Kuman Kebal, Pangan Mahal: Dampak AMR bagi Peternakan dan Konsumen

Dalam beberapa dekade terakhir, antibiotik telah menjadi “penyelamat” dalam dunia kesehatan dan peternakan. Obat ini mampu melawan penyakit menular yang berbahaya, menjaga kesehatan ternak, dan memastikan pasokan pangan tetap stabil. Namun, di balik manfaat besar itu, tersembunyi ancaman serius yang kini menjadi perhatian dunia: resistensi antimikroba atau Antimicrobial Resistance (AMR).

AMR terjadi ketika bakteri, virus, jamur, atau parasit tidak lagi mempan dilawan oleh obat yang seharusnya bisa membunuh atau melemahkannya. Singkatnya, kuman menjadi “kebal” terhadap antibiotik. Jika kondisi ini dibiarkan, penyakit yang dulu bisa diobati dengan mudah dapat berubah menjadi ancaman mematikan.

Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan

Antibiotik di Peternakan: Senjata Bermata Dua

Dalam industri peternakan, antibiotik banyak digunakan untuk tiga tujuan utama:

  1. Mengobati ternak yang sakit – fungsi paling jelas dan paling penting.
  2. Mencegah penyakit – bahkan pada hewan yang sehat, antibiotik diberikan agar tidak mudah tertular penyakit.
  3. Memacu pertumbuhan – di banyak negara, antibiotik masih dipakai sebagai “growth promoter” untuk membuat hewan tumbuh lebih cepat.

Sayangnya, penggunaan berlebihan atau tidak tepat sasaran membuat bakteri dalam tubuh hewan dan lingkungan sekitar belajar bertahan hidup. Bakteri-bakteri inilah yang nantinya bisa menular ke manusia melalui daging, susu, telur, air, tanah, bahkan udara.

Laporan riset terbaru memperkirakan bahwa jika tidak ada tindakan serius, pada tahun 2050 dunia bisa menghadapi 10 juta kematian setiap tahun akibat infeksi yang tidak bisa diobati karena resistensi antibiotik. Kerugian ekonominya pun diprediksi mencapai 100 triliun dolar AS. Angka yang mencengangkan ini membuat AMR sering disebut sebagai silent pandemic, pandemi senyap yang dampaknya bisa lebih besar daripada pandemi COVID-19.

Di sektor peternakan, AMR bukan hanya masalah kesehatan manusia. Hewan ternak yang resisten terhadap penyakit akan membutuhkan lebih banyak biaya perawatan, produktivitas menurun, dan dalam jangka panjang bisa mengancam ketahanan pangan.

Banyak orang tidak menyadari bahwa penggunaan antibiotik di peternakan punya “jalan panjang” hingga sampai ke tubuh manusia. Misalnya:

  • Produk hewani: daging, susu, atau telur dari hewan yang terpapar antibiotik bisa mengandung residu.
  • Lingkungan: kotoran ternak yang mengandung sisa antibiotik akan mencemari tanah dan air, menciptakan lahan subur bagi bakteri kebal.
  • Rantai makanan: tanaman yang ditanam di tanah tercemar atau menggunakan air tercemar bisa membawa jejak antibiotik ke meja makan kita.

Akhirnya, manusia yang mengonsumsi produk tersebut dapat terpapar bakteri yang sudah kebal, sehingga saat sakit, antibiotik tidak lagi bekerja dengan efektif.

Tiga cara bakteri bertukar materi genetik (transformasi, transduksi, dan konjugasi) serta lima mekanisme utama resistensi terhadap antibiotik, termasuk menghalangi masuknya obat, memompa keluar, memodifikasi target, menghasilkan enzim perusak, dan menggunakan jalur metabolik alternatif.

Upaya Mengatasi: Apa yang Sudah Dilakukan?

Para ilmuwan dan pembuat kebijakan sepakat bahwa solusi untuk AMR tidak bisa hanya dari satu sektor saja. Dibutuhkan pendekatan menyeluruh yang dikenal sebagai One Health, yaitu kolaborasi antara kesehatan manusia, kesehatan hewan, dan kesehatan lingkungan.

