Dalam dunia peternakan babi, ada satu tahap yang sangat penting dan penuh tantangan, yaitu masa penyapihan. Penyapihan adalah proses ketika anak babi berhenti minum susu induknya dan mulai beralih ke pakan padat. Tahap ini mirip seperti saat bayi manusia berhenti minum ASI dan mulai belajar makan makanan pendamping.
Pada masa penyapihan, tubuh anak babi mengalami banyak perubahan besar. Mereka harus beradaptasi dengan jenis makanan baru, sistem pencernaannya berkembang untuk bisa mencerna pakan padat, dan tubuhnya juga mulai membangun daya tahan (sistem imun) yang lebih mandiri tanpa bantuan perlindungan dari susu induknya.
Karena itu, peternak sering dihadapkan pada pertanyaan penting: berapa banyak pakan yang ideal untuk diberikan pada anak babi? Jumlah pakan yang tepat akan membantu anak babi tumbuh sehat, memiliki usus yang berkembang optimal, serta sistem kekebalan tubuh yang kuat. Sebaliknya, jika pakan terlalu sedikit, pertumbuhan bisa terhambat, sedangkan jika berlebihan atau tidak sesuai kandungan nutrisinya, bisa menimbulkan masalah pencernaan atau kesehatan lainnya.
Dengan kata lain, masa penyapihan bukan sekadar soal memberi makan, tetapi juga tentang mengatur strategi nutrisi agar anak babi bisa tumbuh dengan baik dan siap menghadapi tahap-tahap berikutnya dalam siklus hidupnya.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Animal Science tahun 2025 meneliti hal ini secara mendalam. Fokusnya adalah bagaimana tingkat asupan pakan berbeda (100%, 80%, 40%, dan 20% dari kebutuhan normal) memengaruhi morfologi usus (bentuk dan struktur usus) serta diferensiasi sel epitel (proses pembentukan berbagai jenis sel pelapis usus) pada anak babi hasil persilangan Large White × Landrace × Duroc.
Hasil penelitian ini memberi gambaran penting: jumlah pakan yang dikonsumsi ternyata tidak hanya memengaruhi berat badan, tetapi juga kondisi usus, kesehatan, dan bahkan mekanisme pertahanan tubuh anak babi.
Baca juga artikel tentang: Domestikasi Wader: Menjaga Keanekaragaman, Menambah Penghasilan
Kenapa Usus Itu Penting?
Usus bukan sekadar organ pencernaan tempat makanan diolah. Usus merupakan “gerbang utama” yang menentukan apakah nutrisi bisa terserap dengan baik dan bagaimana tubuh melawan bibit penyakit.
Di dalam usus terdapat jutaan sel epitel yang tersusun rapi seperti pagar. Sel-sel ini punya fungsi berbeda-beda, misalnya:
- Enterosit: menyerap nutrisi dari pakan.
- Sel goblet: menghasilkan lendir untuk melindungi dinding usus.
- Sel enteroendokrin: mengatur pelepasan hormon pencernaan.
Ketika asupan pakan berubah, keseimbangan sel-sel ini juga ikut terpengaruh. Jika sel pelapis usus tidak sehat, anak babi bisa mengalami masalah pencernaan, pertumbuhan lambat, atau rentan terkena infeksi.
Para peneliti menggunakan 64 ekor anak babi sehat berusia 35 hari dengan berat rata-rata 6,93 kg. Mereka dibagi ke dalam 4 kelompok dengan tingkat konsumsi pakan berbeda:
- 100% (cukup sesuai kebutuhan normal)
- 80% (sedikit dibatasi)
- 40% (cukup ketat)
- 20% (sangat ketat)
Setiap kelompok diamati pada hari ke-3 dan ke-7 setelah perlakuan. Sampel jaringan usus diambil dari beberapa bagian penting: duodenum, jejunum, dan ileum.
