Pakan Lokal, Hasil Maksimal: Teknologi Fermentasi Tingkatkan Produktivitas Ternak

Bagi petani dan peternak, jerami padi sering dianggap sebagai “sisa tak berguna” setelah panen. Memang, jerami bisa dijadikan pakan ternak, tapi kualitas nutrisinya sangat rendah. Tingginya kadar serat kasar membuat jerami sulit dicerna oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau, atau kambing. Akibatnya, pertumbuhan ternak lambat dan produktivitas susu maupun daging menurun.

Di sisi lain, kebutuhan pakan terus meningkat, sementara ketergantungan pada hijauan impor (misalnya alfalfa) membuat biaya pakan semakin mahal. Maka muncul pertanyaan: apakah ada cara untuk mengubah jerami padi menjadi pakan bergizi tanpa harus mengeluarkan biaya besar?

Jawabannya: ada, lewat teknologi fermentasi mikroba.

Apa Itu Fermentasi Mikroba pada Pakan?

Fermentasi adalah proses alami ketika mikroba seperti bakteri asam laktat (Lactobacillus) bekerja memecah bahan organik. Proses ini mirip dengan pembuatan tape, tempe, atau yogurt, hanya saja kali ini diterapkan pada pakan ternak.

Dengan fermentasi, kandungan serat pada jerami padi bisa diurai menjadi komponen yang lebih mudah dicerna, sekaligus menghasilkan asam laktat yang menjaga kualitas pakan tetap stabil.

Riset terbaru yang dilakukan oleh Ye Liu dan tim (2025) menguji metode co-ensiling atau fermentasi gabungan antara jerami padi ratoon (padi yang tumbuh kembali setelah panen utama) dengan jagung. Hasilnya, kombinasi ini ternyata mampu meningkatkan kualitas jerami padi secara signifikan.

Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan

Dalam penelitian ini, para peneliti membandingkan fermentasi jerami padi ratoon (FGR) dengan jagung, versus dengan sorgum-sudangrass. Mereka menemukan bahwa kombinasi padi ratoon + jagung memberikan hasil yang jauh lebih baik.

1. Serat Lebih Rendah, Asam Laktat Lebih Tinggi

Kombinasi FGR dan jagung menghasilkan kandungan serat kasar lebih rendah dan kadar asam laktat tertinggi (39,37 g/kg bahan kering). Asam laktat penting karena menjaga pakan tidak cepat rusak dan lebih tahan simpan.

2. Peran Bakteri Asam Laktat (LAB)

Fermentasi dengan jagung meningkatkan populasi bakteri baik, terutama dari kelompok Lactobacillaceae. Bakteri ini membantu proses fermentasi berjalan lebih efisien, sekaligus menghambat pertumbuhan bakteri merugikan seperti Enterobacter.

3. Tambahan Inokulasi Lactobacillus plantarum

Ketika pakan difermentasi dengan bantuan bakteri khusus Lactobacillus plantarum, hasilnya semakin stabil. Bakteri ini mempercepat pertumbuhan bakteri baik dan menjaga kualitas silase tetap prima.

4. Rasio Optimal

Peneliti menemukan bahwa rasio terbaik antara jerami padi dan jagung adalah 75:25. Pada rasio ini, pakan memiliki kadar serat netral terendah dan daya cerna tertinggi. Artinya, ternak bisa lebih mudah mencerna pakan dan menyerap nutrisinya.

Manfaat untuk Peternak dan Lingkungan

1. Pakan Lokal yang Lebih Murah

Dengan teknologi ini, peternak bisa memanfaatkan limbah pertanian lokal, terutama jerami padi, tanpa harus terlalu bergantung pada hijauan impor yang mahal. Ini tentu mengurangi biaya produksi ternak.

2. Ternak Lebih Sehat dan Produktif

Pakan yang lebih mudah dicerna berarti ternak mendapatkan lebih banyak energi dan protein dari pakan yang sama. Dampaknya, pertumbuhan sapi lebih cepat, produksi susu meningkat, dan kualitas daging lebih baik.

3. Mengurangi Limbah dan Polusi

Alih-alih dibakar (yang menimbulkan polusi udara), jerami padi bisa diolah menjadi pakan bergizi. Dengan begitu, limbah pertanian berkurang dan lingkungan lebih terjaga.

4. Mendukung Pertanian Berkelanjutan

Metode fermentasi ini tidak hanya membantu peternak, tetapi juga petani. Jerami yang dulunya dianggap sampah kini memiliki nilai ekonomi baru. Hal ini mendukung siklus pertanian berkelanjutan, di mana hasil samping dari satu komoditas bisa dimanfaatkan untuk sektor lain.

Komposisi komunitas mikroba pada silase pakan yang diinokulasi bakteri asam laktat (LAB), termasuk perbedaan kandungan serat, asam organik, serta variasi spesies dominan berdasarkan perlakuan campuran hijauan dan jagung atau sorgum-sudangrass.

Meski penelitian dilakukan di laboratorium, prinsip dasarnya bisa diterapkan di lapangan. Berikut langkah sederhananya:

  1. Kumpulkan jerami padi dan jagung dengan rasio sekitar 75:25.
  2. Cacah bahan menjadi ukuran kecil (3–5 cm) agar mudah difermentasi.
  3. Tambahkan inokulan bakteri (jika tersedia) seperti Lactobacillus plantarum untuk mempercepat fermentasi.
  4. Masukkan ke silo atau wadah kedap udara, lalu padatkan agar minim oksigen.
  5. Biarkan difermentasi selama beberapa minggu hingga terbentuk silase berkualitas tinggi.

Dengan cara ini, peternak bisa mendapatkan pakan yang lebih awet, mudah disimpan, dan bergizi tinggi.

Potensi Besar untuk Masa Depan Peternakan

Jika teknologi ini diterapkan secara luas, dampaknya sangat besar:

  • Bagi peternak: biaya pakan lebih murah, produktivitas ternak meningkat.
  • Bagi petani: jerami padi yang sebelumnya dibuang kini bisa dijual ke peternak.
  • Bagi lingkungan: mengurangi polusi dari pembakaran jerami dan impor pakan yang menghasilkan emisi karbon.
  • Bagi negara: mendukung ketahanan pangan dan mengurangi ketergantungan impor.

Tidak berlebihan jika riset ini disebut sebagai salah satu kunci menuju peternakan yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan, khususnya di negara-negara dengan produksi padi tinggi seperti Indonesia.

Penelitian dari Ye Liu dan tim (2025) membuktikan bahwa jerami padi ratoon yang biasanya dianggap limbah ternyata bisa diubah menjadi pakan ternak bergizi tinggi melalui fermentasi bersama jagung. Dengan bantuan bakteri baik seperti Lactobacillus, kualitas silase meningkat, kandungan serat berkurang, dan nilai gizi naik.

Teknologi sederhana ini bisa menjadi solusi nyata bagi peternak untuk mendapatkan pakan murah, ternak sehat, dan keuntungan lebih besar, sekaligus membantu menjaga lingkungan.

Mungkin inilah waktunya kita berhenti menganggap jerami sebagai sampah, dan mulai melihatnya sebagai “emas hijau” yang bisa memperkuat masa depan pertanian dan peternakan kita.

Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan

REFERENSI:

Liu, Ye dkk. 2025. Microbial fermentation in co-ensiling forage-grain ratoon rice and maize to improve feed quality and enhance the sustainability of rice-based production systems. Resources, Environment and Sustainability 20, 100205.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top