Jejak Karbon Sapi: Bisakah Aturan Lahan Menggantikan Pajak Daging?

Ketika berbicara soal perubahan iklim, salah satu topik yang sering muncul adalah emisi gas rumah kaca dari sektor peternakan, khususnya sapi. Hewan ini memang punya peran besar dalam penyediaan pangan dunia, terutama daging dan susu. Namun di balik manfaatnya, sapi juga menjadi salah satu penyumbang utama emisi metana, gas rumah kaca yang jauh lebih kuat dibanding karbon dioksida.

Artikel ilmiah terbaru yang terbit di American Journal of Agricultural Economics (2025) membahas sebuah ide menarik: bagaimana jika solusi pengurangan emisi di sektor sapi tidak hanya lewat pajak emisi atau pembatasan pakan, melainkan melalui aturan penggunaan lahan?

Dengan kata lain, alih-alih hanya fokus pada berapa banyak sapi yang dipelihara atau seberapa banyak pakan yang digunakan, kita juga perlu melihat bagaimana lahan peternakan bisa diatur untuk ikut menyerap karbon dan menjaga ekosistem.

Sapi menghasilkan gas metana melalui proses pencernaan alami mereka, khususnya lewat fermentasi enterik (pencernaan dalam rumen). Gas ini kemudian dilepaskan ke atmosfer saat sapi bersendawa.

Menurut FAO, sektor peternakan secara keseluruhan menyumbang sekitar 14,5% dari total emisi gas rumah kaca dunia. Dari jumlah itu, sapi potong dan sapi perah adalah kontributor terbesar.

Peta sebaran kebakaran global dan pembakaran sisa tanaman pertanian yang menghasilkan emisi gas rumah kaca (CO₂, CH₄, N₂O) serta tren peningkatan emisinya dari waktu ke waktu.

Selain metana, peternakan sapi juga berhubungan dengan penggunaan lahan yang sangat luas. Hutan sering ditebang untuk dijadikan padang rumput atau lahan penggembalaan. Akibatnya, potensi penyerapan karbon oleh hutan hilang, dan justru berbalik menjadi sumber emisi.

Baca juga artikel tentang: Pemuliaan Serangga: Inovasi Kecil untuk Dampak Besar di Dunia Peternakan

Pajak Daging vs. Aturan Lahan

Selama ini, salah satu pendekatan yang banyak didiskusikan adalah pajak daging (meat tax). Ide dasarnya sederhana: semakin mahal harga daging karena dikenai pajak emisi, maka konsumsi akan turun, sehingga produksi pun berkurang dan emisi menurun.

Namun, pendekatan ini punya banyak tantangan. Selain potensi penolakan masyarakat, pajak daging juga bisa membebani konsumen dengan pendapatan rendah.

Alternatif lain yang diusulkan adalah aturan penggunaan lahan (land-use regulation). Caranya? Pemerintah memberikan subsidi kepada peternak sapi agar sebagian lahannya tidak digunakan untuk produksi, melainkan dipulihkan menjadi ekosistem alami. Dengan begitu, lahan tersebut bisa berfungsi menyerap karbon (carbon sequestration), memperbaiki kualitas tanah, dan mendukung keanekaragaman hayati.

Siklus karbon pada ternak ruminansia, di mana pakan yang dimakan difermentasi oleh mikroba menghasilkan metana (CH₄) yang dilepaskan ke atmosfer, berkontribusi pada pemanasan global, sementara sebagian karbon disimpan dalam tanah dan produk ternak.

Peneliti membuat model ekonomi yang menggabungkan tiga aspek penting:

  1. Penggunaan lahan → apakah untuk produksi sapi atau dikembalikan menjadi hutan.
  2. Emisi gas rumah kaca → dari pakan, kotoran, hingga proses produksi.
  3. Sistem pakan ternak → intensif atau ekstensif.

Dalam simulasi mereka, subsidi kepada peternak yang menyisihkan lahannya untuk pemulihan ekosistem ternyata lebih efisien dibanding pajak daging atau standar pakan. Efeknya ganda:

  • Mengurangi jumlah produksi daging (ekstensif).
  • Mendorong peternak mengelola lahan secara lebih intensif namun efisien.

Dengan kata lain, peternakan tetap bisa berjalan, tapi ada insentif kuat untuk ikut berkontribusi dalam pengurangan emisi.

Studi Kasus: Prancis

Penelitian ini juga menguji model mereka pada kasus nyata di Prancis. Di sana, ketika lahan dibiarkan tidak digunakan untuk produksi, banyak yang secara alami kembali menjadi hutan (forest regrowth). Hutan inilah yang kemudian menyerap karbon dalam jumlah besar.

Hasilnya, subsidi untuk peternak yang “mengembalikan” lahannya terbukti lebih dominan dibanding kebijakan lain. Namun, ada satu catatan penting: jika perdagangan global daging tetap terbuka lebar, ada risiko carbon leakage.

Carbon leakage artinya, meski Prancis berhasil menurunkan emisi karena lahan dipulihkan, negara lain bisa saja meningkatkan produksi untuk mengisi kekosongan pasokan daging. Akibatnya, pengurangan emisi di satu negara bisa “bocor” ke negara lain.

Apa Artinya untuk Masa Depan Peternakan?

Hasil penelitian ini memberi gambaran bahwa solusi iklim tidak bisa dilihat dari satu sisi saja. Jika hanya mengatur pakan atau jumlah sapi, maka potensi penyerapan karbon dari lahan bisa terlewatkan. Sebaliknya, jika hanya fokus pada lahan, kita juga perlu memperhitungkan kebutuhan pangan global.

Maka, kombinasi kebijakan menjadi kunci:

  • Subsidi dan insentif untuk peternak yang menjaga lahan.
  • Edukasi konsumen tentang pola makan berkelanjutan.
  • Inovasi teknologi pakan untuk mengurangi produksi metana dari sapi.
  • Kerjasama internasional untuk mencegah kebocoran karbon akibat perdagangan.

Bukan Sekadar Masalah Sapi

Meski penelitian ini fokus pada sapi, sebenarnya isu yang dibahas jauh lebih luas. Ini tentang bagaimana kita menyeimbangkan kebutuhan pangan dengan keberlanjutan lingkungan.

Peternakan sapi adalah cermin dari tantangan besar yang dihadapi umat manusia: menyediakan protein hewani untuk miliaran orang, tanpa merusak planet yang kita huni.

Jika aturan lahan dan insentif finansial bisa menjadi salah satu solusi, maka ini adalah contoh nyata bahwa ilmu ekonomi, ekologi, dan peternakan harus berjalan bersama.

Perubahan iklim menuntut solusi kreatif, termasuk dari dunia peternakan. Pajak daging mungkin efektif di atas kertas, tapi tidak selalu diterima masyarakat. Aturan penggunaan lahan dengan skema subsidi bisa jadi jalan tengah yang lebih realistis: peternak tetap bisa berproduksi, sementara bumi mendapat ruang untuk bernapas kembali.

Seperti yang ditunjukkan penelitian ini, langkah kecil seperti membiarkan sebagian lahan kembali menjadi hutan bisa memberi dampak besar. Dari padang rumput yang sunyi, hutan bisa tumbuh kembali, dan bersama sapi, manusia belajar hidup lebih selaras dengan alam.

Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi

REFERENSI:

Gérard, Maxence dkk. 2025. Mitigating greenhouse gas emissions from the cattle sector: Land‐use regulation as an alternative to emissions pricing. American Journal of Agricultural Economics 107 (1), 312-345.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top