Hasil yang Ditemukan
- Pertumbuhan Tubuh Menurun
Semakin besar pembatasan pakan, semakin rendah berat badan dan ukuran organ anak babi. Dengan kata lain, pembatasan asupan yang terlalu ketat jelas menghambat pertumbuhan. - Perubahan Bentuk Usus
- Tinggi vili (tonjolan kecil di usus yang menyerap nutrisi) berkurang secara bertahap ketika pakan dibatasi.
- Kedalaman kripta (lekukan di dasar vili tempat sel baru terbentuk) juga menurun.
- Namun, rasio antara keduanya kadang meningkat pada pembatasan ekstrem, menunjukkan adanya usaha kompensasi usus untuk tetap bekerja.
- Sel-Sel Pelapis Usus Terganggu
Pada kondisi pakan sangat terbatas, jumlah sel goblet, sel endokrin, dan sel lain yang penting untuk pencernaan ikut menurun. Ini bisa melemahkan perlindungan usus dan membuat anak babi rentan diare atau infeksi. - Peran Sistem Kekebalan Tubuh
Menariknya, ketika pakan dibatasi hingga hari ke-7, ekspresi gen yang terkait dengan sitokin IL-17 dan IL-22 meningkat. Kedua zat ini berperan dalam menjaga keseimbangan usus dan melawan mikroba berbahaya. Namun, peningkatan ini lebih bersifat kompensasi, artinya tubuh “terpaksa bekerja keras” untuk melindungi diri akibat stres kekurangan pakan.

Apa Artinya Bagi Peternak?
Bagi peternak, penelitian ini membawa pesan penting: pemberian pakan yang tidak sesuai kebutuhan dapat berakibat besar, bukan hanya pada bobot tubuh anak babi, tetapi juga pada kesehatan usus dan imunitasnya.
- Jika pakan terlalu sedikit → pertumbuhan lambat, usus melemah, biaya pengobatan bisa naik.
- Jika pakan cukup → pertumbuhan optimal, usus sehat, sistem imun lebih siap menghadapi penyakit.
Dengan kata lain, hemat pakan belum tentu hemat biaya. Justru, pembatasan pakan yang terlalu ketat bisa menyebabkan kerugian lebih besar karena anak babi tumbuh tidak maksimal dan mudah sakit.
Perspektif Ilmu Sains
Secara ilmiah, penelitian ini juga membuka wawasan baru tentang bagaimana nutrisi berinteraksi dengan gen dan sel tubuh. Aktivasi jalur sinyal seperti PPAR dan interaksi dengan reseptor ECM menunjukkan bahwa tubuh hewan punya mekanisme rumit untuk menyesuaikan diri ketika menghadapi kekurangan pakan. Namun, adaptasi ini tidak selalu menguntungkan, terutama dalam jangka panjang.
Penelitian ini menegaskan bahwa pemberian pakan sesuai kebutuhan adalah kunci dalam pemeliharaan anak babi. Pembatasan pakan secara berlebihan memang bisa menekan biaya sementara, tetapi efek sampingnya jauh lebih besar: pertumbuhan terganggu, usus tidak berkembang optimal, dan sistem kekebalan bekerja ekstra keras.
Bagi peternak modern, memahami hubungan antara pakan, usus, dan kesehatan anak babi sangatlah penting. Usus yang sehat ibarat fondasi kokoh bagi rumah: tanpa itu, seluruh “bangunan” tubuh anak babi akan rapuh. Oleh karena itu, investasi pada pakan yang tepat bukanlah pemborosan, melainkan strategi untuk menjamin produktivitas dan keuntungan jangka panjang.
Baca juga artikel tentang: Tetrastigma, Herbal Ajaib yang Bisa Bikin Ayam Tumbuh Lebih Optimal
REFERENSI:
Wang, Xin dkk. 2025. Impact of different feed intake levels on intestinal morphology and epithelial cell differentiation in piglets. Journal of Animal Science 103, skae262.


