Lalat Jadi Pakan Udang: Solusi Ramah Lingkungan untuk Akuakultur Berkelanjutan

Budidaya udang adalah salah satu sektor perikanan yang paling pesat berkembang di dunia. Udang menjadi komoditas bernilai tinggi yang diekspor ke berbagai negara dan menjadi sumber pendapatan jutaan petambak. Namun, di balik gurihnya keuntungan, ada masalah besar yang jarang disadari: pakan udang.

Selama ini, pakan utama udang berasal dari tepung ikan (fishmeal). Tepung ikan diproduksi dengan menggiling ikan kecil, yang sebenarnya bisa dimanfaatkan untuk konsumsi manusia. Ketergantungan besar pada tepung ikan tidak hanya membuat biaya pakan mahal, tetapi juga membebani laut kita. Penangkapan ikan skala besar untuk bahan baku pakan dapat mengurangi keanekaragaman hayati laut dan memperparah overfishing.

Karena itu, para ilmuwan mulai mencari alternatif yang lebih berkelanjutan, murah, dan tetap bergizi untuk udang. Salah satu kandidat yang menarik perhatian adalah larva lalat tentara hitam atau black soldier fly (BSF).

Mungkin terdengar aneh, tetapi lalat tentara hitam adalah salah satu serangga yang sangat berguna bagi manusia. Larva BSF bisa hidup dari limbah organik seperti sisa sayuran, buah busuk, atau limbah makanan. Saat tumbuh, larva ini mengubah limbah menjadi biomassa kaya protein dan lemak, yang cocok untuk dijadikan pakan ternak, ikan, maupun udang.

BSF juga sudah dikenal ramah lingkungan. Mereka tidak menjadi hama, tidak menyebarkan penyakit, dan setelah dewasa, lalat ini bahkan tidak makan, hanya bertelur lalu mati. Dengan kata lain, siklus hidupnya aman dan terkendali.

Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi

Penelitian: BSF untuk Pakan Udang

Sebuah studi yang dipublikasikan tahun 2025 di jurnal Aquaculture International menyoroti potensi besar BSF sebagai pakan alternatif bagi udang, khususnya udang vaname (Pacific white shrimp / PWS).

Namun, para peneliti menemukan bahwa hasil-hasil penelitian sebelumnya tentang penggunaan BSF pada udang masih sangat beragam. Ada studi yang menunjukkan pertumbuhan udang meningkat, ada pula yang hasilnya biasa saja. Perbedaan ini bisa disebabkan oleh berbagai faktor, seperti:

  • Jenis atau strain BSF yang digunakan,
  • Cara perlakuan pakan sebelum diberikan,
  • Desain percobaan yang berbeda,
  • Hingga faktor genetik pada udang itu sendiri.

Karena itu, penelitian terbaru ini mencoba menyusun pedoman dasar agar riset tentang pakan berbasis BSF di budidaya udang lebih konsisten, bisa dibandingkan, dan hasilnya dapat dipercaya.

Hasil Penting dari Studi

Ada tiga temuan utama dari penelitian ini yang menarik untuk diketahui:

  1. BSF Bisa Menggantikan Tepung Ikan
    Studi ini menunjukkan bahwa larva BSF dapat digunakan sebagai pengganti sebagian tepung ikan dalam pakan udang. Bahkan, hasilnya tidak jauh berbeda antara kelompok udang yang diberi tepung ikan murni dengan kelompok yang sebagian pakannya diganti BSF. Ini artinya, BSF bisa menjadi alternatif yang nyata dan berkelanjutan.
  2. Butuh Standar Riset yang Jelas
    Para peneliti mengusulkan adanya 39 parameter standar yang harus diperhatikan dalam riset pakan udang berbasis serangga. Tujuannya agar setiap penelitian di masa depan bisa lebih mudah dibandingkan dan direproduksi oleh ilmuwan lain di seluruh dunia.
  3. Kontribusi untuk Lingkungan dan Ekonomi
    Dengan mengurangi penggunaan tepung ikan, budidaya udang bisa jadi lebih ramah lingkungan. Selain itu, budidaya BSF juga bisa membuka peluang ekonomi baru bagi peternak serangga dan petambak yang ingin menekan biaya pakan.
Siklus produksi pakan dari lalat BSF, di mana lalat dewasa bertelur, larva diberi makan limbah makanan, lalu diolah menjadi tepung dan minyak serangga yang dapat menggantikan tepung ikan/kedelai serta minyak ikan/kedelai untuk pakan ikan dan ternak.

Penggunaan larva lalat tentara hitam sebagai pakan udang menawarkan banyak manfaat, di antaranya:

  • Ramah Lingkungan: Mengurangi ketergantungan pada tepung ikan berarti menurunkan tekanan pada ekosistem laut.
  • Mengurangi Limbah Organik: Larva BSF bisa memakan sisa makanan, limbah pasar, hingga kotoran hewan, mengubahnya menjadi protein bernilai tinggi.
  • Ekonomis: Produksi BSF bisa dilakukan secara lokal, sehingga biaya transportasi dan impor bahan pakan bisa ditekan.
  • Nutrisi Tinggi: Larva BSF kaya protein, lemak, asam amino esensial, dan mineral yang dibutuhkan udang untuk tumbuh sehat.

Tantangan yang Harus Diatasi

Meski potensinya besar, ada beberapa tantangan yang masih harus dihadapi:

  1. Variasi Hasil Riset – seperti yang disebutkan, masih ada perbedaan hasil antar penelitian.
  2. Penerimaan Pasar – sebagian konsumen mungkin masih merasa “aneh” dengan udang yang diberi pakan serangga.
  3. Regulasi dan Standarisasi – perlu aturan jelas dari pemerintah terkait keamanan pangan dan standar produksi BSF.
  4. Skala Produksi – meskipun bisa diproduksi secara lokal, peternakan BSF masih perlu diperluas agar bisa memenuhi kebutuhan industri besar.

Masa Depan Pakan Serangga untuk Akuakultur

Studi ini menekankan bahwa untuk mendorong penerimaan luas terhadap pakan udang berbasis serangga, riset harus bisa konsisten dan dapat dibandingkan. Dengan adanya pedoman standar, diharapkan hasil penelitian tidak lagi tumpang tindih, melainkan saling melengkapi.

Jika diterapkan dengan baik, penggunaan BSF bisa menjadi langkah besar menuju akuakultur yang lebih berkelanjutan, ramah lingkungan, dan hemat biaya. Tidak hanya bermanfaat bagi petambak, tetapi juga bagi konsumen, lingkungan, dan ketahanan pangan global.

Mengganti tepung ikan dengan larva lalat tentara hitam mungkin terdengar tidak biasa, bahkan aneh bagi sebagian orang. Namun, di balik ide sederhana ini tersembunyi potensi luar biasa untuk menjawab tantangan besar dunia: menyediakan pangan berkualitas tanpa merusak lingkungan.

Dengan riset yang semakin kuat dan terstandar, bukan tidak mungkin di masa depan, udang yang kita santap di meja makan akan lebih ramah lingkungan, berkat si lalat tentara hitam.

Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan

REFERENSI:

Barth, Annalena dkk. 2025. Broad acceptance of sustainable insect-based shrimp feeds requires reproducible and comparable research. Aquaculture International 33 (2), 101.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top