Beberapa strategi yang kini sedang dikembangkan antara lain:

  1. Penggunaan alternatif alami
    • Ekstrak tumbuhan dengan sifat antibakteri.
    • Probiotik yang membantu menjaga keseimbangan mikroba baik di tubuh hewan.
    • Enzim atau peptida antimikroba yang bekerja lebih spesifik.
  2. Teknologi baru
    • Nanoteknologi untuk menghantarkan obat lebih efektif.
    • Penggunaan biochar (arang hayati) untuk mengikat antibiotik dalam tanah agar tidak menyebar.
    • Pencernaan anaerob (anaerobic digestion) yang bisa memecah residu antibiotik dalam limbah peternakan.
  3. Vaksinasi hewan
    Dengan mencegah penyakit sejak awal, kebutuhan antibiotik bisa berkurang drastis.
  4. Regulasi lebih ketat
    Beberapa negara sudah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemacu pertumbuhan. Namun, penerapannya masih belum merata secara global.

Mengapa Kita Harus Peduli?

Mungkin sebagian orang berpikir, “Kalau masalahnya di peternakan, apa hubungannya dengan saya?” Faktanya, AMR tidak mengenal batas. Bakteri kebal bisa menyebar lewat makanan, perjalanan internasional, atau bahkan udara.

Jika antibiotik tidak lagi efektif, operasi kecil seperti pencabutan gigi atau melahirkan dengan operasi caesar bisa menjadi sangat berisiko. Penyakit infeksi biasa yang dulu bisa disembuhkan, seperti pneumonia atau infeksi saluran kencing, bisa berujung fatal.

Selain itu, harga pangan juga bisa terdampak. Jika ternak sering sakit dan produktivitas menurun, biaya produksi naik, dan konsumenlah yang akhirnya harus membayar lebih mahal.

Apa yang Bisa Kita Lakukan?

Sebagai konsumen, kita juga punya peran besar dalam melawan AMR. Beberapa langkah sederhana yang bisa dilakukan antara lain:

  • Pilih produk hewani dari sumber terpercaya, terutama yang memiliki label bebas antibiotik atau organik.
  • Masak makanan hingga matang untuk meminimalkan risiko bakteri bertahan hidup.
  • Bijak menggunakan antibiotik: jangan meminta antibiotik jika tidak perlu, dan selalu ikuti anjuran dokter sampai tuntas.
  • Dukung kebijakan ramah lingkungan yang mendorong peternakan berkelanjutan.

Menuju Masa Depan Tanpa “Kuman Kebal”

Masalah AMR memang rumit, melibatkan ilmu pengetahuan, ekonomi, politik, dan perilaku masyarakat. Namun, kabar baiknya, banyak solusi sedang dikembangkan. Jika kolaborasi global bisa berjalan dengan baik, masa depan yang lebih aman tanpa ancaman besar dari kuman kebal bukanlah hal yang mustahil.

Peternakan berkelanjutan, penggunaan antibiotik secara bijak, serta peningkatan kesadaran masyarakat adalah kunci. Pada akhirnya, menjaga agar antibiotik tetap ampuh bukan hanya tanggung jawab dokter atau peternak, tapi tanggung jawab kita semua.

Antibiotik adalah salah satu penemuan terbesar dalam sejarah manusia. Namun, jika tidak digunakan dengan bijak, senjata ini bisa berbalik menjadi ancaman. Resistensi antimikroba adalah krisis nyata yang sedang kita hadapi, meski tidak selalu terlihat sehari-hari. Dengan langkah bersama dari kandang ternak hingga dapur rumah tangga, kita bisa melindungi kesehatan generasi mendatang dan memastikan ketersediaan pangan tetap terjaga.

Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan

REFERENSI:

Robles-Jimenez, Lizbeth E dkk. 2025. Recent Developments in Antibiotic Contamination of Animal Products, Soil, and Water Worldwide–A Review. Annals of Animal Science 25 (1), 83-102.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top