Ketika Ternak dan Satwa Liar Berebut Padang Rumput: Pelajaran dari Kenya

Afrika sering digambarkan sebagai rumah bagi satwa liar ikonik: gajah, zebra, wildebeest, hingga singa yang gagah berani. Namun, ada cerita lain yang jarang terdengar, kisah tentang peternakan intensif yang semakin menekan ruang hidup satwa liar.

Di Kenya, khususnya di Cagar Alam Nasional Maasai Mara, konflik ini semakin nyata. Wilayah yang terkenal dengan migrasi besar-besaran wildebeest setiap tahun itu kini menghadapi tantangan baru: semakin banyak lahan yang digunakan untuk penggembalaan ternak.

Bagi masyarakat lokal, beternak adalah sumber kehidupan. Sapi, domba, dan kambing adalah aset berharga yang menyediakan daging, susu, dan pendapatan. Namun, ketika jumlah ternak meningkat drastis, satwa liar yang berbagi padang rumput yang sama harus menanggung akibatnya.

Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C

Penelitian yang Mengundang Perdebatan

Sebuah studi baru-baru ini mencoba menganalisis dampak peternakan terhadap satwa liar. Peneliti tersebut berargumen bahwa penggembalaan ternak tidak secara signifikan memengaruhi populasi satwa liar di Mara. Mereka bahkan menyimpulkan bahwa peternakan bisa berjalan beriringan dengan konservasi.

Namun, studi itu menuai kritik keras dari ilmuwan lain. Menurut para pengkritik, penelitian tersebut hanya berlangsung dalam waktu singkat dan menggunakan data terbatas, sehingga tidak mampu menangkap gambaran besar yang lebih kompleks.

Bayangkan mencoba menilai kesehatan seseorang hanya dengan memeriksa tekanan darah satu kali, tentu hasilnya tidak bisa mewakili kondisi sebenarnya. Begitu pula dengan studi ini: terlalu singkat untuk benar-benar memahami dampak jangka panjang.

Data Lapangan yang Menceritakan Kisah Berbeda

Sejak 1977, lembaga pemerintah Kenya bernama Directorate of Resource Surveys and Remote Sensing (DRSRS) secara rutin melakukan survei udara terhadap satwa liar. Hasilnya cukup mengejutkan: lebih dari 70% populasi satwa liar besar mengalami penurunan dalam kurun waktu beberapa dekade terakhir.

  • Gajah berkurang drastis.
  • Wildebeest, zebra, dan gazelle juga turun jumlahnya.
  • Beberapa spesies bahkan menghadapi risiko kepunahan lokal.

Sementara itu, jumlah ternak meningkat tajam, domba naik hingga 269% dan sapi naik 13%. Ketimpangan ini menimbulkan pertanyaan: apakah benar ternak dan satwa liar bisa berbagi ruang tanpa masalah?

Grafik ini menunjukkan bahwa peningkatan biomassa ternak di ekosistem Mara berkorelasi dengan penurunan biomassa dan keanekaragaman satwa liar, baik spesies menetap maupun migrasi, terutama di luar batas kawasan lindung, sementara dominasi ternak semakin meningkat dari waktu ke waktu.

Menggembalakan ternak bukan sekadar soal rumput yang dimakan. Kehadiran ribuan ternak di padang rumput menyebabkan:

  1. Persaingan Makanan – Rumput yang seharusnya menjadi santapan zebra atau wildebeest habis lebih dulu oleh sapi.
  2. Gangguan Habitat – Ternak membutuhkan jalur, kandang sementara, dan akses air. Semua itu mengubah lanskap alami.
  3. Dampak Berantai – Jika herbivora berkurang, predator seperti singa dan cheetah juga kehilangan mangsa, yang pada akhirnya mengguncang keseimbangan ekosistem.
  4. Konflik Manusia-Satwa Liar – Ketika satwa liar kekurangan makanan, mereka bisa mendekati permukiman manusia dan memicu konflik, misalnya gajah yang merusak ladang.

