Selama ini, kita terbiasa melihat pertanian dan perikanan berjalan terpisah. Di satu sisi ada sawah tempat petani menanam padi atau tanaman pangan lainnya, sementara di sisi lain ada kolam atau tambak tempat ikan dipelihara. Keduanya seolah berdiri sendiri, tanpa hubungan langsung satu sama lain.
Namun, pernahkah Anda membayangkan jika kedua sistem ini digabungkan dalam satu kesatuan sehingga saling memberikan manfaat? Inilah konsep integrasi pertanian-perikanan, yaitu cara mengelola sawah dan kolam ikan dalam satu ekosistem yang saling mendukung. Misalnya, sisa pakan dan kotoran ikan bisa menjadi pupuk alami bagi tanaman padi, sementara tanaman padi membantu menjaga kualitas air serta menyediakan habitat yang lebih nyaman untuk ikan.
Dengan sistem seperti ini, petani bisa memperoleh dua hasil sekaligus (beras dari sawah dan ikan dari kolam) tanpa harus memperluas lahan. Selain lebih efisien, cara ini juga ramah lingkungan karena memanfaatkan siklus alami antara tanaman dan hewan.
Inilah yang disebut pertanian ekologi terintegrasi (integrated agro-aquaculture ecological farming). Konsep ini berusaha menyatukan pertanian dan akuakultur sehingga tercipta sistem produksi pangan yang lebih efisien, ramah lingkungan, dan berkelanjutan.
Sebuah penelitian terbaru yang terbit di Asian Agricultural Research (2025) mencoba mempraktikkan sistem ini dengan mengombinasikan budidaya ikan dalam keramba (in-pond cage farming), sirkulasi air, serta penanaman padi di atas rakit bio-floating. Hasilnya? Ternyata gabungan ini tidak hanya menghasilkan lebih banyak ikan, tetapi juga mengurangi pencemaran air secara signifikan.
Baca juga artikel tentang: Daging Kelinci: Potensi Tersembunyi di Dunia Peternakan
Bagaimana Sistem Ini Bekerja?
Penelitian dilakukan di tiga kolam uji dan tiga kolam kontrol. Pada kolam uji, dipasang keramba berukuran 6 × 9 meter dengan kapasitas 5 ton setiap 667 meter persegi. Air kolam dilengkapi alat sirkulasi dan oksigenasi, serta di bagian tepi dipasang bio-floating beds rakit yang bisa ditanami padi.
Sementara itu, kolam kontrol hanya menggunakan aerasi sederhana tanpa sistem terintegrasi.
Baik kolam uji maupun kontrol sama-sama diisi ikan dengan jumlah, ukuran, dan jenis yang sama: crucian carp (ikan mas perak), silver carp, dan bighead carp. Dengan begitu, perbandingan hasil bisa lebih akurat.
Hasil yang Mengejutkan
Hasil penelitian menunjukkan perbedaan mencolok antara kolam uji (integrated) dan kolam kontrol (konvensional).
- Kualitas Air Lebih Baik
- Total nitrogen turun 50,69%
- Amonium nitrogen turun 69,12%
- Total fosfor turun 62,62%
- Fosfat turun 54,20%
- Produktivitas Ikan Meningkat
- Ukuran panen crucian carp meningkat 5,25%
- Tingkat kelangsungan hidup naik 7,58%
- Hasil panen per unit luas naik 13,28%
- Rasio konversi pakan (feed conversion ratio/FCR) menurun 4,72%
- Efisiensi Lahan
Dengan adanya tanaman padi di atas rakit, kolam tidak hanya menghasilkan ikan, tetapi juga tambahan hasil pertanian. Padi berfungsi sekaligus sebagai penyerap nutrien berlebih, sehingga mengurangi polusi air.

Mengapa Ini Penting?
Sistem konvensional sering menghadapi masalah serius:
- Eutrofikasi: Penumpukan nitrogen dan fosfor dari pakan ikan menyebabkan kualitas air menurun, oksigen berkurang, dan ikan rentan mati.
- Pemborosan Sumber Daya: Lahan dan air hanya dipakai untuk satu komoditas.
- Efisiensi Rendah: Rasio pakan yang tinggi membuat biaya produksi besar.
Dengan pendekatan agro-aquaculture, masalah-masalah ini bisa ditekan. Air yang lebih bersih membuat ikan lebih sehat, tanaman padi tumbuh dengan memanfaatkan nutrien berlebih, dan hasil produksi meningkat tanpa menambah luas lahan.
Manfaat Lingkungan
Selain meningkatkan produksi, sistem ini juga ramah lingkungan:
- Mengurangi Limbah: Padi dan bio-floating beds berfungsi sebagai penyaring alami, menyerap zat-zat berlebih yang biasanya mencemari air.
- Siklus Nutrien Lebih Seimbang: Limbah dari ikan menjadi “pupuk” bagi tanaman, sementara tanaman membantu menjaga kualitas air.
- Kontribusi pada Mitigasi Perubahan Iklim: Dengan pakan lebih efisien dan limbah berkurang, emisi gas rumah kaca dari produksi ikan dapat ditekan.
Tantangan Implementasi
Meski terbukti menjanjikan, penerapan sistem ini di lapangan menghadapi beberapa hambatan:
- Biaya Awal: Membuat keramba, sistem sirkulasi, dan rakit bio-floating butuh modal yang tidak sedikit.
- Pengetahuan Teknis: Petani dan pembudidaya perlu dilatih untuk mengelola sistem yang lebih kompleks.
- Kesadaran Pasar: Konsumen perlu diyakinkan bahwa produk dari sistem terintegrasi lebih sehat dan ramah lingkungan, sehingga layak dihargai lebih tinggi.
Harapan ke Depan
Jika teknologi ini bisa diperluas, maka:
- Petani dan peternak ikan bisa berkolaborasi, menghasilkan dua komoditas sekaligus dari lahan yang sama.
- Pendapatan petani meningkat karena diversifikasi hasil panen.
- Lingkungan lebih terlindungi, terutama kualitas air dan kesehatan ekosistem perairan.
Bayangkan sebuah desa di mana kolam ikan tidak hanya menghasilkan ikan segar, tetapi juga padi dari rakit terapung. Limbah berkurang, panen melimpah, dan masyarakat pesisir bisa hidup lebih sejahtera.
Penelitian Xu dan kolega (2025) menunjukkan bahwa pertanian dan perikanan tidak harus berjalan sendiri-sendiri. Dengan pendekatan ekologi terintegrasi, keduanya justru bisa saling menguatkan.
Hasil penelitian membuktikan bahwa sistem ini mampu meningkatkan hasil ikan lebih dari 13%, menurunkan pencemaran air hingga 60%, dan sekaligus menghasilkan padi. Sebuah solusi nyata bagi ketahanan pangan sekaligus keberlanjutan lingkungan.
Masa depan pangan bukan hanya soal memilih antara sawah atau tambak, tetapi bagaimana sawah dan tambak bisa hidup berdampingan dalam harmoni ekologi.
Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk
REFERENSI:
Xu, Ning dkk. 2025. Research on Integrated Agro-Aquaculture Ecological Farming Technology. Asian Agricultural Research 17 (3), 48-52.


