • Setelah dipanen, biomassa tanaman yang sudah mengandung PFAS tidak dibuang begitu saja, melainkan diproses lewat pirolisis.
  • Hasil pirolisis menghasilkan dua hal:
    • Biochar – yang bisa dikembalikan ke tanah untuk meningkatkan kesuburan dan menyerap polutan baru.
    • Energi – proses pirolisis juga menghasilkan panas atau gas yang bisa dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan.

Dengan demikian, proses ini bukan hanya menghilangkan racun, tapi juga menciptakan nilai tambah dalam bentuk pupuk alami, perbaikan kualitas tanah, dan energi bersih.

Manfaat bagi Peternakan dan Pangan

Mengapa ini penting untuk dunia peternakan? Karena tanah yang tercemar PFAS bisa membuat tanaman pakan ternak ikut terkontaminasi. Akhirnya, sapi, ayam, atau ikan yang memakan pakan tersebut akan menyimpan PFAS dalam tubuhnya.

Jika tanah berhasil dibersihkan dengan metode biochar, maka:

  • Pakan ternak menjadi lebih aman. Rumput, jagung, atau kedelai yang tumbuh bebas dari PFAS akan menghasilkan daging, susu, dan telur yang lebih sehat.
  • Produktivitas ternak meningkat. Tanah yang diberi biochar terbukti lebih subur, menyimpan lebih banyak air, dan mendukung pertumbuhan tanaman pakan dengan nutrisi yang lebih baik.
  • Kepercayaan konsumen terjaga. Produk pangan hewani yang bebas kontaminasi kimia berbahaya akan lebih diterima di pasar domestik maupun internasional.

Bonus: Menangkap Karbon dan Mengurangi Emisi

Salah satu nilai plus dari penggunaan biochar adalah kemampuannya menyimpan karbon di tanah. Setiap ton biochar yang dihasilkan dapat menyimpan 1–2 ton setara CO₂. Artinya, selain membersihkan polusi PFAS, teknologi ini juga membantu mengurangi emisi gas rumah kaca.

Dengan demikian, pertanian dan peternakan bukan hanya sekadar penghasil pangan, tapi juga berkontribusi langsung dalam upaya global melawan perubahan iklim.

Tantangan dan Harapan ke Depan

Meski menjanjikan, penerapan siklus ini tidak tanpa tantangan. Variasi jenis tanaman, kadar PFAS yang berbeda di tiap lokasi, serta biaya awal instalasi pirolisis bisa menjadi kendala. Namun, jika dilihat dari manfaat jangka panjang (tanah yang lebih sehat, pangan yang aman, energi terbarukan, hingga mitigasi perubahan iklim) investasi ini bisa sangat menguntungkan.

Para peneliti mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri pertanian, dan sektor peternakan untuk mengadopsi pendekatan ini secara lebih luas. Bayangkan jika setiap lahan pertanian yang tercemar bisa dipulihkan dengan biochar, maka rantai pangan global akan menjadi jauh lebih aman.

PFAS adalah polutan modern yang sulit diberantas, tapi bukan berarti mustahil ditangani. Dengan inovasi gabungan antara fitoremediasi, pirolisis, dan biochar, kini ada harapan nyata untuk menciptakan tanah yang lebih bersih, pakan ternak yang lebih sehat, dan pangan yang lebih aman bagi manusia.

Solusi ini bukan hanya tentang membersihkan racun, tetapi juga tentang membangun sistem pangan sirkular yang ramah lingkungan, berkelanjutan, dan bermanfaat ganda untuk petani, peternak, konsumen, dan tentu saja, untuk bumi kita.

Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan

REFERENSI:

Cornelissen, Gerard dkk. 2025. A virtuous cycle of phytoremediation, pyrolysis, and biochar applications toward safe PFAS levels in soil, feed, and food. Journal of Agricultural and Food Chemistry 73 (6), 3283-3285.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top