Selain itu, penelitian menunjukkan bahwa satwa liar cenderung menghindari area dengan ternak padat, terutama saat musim kering. Artinya, semakin banyak ternak, semakin sempit ruang hidup satwa liar.

Dilema Sosial dan Budaya

Tidak adil jika hanya menyalahkan masyarakat pastoral (penggembala). Bagi komunitas Maasai, misalnya, kepemilikan ternak bukan hanya soal ekonomi, tapi juga status sosial dan identitas budaya. Mengurangi jumlah ternak berarti juga mengubah cara hidup yang sudah diwariskan turun-temurun.

Namun, tanpa pengelolaan yang bijak, konflik antara kebutuhan manusia dan keberlangsungan satwa liar akan semakin sulit dihindari.

Gambar ini menunjukkan perubahan signifikan di wilayah Masai Mara dari waktu ke waktu, dengan peningkatan tajam populasi manusia, pemukiman, pagar, serta jumlah ternak (domba, kambing, dan sapi), yang berdampak pada penurunan tutupan vegetasi alami.

Pertanyaannya: apakah ada cara agar ternak dan satwa liar bisa hidup berdampingan? Beberapa solusi yang mulai diuji coba antara lain:

  1. Rotasi Penggembalaan
    Dengan memindahkan ternak secara bergiliran, padang rumput punya kesempatan untuk pulih. Ini mirip dengan konsep “istirahat lahan” dalam pertanian.
  2. Zona Khusus
    Membatasi area tertentu hanya untuk satwa liar, sementara ternak digiring ke wilayah lain yang lebih sesuai.
  3. Pengelolaan Berbasis Komunitas
    Memberdayakan masyarakat lokal agar ikut serta dalam konservasi. Misalnya, peternak mendapat insentif finansial jika menjaga populasi satwa liar tetap stabil.
  4. Inovasi Pakan Alternatif
    Mengurangi ketergantungan ternak pada padang rumput dengan menyediakan pakan tambahan dari hasil pertanian lokal atau teknologi fermentasi.

Pentingnya Perspektif Jangka Panjang

Konservasi satwa liar bukan pekerjaan instan. Ia membutuhkan data jangka panjang, pemantauan terus-menerus, dan kesediaan untuk mengakui kerumitan masalah.

Studi singkat yang menyimpulkan bahwa ternak tidak berdampak buruk pada satwa liar berisiko memberi kesan keliru kepada pembuat kebijakan. Padahal, bukti jangka panjang menunjukkan penurunan drastis satwa liar yang nyata dan mengkhawatirkan.

Menjaga Keseimbangan

Peternakan adalah kebutuhan, tapi satwa liar juga bagian penting dari identitas dan ekosistem Afrika. Kehilangan satwa liar berarti kehilangan daya tarik wisata alam yang menjadi sumber devisa besar bagi Kenya. Selain itu, satwa liar berperan penting menjaga keseimbangan ekologi, mulai dari menyebarkan biji tanaman hingga mengendalikan populasi hewan lain.

Karenanya, mencari keseimbangan adalah kunci: bagaimana memberi ruang bagi ternak tanpa mengorbankan satwa liar.

Kisah Maasai Mara adalah pengingat bahwa setiap kebijakan harus dilihat dari dua sisi: kepentingan manusia dan keberlangsungan alam. Studi jangka pendek mungkin bisa memberikan gambaran sekilas, tapi hanya penelitian jangka panjanglah yang benar-benar menunjukkan dampaknya.

Jika kita ingin masa depan di mana anak cucu masih bisa melihat zebra berlari bebas atau mendengar auman singa di padang rumput Afrika, maka kebijakan peternakan harus dibuat dengan hati-hati berdasarkan data, bukan asumsi sesaat.

Baca juga artikel tentang: Daging Kelinci: Potensi Tersembunyi di Dunia Peternakan

REFERENSI:

Ogutu, Joseph O dkk. 2025. Short-term study fails to capture negative impacts of livestock intensification on wildlife. Proceedings of the National Academy of Sciences 122 (23), e2502418122.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top