Perubahan iklim membuat musim panas semakin panjang dan suhu udara menjadi lebih sering ekstrem panas. Kondisi ini bukan hanya membuat manusia merasa kepayahan, tetapi juga sangat memengaruhi hewan ternak. Salah satu yang paling terdampak adalah sapi perah, yaitu sapi yang khusus dipelihara untuk menghasilkan susu.
Sapi perah memiliki tubuh yang relatif sensitif terhadap suhu tinggi. Saat cuaca terlalu panas, tubuh sapi sulit menjaga suhu normalnya. Kondisi ini disebut stres panas (heat stress). Akibat stres panas, sapi perah biasanya menjadi lemas, nafsu makan menurun, dan lebih rentan terhadap penyakit.
Dampak yang paling nyata bagi peternak adalah produksi susu menurun drastis. Sapi yang kepanasan akan menghasilkan susu dalam jumlah lebih sedikit dan kualitasnya pun bisa ikut turun. Selain itu, panas berlebih juga mengganggu kesehatan reproduksi sapi. Tingkat keberhasilan kawin berkurang, kesuburan menurun, bahkan bisa menyebabkan masalah kesulitan bunting.
Dengan kata lain, gelombang panas bukan hanya isu bagi manusia, tetapi juga ancaman serius bagi produktivitas ternak, khususnya sapi perah yang sangat bergantung pada kondisi lingkungan yang sejuk dan nyaman.
Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di Journal of Applied Veterinary Sciences (2025) mengungkapkan sebuah solusi menarik: penggunaan pakan tambahan herbal, khususnya produk bernama Herb-All COOL, dapat membantu sapi perah tetap sehat, produktif, dan subur meski berada dalam kondisi panas yang ekstrem.
Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi
Panas Ekstrem: Musuh Tersembunyi Sapi Perah
Sapi perah, khususnya jenis Holstein yang populer karena produksi susunya tinggi, sangat rentan terhadap heat stress (stres akibat panas). Saat suhu dan kelembapan naik, tubuh sapi kesulitan menjaga keseimbangan suhu internal. Akibatnya:
- Nafsu makan menurun, sehingga asupan nutrisi berkurang.
- Produksi susu turun signifikan.
- Sistem kekebalan tubuh melemah, membuat sapi lebih rentan penyakit.
- Masalah reproduksi, seperti sulit bunting atau butuh banyak kali inseminasi buatan.
Bagi peternak, ini berarti kerugian ganda: jumlah susu berkurang, sementara biaya kesehatan dan pemeliharaan sapi meningkat.
Pakan Tambahan Herbal: Apa Itu dan Bagaimana Bekerja?
Phytogenic Feed Additives (PFA) atau pakan tambahan berbahan herbal adalah suplemen alami yang berasal dari tanaman. Salah satu produk yang diteliti adalah Herb-All COOL, yang mengandung campuran ekstrak tumbuhan dengan sifat menenangkan, antioksidan, dan penurun stres.
Cara kerjanya sederhana tapi efektif:
- Membantu sapi lebih nyaman meski suhu lingkungan tinggi.
- Menstabilkan pola makan dan aktivitas ruminasi (mengunyah kembali pakan).
- Mendukung keseimbangan fisiologis tubuh sehingga sapi bisa tetap sehat.
Bayangkan seperti manusia yang minum jamu atau teh herbal untuk menenangkan tubuh saat kepanasan, efek serupa terjadi pada sapi!
Hasil Penelitian: Sapi Lebih Sehat, Susu Lebih Banyak
Dalam penelitian ini, sebanyak 500 ekor sapi Holstein dibagi menjadi dua kelompok:
- Kelompok kontrol: tidak diberi pakan tambahan herbal.
- Kelompok perlakuan: diberi Herb-All COOL sebanyak 12 gram per ekor per hari selama musim panas.
Hasilnya mengejutkan:
- Produksi susu meningkat signifikan.
Sapi yang diberi Herb-All COOL menghasilkan susu lebih banyak dibandingkan sapi tanpa tambahan. Kenaikan ini terjadi tanpa mengubah kadar utama seperti lemak, protein, dan laktosa susu. - Efeknya bertahan lama.
Bahkan setelah dua bulan suplementasi dihentikan, efek positifnya masih terlihat. - Kesehatan sapi lebih baik.
- Lebih sedikit sapi yang mengalami masalah kesehatan pascamelahirkan.
- Penggunaan obat-obatan berkurang hingga 28,5%.
- Jumlah sapi yang harus dipotong karena masalah kesehatan menurun lebih dari 40%.
- Kesuburan meningkat.
- Waktu hingga sapi berhasil bunting lebih singkat (berkurang 21,3%).
- Tingkat keberhasilan inseminasi buatan pertama meningkat lebih dari dua kali lipat (+106,9%).
- Total tingkat keberhasilan reproduksi naik 41,4%.
Dengan kata lain, suplemen herbal ini membuat sapi lebih sehat, lebih produktif, dan lebih subur, meskipun berada dalam kondisi panas ekstrem.

Bagi peternak, hasil penelitian ini membawa banyak kabar baik:
- Produktivitas susu stabil bahkan di musim panas. Ini berarti pemasukan tetap terjaga.
- Biaya kesehatan sapi berkurang. Dengan sapi yang lebih sehat, pengeluaran untuk obat dan perawatan bisa ditekan.
- Efisiensi reproduksi meningkat. Lebih sedikit inseminasi berarti biaya lebih hemat dan keberlanjutan produksi susu lebih terjamin.
Selain itu, penggunaan pakan tambahan berbahan herbal juga lebih ramah lingkungan dibandingkan pendekatan berbasis obat-obatan sintetis.
Implikasi Lebih Luas: Peternakan Berkelanjutan
Masalah panas ekstrem bukan hanya terjadi di satu negara, melainkan menjadi isu global akibat perubahan iklim. Dengan meningkatnya suhu bumi, peternak di berbagai belahan dunia menghadapi tantangan serupa.
Penggunaan pakan tambahan herbal seperti Herb-All COOL bisa menjadi salah satu solusi berkelanjutan karena:
- Mengurangi ketergantungan pada antibiotik atau obat-obatan.
- Memanfaatkan sumber daya alami untuk mendukung kesehatan ternak.
- Membantu menjaga keseimbangan antara produktivitas, kesejahteraan hewan, dan kelestarian lingkungan.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa alam sering kali sudah menyediakan solusi bagi masalah modern. Tanaman herbal yang digunakan dalam Herb-All COOL mampu memberikan perlindungan ekstra bagi sapi perah dari dampak buruk panas ekstrem.
Bagi para peternak, inovasi ini bukan hanya sekadar trik menambah hasil, tetapi juga jalan menuju peternakan yang lebih sehat, hemat biaya, dan ramah lingkungan.
Jika sapi bisa bicara, mungkin mereka akan berkata: “Terima kasih, kami jadi lebih nyaman meski musim panas menyengat!”
Baca juga artikel tentang: Budidaya Walet: Cara Baru Desa Mengubah Alam Jadi Peluang Ekonomi yang Menjanjikan
REFERENSI:
RH, Fayed dkk. 2025. Effect of phytogenic feed additives (Herb-All-COOL) on milk production and fertility of dairy cows in hot seasons. Journal of Applied Veterinary Sciences 10 (1), 92-100.


