Ketika mendengar kata sapi perah, banyak orang mungkin langsung membayangkan pemandangan sapi yang santai sedang mengunyah rumput di padang hijau. Gambaran itu memang indah, tetapi bagi peternak, kenyataannya memberi makan sapi perah jauh lebih rumit daripada sekadar menyediakan rumput.
Hal ini karena rumput saja tidak cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan gizi sapi perah, terutama pada masa-masa tertentu dalam siklus hidupnya. Sama seperti manusia yang membutuhkan asupan gizi berbeda di setiap tahap kehidupan (misalnya saat hamil atau menyusui), sapi perah juga memerlukan pakan khusus sesuai fase produksinya.
Salah satu masa yang paling krusial adalah periode kering. Periode kering adalah fase ketika sapi perah berhenti diperah (tidak menghasilkan susu) menjelang kelahiran anak berikutnya. Masa ini biasanya berlangsung sekitar 6–8 minggu sebelum melahirkan.
Meskipun sapi tidak sedang menghasilkan susu, kebutuhan nutrisinya tetap tinggi, karena tubuhnya sedang mempersiapkan kelahiran anak serta mempersiapkan diri untuk memproduksi susu kembali setelah melahirkan. Jika pada periode ini pakan tidak diatur dengan baik, risiko masalah kesehatan meningkat, misalnya kesulitan melahirkan, produksi susu rendah setelah beranak, atau gangguan metabolisme.
Dengan kata lain, bagi peternak, memberi makan sapi perah bukan hanya soal kenyang, tetapi soal strategi gizi yang tepat di setiap tahap kehidupannya, terutama pada periode kering yang menentukan keberhasilan laktasi berikutnya.
Salah satu aspek nutrisi yang sering luput diperhatikan adalah mikromineral, seperti seng (Zn), mangan (Mn), dan kobalt (Co). Walaupun dibutuhkan dalam jumlah kecil, peran mereka sangat besar. Seng berperan penting dalam kekebalan tubuh, mangan mendukung pertumbuhan tulang dan reproduksi, sementara kobalt diperlukan untuk pembentukan vitamin B12 yang berhubungan dengan metabolisme energi.
Masalahnya, mineral ini kadang sulit tersedia dalam jumlah cukup hanya dari pakan alami. Inilah yang mendorong peneliti untuk mencari cara cerdas meningkatkan kualitas nutrisi sapi pada periode kering.
Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan
Solusi: Kompleks Mineral Campuran (Mixed Ligand Complexes)
Sebuah penelitian terbaru mencoba pendekatan baru: memberikan kompleks mineral campuran yang menggabungkan seng, mangan, dan kobalt. Alih-alih diberikan secara terpisah, ketiga mineral ini dipadukan dalam bentuk senyawa khusus yang disebut mixed ligand complexes.
Kenapa penting? Karena bentuk kompleks ini membuat mineral lebih mudah diserap oleh tubuh sapi, sehingga efeknya lebih optimal. Bayangkan seperti memberikan vitamin dalam bentuk kapsul yang larut cepat—tubuh akan lebih mudah memanfaatkannya.
Bagaimana Peneliti Mencobanya?
Penelitian dilakukan pada sapi perah dalam dua fase periode kering:
- Periode kering awal
- Sapi diberi pakan dengan kadar mineral rendah: sekitar 31,5 mg Zn dan Mn, serta 0,41 mg Co per kilogram bahan kering.
- Periode kering akhir (mendekati kelahiran)
- Konsentrasi mineral ditingkatkan: 35 mg Zn dan Mn, serta 0,49 mg Co per kilogram bahan kering.
Hasilnya kemudian dibandingkan dengan kelompok sapi yang tidak mendapat tambahan mineral kompleks ini.
Hasil Mengejutkan: Sapi Lebih Sehat dan Produktif
Peneliti menemukan bahwa pemberian kompleks mineral campuran ini membawa banyak keuntungan nyata:
- Mengurangi kebutuhan tenaga kerja
Sapi yang diberi mineral campuran lebih mudah ditangani, lebih sehat, dan jarang butuh intervensi medis. - Meningkatkan efisiensi reproduksi
Masa antara satu kelahiran dengan kelahiran berikutnya (service period) menjadi lebih singkat. Artinya, sapi lebih cepat kembali bunting setelah melahirkan. - Mengurangi jumlah inseminasi
Biasanya, peternak harus melakukan inseminasi buatan beberapa kali sebelum sapi berhasil bunting. Dengan tambahan mineral ini, jumlah percobaan menurun drastis. - Produktivitas naik
Sapi menghasilkan lebih banyak susu pada masa laktasi berikutnya, berkat kondisi tubuh yang lebih siap dan sehat.

Bagi peternak sapi perah, periode kering adalah investasi. Jika dikelola dengan baik, sapi akan lebih sehat, lebih subur, dan lebih produktif. Penambahan mikromineral dalam bentuk mixed ligand complexes bisa menjadi strategi murah tapi efektif untuk meningkatkan hasil jangka panjang.
Lebih jauh, manfaatnya tidak hanya untuk peternak. Dengan sapi yang lebih sehat, kualitas susu juga lebih baik, yang pada akhirnya bermanfaat bagi konsumen.
Tantangan di Lapangan
Namun, tentu saja penerapan di lapangan tidak selalu mulus. Beberapa tantangan yang mungkin muncul:
- Biaya tambahan
Membeli premiks mineral kompleks memang menambah biaya pakan. Tapi jika dihitung dari keuntungan hasil susu dan reproduksi, investasi ini bisa balik modal dengan cepat. - Pengetahuan peternak
Tidak semua peternak memahami pentingnya mineral dalam pakan. Edukasi menjadi kunci agar inovasi ini benar-benar diterapkan. - Ketersediaan produk
Di beberapa daerah, akses terhadap produk premiks mineral modern masih terbatas. Dibutuhkan dukungan dari industri pakan dan kebijakan pemerintah untuk memperluas distribusi.
Masa Depan: Nutrisi Sapi yang Lebih Presisi
Penelitian ini menunjukkan bahwa masa depan peternakan bukan lagi soal memberi makan seadanya, tetapi nutrisi presisi. Sama seperti manusia yang butuh diet seimbang dengan vitamin dan mineral, sapi juga memerlukan perlakuan serupa.
Dengan perkembangan ilmu nutrisi hewan, kita bisa semakin spesifik: berapa miligram mineral yang dibutuhkan, kapan waktu terbaik memberikannya, dan bagaimana cara terbaik agar tubuh sapi bisa menyerapnya.
Dari luar, memberi makan sapi mungkin terlihat sederhana. Namun, penelitian ini membuka mata kita bahwa detail kecil seperti tambahan seng, mangan, dan kobalt bisa membuat perbedaan besar dalam kesehatan, kesuburan, dan produktivitas sapi perah.
Bagi peternak, ini bukan sekadar soal memberi makan, tapi soal merawat aset berharga mereka dengan ilmu pengetahuan modern. Dan bagi kita sebagai konsumen, setiap gelas susu yang lebih bergizi dan aman berasal dari perawatan kecil yang penuh perhitungan di peternakan.
Baca juga artikel tentang: Pakan Ternak Lokal, Harapan Besar Peternakan Unggas Berkelanjutan
REFERENSI:
Kropyvka, Yurij dkk. 2025. Effectiveness of using mixed ligand complexes of Zinc, Manganese and Cobalt in feeding dry stable cows. Acta Scientiarum. Animal Sciences 47, e69275.


