Dunia sedang menghadapi krisis keanekaragaman hayati. Spesies tumbuhan dan hewan terus menurun jumlahnya akibat hilangnya habitat, polusi, perubahan iklim, dan tekanan dari aktivitas manusia, termasuk pertanian. Padahal, lebih dari 50% lahan di dunia dipakai untuk pertanian, sehingga apa pun yang terjadi di sektor ini akan sangat memengaruhi kesehatan ekosistem bumi.
Salah satu solusi yang kini mulai diteliti adalah membatasi akses ternak ke bendungan pertanian (farm dams). Bendungan ini biasanya berfungsi sebagai sumber air bagi ternak, tapi ternyata kehadiran hewan-hewan besar seperti sapi atau kambing dapat mengubah ekosistem air dan daratan sekitarnya secara drastis.
Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C
Apa Itu Farm Dams dan Mengapa Penting?
Farm dams atau bendungan pertanian adalah kolam buatan yang dibuat petani untuk menampung air hujan. Air ini dipakai untuk irigasi, minum ternak, atau cadangan saat musim kering. Namun, karena ternak dibiarkan langsung minum di bendungan, mereka sering menginjak-injak tanah sekitar, mengurangi vegetasi alami, mencemari air dengan kotoran, bahkan mengganggu satwa liar yang seharusnya bisa memanfaatkan habitat itu.
Dengan memasang pagar di sekitar bendungan agar ternak tidak bisa masuk, para peneliti menduga ada peluang untuk mengembalikan fungsi ekologis bendungan sebagai tempat hidup beragam satwa liar, tanpa mengurangi manfaatnya bagi pertanian.

Sebuah studi terbaru di Australia Tenggara meneliti dampak nyata dari praktik ini. Para ilmuwan membandingkan 20 bendungan berpagar (yang menutup akses ternak) dengan 20 bendungan tanpa pagar. Mereka melakukan survei intensif menggunakan berbagai metode modern, seperti:
- Survei langsung: mengamati hewan yang muncul di sekitar bendungan.
- Kamera jebak (trail cameras): merekam aktivitas satwa liar siang dan malam.
- eDNA (environmental DNA): mendeteksi jejak DNA hewan di air untuk mengetahui spesies yang pernah hadir.
- Perekam akustik: mencatat suara burung dan hewan lain.
Dengan kombinasi teknik ini, peneliti bisa mendapatkan gambaran lengkap tentang keanekaragaman satwa di sekitar bendungan.
Hasil Utama: Lebih Kaya Spesies di Bendungan Berpagar
Hasil penelitian menunjukkan bahwa bendungan yang dipagari dari ternak memiliki keanekaragaman hayati lebih tinggi dibandingkan yang terbuka.
- Jumlah spesies lebih banyak
Bendungan berpagar mendukung lebih banyak jenis burung, mamalia, dan kelompok satwa lain. - Fungsi ekosistem lebih seimbang
Kehadiran berbagai kelompok satwa, mulai dari karnivora kecil hingga pemakan buah membantu menjaga keseimbangan rantai makanan dan fungsi ekosistem. - Burung kecil lebih terlindungi
Burung-burung hutan kecil yang biasanya bergantung pada vegetasi alami lebih banyak ditemukan di bendungan berpagar, karena tanaman di sekitar bendungan tumbuh lebih baik tanpa injakan ternak. - Burung air besar berbeda preferensi
Menariknya, beberapa burung air besar seperti bebek justru lebih suka bendungan terbuka tanpa pagar, kemungkinan karena akses ke air lebih mudah dan tidak ada vegetasi padat.

Ternak, dengan tubuh besar dan perilaku merumput, sering kali:
- Merusak vegetasi alami di sekitar bendungan.
- Menginjak-injak tepian bendungan sehingga tanah menjadi gundul dan mudah longsor.
- Mencemari air dengan kotoran, yang bisa menurunkan kualitas habitat bagi amfibi atau ikan kecil.
Dengan mengeluarkan ternak dari area ini, lingkungan menjadi lebih stabil, vegetasi tumbuh kembali, dan menyediakan tempat berlindung, makanan, serta ruang berkembang biak bagi banyak satwa liar.
Dampak Positif bagi Peternakan
Mungkin ada yang bertanya: kalau ternak tidak bisa minum langsung dari bendungan, apakah tidak merugikan peternak? Jawabannya, tidak harus merugikan. Peternak bisa menggunakan pipa untuk menyalurkan air ke tangki atau palungan khusus minum ternak di luar area berpagar.
Bahkan, ada manfaat tambahan bagi peternak:
- Air lebih bersih karena tidak terkontaminasi kotoran ternak.
- Kualitas bendungan lebih terjaga sehingga bisa bertahan lebih lama.
- Habitat satwa liar meningkat, yang dapat membantu mengendalikan hama secara alami (misalnya burung pemakan serangga).
Implikasi untuk Konservasi
Penelitian ini menunjukkan bahwa langkah sederhana seperti memasang pagar di sekitar bendungan pertanian bisa menjadi salah satu solusi nyata menghadapi krisis keanekaragaman hayati.
Bayangkan jika praktik ini diterapkan secara luas di daerah pertanian dunia:
- Populasi burung kecil dan hewan liar lokal bisa kembali meningkat.
- Ekosistem lokal menjadi lebih sehat.
- Pertanian tetap berjalan tanpa kehilangan sumber air untuk ternak.
Dengan kata lain, ini adalah contoh nyata bagaimana pertanian bisa berkontribusi pada konservasi alam tanpa harus mengorbankan produktivitas.
Tantangan yang Perlu Diperhatikan
Meski hasilnya positif, ada beberapa hal yang perlu dipikirkan:
- Biaya pemasangan pagar: Tidak semua petani mungkin mampu membangun pagar di sekitar bendungan.
- Kebutuhan akses ternak: Sistem distribusi air tambahan harus dipastikan berjalan lancar agar ternak tidak kekurangan air.
- Preferensi satwa berbeda: Tidak semua satwa mendapat manfaat yang sama; misalnya, beberapa burung air lebih suka bendungan tanpa pagar.
Karena itu, kebijakan dan penerapan di lapangan harus disesuaikan dengan kondisi lokal.
Studi ini memberikan harapan bahwa konservasi keanekaragaman hayati bisa berjalan seiring dengan kegiatan pertanian. Dengan langkah sederhana seperti menutup akses ternak ke bendungan, kita bisa menciptakan ruang hidup yang lebih sehat bagi satwa liar, memperbaiki kualitas air, dan menjaga ekosistem tetap seimbang.
Dalam era krisis lingkungan global, solusi seperti ini sangat berharga: murah, praktis, dan memberikan manfaat ganda untuk petani sekaligus untuk alam.
Baca juga artikel tentang: Daging Kelinci: Potensi Tersembunyi di Dunia Peternakan
REFERENSI:
Bell, Kristian dkk. 2025. Excluding livestock from farm dams enhances native biodiversity. Agriculture, Ecosystems & Environment 386, 109623.


