Setiap hari, industri pertanian dan pangan menghasilkan limbah dalam jumlah yang luar biasa besar. Limbah di sini artinya sisa-sisa bahan dari proses produksi yang biasanya tidak lagi dimanfaatkan, lalu hanya dibuang.
Salah satu contohnya datang dari pengolahan biji bunga matahari. Biji ini sering kita kenal sebagai camilan, bahan untuk membuat minyak nabati, atau campuran dalam pakan ternak. Saat biji bunga matahari diproses, ada bagian yang biasanya terbuang, yaitu kulit bijinya. Kulit biji bunga matahari ini keras, tipis, dan sering dianggap tidak ada nilainya.
Mengapa? Karena kulit tersebut punya kandungan nutrisi yang sangat rendah, sehingga kurang cocok dipakai sebagai pakan hewan. Selain itu, teksturnya yang keras dan seratnya yang sulit dicerna membuatnya susah diolah kembali menjadi bahan baku lain. Akibatnya, banyak industri hanya menumpuk atau membuang kulit biji bunga matahari ini begitu saja, sehingga ia masuk kategori limbah pertanian.
Padahal, jika diteliti lebih jauh, limbah seperti ini sebenarnya punya potensi untuk dimanfaatkan kembali, misalnya sebagai bahan bakar biomassa, kompos, atau bahkan bahan campuran dalam pembuatan produk industri tertentu.
Padahal, jika hanya menumpuk di tempat pembuangan, limbah pertanian bisa mencemari lingkungan dan melepaskan gas rumah kaca. Karena itu, para peneliti mulai mencari cara untuk memanfaatkan limbah ini agar lebih bermanfaat, salah satunya dengan mengubahnya menjadi energi.
Kulit biji bunga matahari dapat digunakan sebagai bahan baku energi terbarukan atau bioenergi. Dua cara utama yang diteliti adalah:
- Pembakaran biomassa (biomass combustion)
Kulit biji dibakar untuk menghasilkan panas. Panas ini bisa menggantikan penggunaan bahan bakar fosil seperti gas alam atau batu bara. Abu sisa pembakaran juga bisa dipakai sebagai pupuk. - Pencernaan anaerob (anaerobic digestion)
Limbah difermentasi dalam kondisi tanpa oksigen untuk menghasilkan biogas, yang bisa dipakai sebagai sumber energi. Sisa fermentasinya (digestate) juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk.
Kedua metode ini sama-sama mengubah limbah menjadi energi, tetapi dampak lingkungannya berbeda.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
Hasil Penelitian: Mana yang Lebih Baik?
Penelitian terbaru menilai dampak lingkungan dari kedua metode tersebut dengan pendekatan Life Cycle Assessment (LCA), yakni analisis jejak karbon, efisiensi energi, hingga dampak bagi lingkungan secara keseluruhan.
Hasilnya cukup mengejutkan:
- Pembakaran biomassa lebih ramah lingkungan dibanding pencernaan anaerob, terutama dalam hal efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon.
- Dari setiap ton kulit bunga matahari, pembakaran menghasilkan pengurangan emisi karbon sebesar ±416 kg CO₂-ekuivalen, sementara pencernaan anaerob justru bisa menghasilkan tambahan emisi metana jika tidak dikelola dengan baik.
- Pembakaran juga lebih stabil dalam menghasilkan energi (sekitar 15,7 juta ton panas), sedangkan pencernaan anaerob lebih sensitif terhadap kebocoran metana.

Dampak bagi Pertanian dan Peternakan
Mengubah limbah pertanian menjadi energi tidak hanya berdampak pada industri energi, tetapi juga peternakan. Bagaimana bisa?
- Mengurangi ketergantungan pada fosil
Peternakan modern membutuhkan energi untuk listrik, pengolahan pakan, dan sistem kandang. Jika energi ini berasal dari bioenergi limbah pertanian, biaya bisa ditekan sekaligus menurunkan emisi gas rumah kaca. - Sisa pembakaran dan fermentasi bisa jadi pupuk
Abu dari pembakaran biomassa maupun digestate dari pencernaan anaerob bisa dipakai kembali ke lahan pertanian sebagai pupuk alami. Hal ini membantu siklus nutrisi agar tetap berputar, sehingga tanaman pakan ternak tumbuh lebih baik tanpa harus bergantung sepenuhnya pada pupuk kimia. - Mengurangi pencemaran
Limbah kulit biji bunga matahari yang sebelumnya hanya menumpuk kini bisa diolah, mengurangi resiko polusi udara maupun air yang bisa berdampak pada kesehatan hewan ternak.

Tantangan di Lapangan
Meskipun hasil penelitian menunjukkan pembakaran biomassa lebih unggul, tetap ada tantangan yang perlu diatasi:
- Investasi awal: Membangun fasilitas pembakaran biomassa butuh biaya besar.
- Skala produksi: Tidak semua daerah menghasilkan limbah bunga matahari dalam jumlah cukup.
- Pengelolaan emisi: Meskipun lebih baik, pembakaran tetap menghasilkan gas buang yang harus dikendalikan.
Sementara itu, pencernaan anaerob punya keunggulan menghasilkan biogas yang fleksibel, tetapi risikonya adalah kebocoran metana yang bisa memperparah efek rumah kaca jika tidak diawasi ketat.
Peluang Masa Depan
Jika diterapkan secara luas, konsep waste-to-energy atau mengubah limbah menjadi energi bisa menjadi solusi berlapis:
- Bagi petani: ada tambahan nilai ekonomi dari limbah yang tadinya dianggap tidak berguna.
- Bagi peternak: ada peluang mendapatkan energi lebih murah dan pupuk alami untuk ladang hijauan pakan.
- Bagi lingkungan: berkurangnya ketergantungan pada bahan bakar fosil dan lebih sedikit emisi gas rumah kaca.
Penelitian ini juga memberi gambaran bahwa keputusan teknologi tidak bisa hanya dilihat dari sisi produksi energi, tetapi juga dari dampak lingkungannya secara keseluruhan.
Kulit biji bunga matahari, yang biasanya dianggap sampah, ternyata bisa jadi kunci menuju pertanian dan peternakan yang lebih ramah lingkungan. Dengan memanfaatkan metode pembakaran biomassa, kita bisa mendapatkan energi, mengurangi emisi, sekaligus menciptakan pupuk alami untuk lahan.
Namun, pilihan teknologi harus disesuaikan dengan kondisi lokal—ketersediaan limbah, kebutuhan energi, dan kemampuan mengelola emisi. Yang jelas, penelitian ini menegaskan bahwa masa depan pertanian dan peternakan tidak hanya soal menghasilkan pangan, tetapi juga soal bagaimana mengelola limbah dengan bijak untuk keberlanjutan bumi.
Baca juga artikel tentang: Domestikasi Wader: Menjaga Keanekaragaman, Menambah Penghasilan
REFERENSI:
Ieremia, Villi dkk. 2025. Waste-to-energy treatment of agro-industrial residues: A life cycle assessment of sunflower hulls to generate bioenergy. Journal of Cleaner Production 506, 145465.


