Selama ini kita sering mendengar bahwa sektor energi dan transportasi adalah penyumbang besar emisi gas rumah kaca (GRK). Namun, ada satu sektor lain yang juga berkontribusi besar: peternakan unggas. Ayam, entok, hingga kalkun yang kita konsumsi sehari-hari ternyata ikut menyumbang emisi karbon dioksida (CO₂) dan metana (CH₄), dua gas utama penyebab pemanasan global.
Di Kanada saja, ada lebih dari 1.300 peternakan unggas yang aktif berproduksi. Jumlah yang besar ini tentu berarti emisi yang juga tidak kecil. Pertanyaannya, bagaimana cara memantau dan mengurangi emisi dari peternakan-peternakan ini?
Jawabannya datang dari tempat yang tak terduga: angkasa luar.
Baca juga artikel tentang: Mengurangi Gas Rumah Kaca dari Sapi: Solusi Mengejutkan dari Ampas Kopi
Satelit Jadi “Mata” Baru Peternakan
Sebuah penelitian terbaru yang diterbitkan di jurnal Smart Agricultural Technology (2025) mencoba pendekatan unik: menggunakan data satelit untuk memantau dan menganalisis emisi dari peternakan unggas.
Peneliti memanfaatkan citra satelit beresolusi tinggi, seperti dari Sentinel-5P milik Uni Eropa dan OCO-2 milik NASA, untuk mengukur konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Data ini kemudian dikombinasikan dengan teknik machine learning, sehingga bisa memetakan secara detail:
- Di mana emisi terjadi (spasial).
- Kapan emisi meningkat (temporal).
- Seberapa besar kontribusi setiap peternakan.
Dengan kata lain, satelit berfungsi layaknya mata raksasa yang mengamati dari atas langit, sementara kecerdasan buatan mengolah data untuk menghasilkan peta emisi yang akurat.
Mengapa Emisi dari Ayam Penting?
Mungkin ada yang berpikir: bukankah ayam ukurannya kecil, tidak seperti sapi yang dikenal sebagai penghasil metana?
Benar, ayam memang menghasilkan metana lebih sedikit dibandingkan sapi atau domba. Namun, karena jumlahnya sangat banyak, kontribusi mereka tetap signifikan. Emisi dari peternakan unggas muncul terutama dari:
- Kotoran ayam yang melepaskan metana dan dinitrogen oksida.
- Penggunaan energi untuk pemanas kandang, penerangan, dan proses produksi.
- Pengolahan pakan yang juga punya jejak karbon besar.
Di Kanada, gabungan faktor ini membuat sektor unggas menjadi salah satu penyumbang penting emisi pertanian.

Hasil Penelitian: Pemetaan Emisi yang Lebih Akurat
Penelitian Jobarteh dan Neethirajan (2025) menganalisis data dari lebih 1.300 peternakan unggas antara 2019 hingga 2023. Dengan menggabungkan data satelit dan model AI, mereka bisa:
- Mengidentifikasi area dengan emisi tinggi secara spesifik.
- Melihat pola musiman, misalnya peningkatan emisi di musim dingin ketika pemanas kandang digunakan lebih intensif.
- Memberikan proyeksi tren emisi di masa depan.
Dengan informasi ini, pemerintah, peternak, dan industri bisa membuat kebijakan berbasis data yang lebih tepat sasaran.

Teknologi ini tidak hanya membantu pemerintah atau peneliti, tapi juga bermanfaat langsung untuk peternak:
- Efisiensi energi: Peternak bisa tahu kapan dan di mana penggunaan energi paling boros, lalu mencari cara menghemat.
- Manajemen kotoran lebih baik: Dengan peta emisi, peternak bisa tahu apakah pengelolaan limbah mereka sudah efektif atau masih menimbulkan polusi.
- Daya saing pasar: Produk unggas dari peternakan rendah emisi bisa lebih diminati konsumen yang peduli lingkungan.

Meski menjanjikan, penggunaan satelit untuk mitigasi emisi juga punya keterbatasan:
- Resolusi spasial: Satelit punya keterbatasan detail, sehingga sulit membedakan emisi dari peternakan yang letaknya berdekatan.
- Biaya teknologi: Analisis data satelit dan penerapan machine learning masih cukup mahal.
- Keterampilan teknis: Peternak kecil mungkin tidak memiliki akses atau pemahaman tentang bagaimana menggunakan data ini.
- Kondisi cuaca: Awan dan hujan bisa memengaruhi akurasi pengukuran satelit.
Karena itu, teknologi ini perlu didukung dengan data lapangan (ground truth) agar hasilnya lebih akurat.
Masa Depan Peternakan Berbasis Data
Meski masih dalam tahap pengembangan, teknologi ini membuka jalan menuju precision poultry farming (peternakan unggas presisi) yang lebih berkelanjutan. Bayangkan di masa depan:
- Setiap peternakan punya dashboard digital yang menampilkan data emisi harian dari satelit.
- Peternak mendapat rekomendasi otomatis: “Kurangi pemanas kandang 2 jam untuk menekan emisi” atau “Perbaiki sistem pengolahan kotoran.”
- Konsumen di supermarket bisa memindai kode QR pada kemasan ayam untuk melihat jejak karbon produk tersebut.
Dengan begitu, seluruh rantai produksi dari peternak hingga konsumen terlibat dalam upaya menekan emisi dan melawan perubahan iklim.
Peternakan unggas adalah bagian penting dari ketahanan pangan global, tetapi juga menyumbang emisi yang tidak sedikit. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa satelit dan kecerdasan buatan bisa menjadi alat ampuh untuk memahami, memantau, dan mengurangi emisi gas rumah kaca dari peternakan ayam.
Di era krisis iklim, langkah ini bukan hanya inovasi teknologi, tetapi juga kebutuhan mendesak. Karena pada akhirnya, setiap telur dan daging ayam yang kita konsumsi bukan hanya soal rasa, tetapi juga tentang masa depan bumi yang kita tinggali bersama.
Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk
REFERENSI:
Jobarteh, Bubacarr & Neethirajan, Suresh. 2025. Leveraging satellite data for greenhouse gas mitigation in Canadian poultry farming. Smart Agricultural Technology 10, 100704.


