Bayangkan jika kita bisa membaca “buku resep” yang menentukan bagaimana tubuh seekor sapi tumbuh, bagaimana seekor ayam melawan penyakit, atau bagaimana seekor kambing menghasilkan lebih banyak susu. Buku resep itu adalah genom, kumpulan lengkap DNA dalam tubuh setiap hewan. Namun, memahami isi buku ini tidaklah mudah. Tidak semua bagian DNA memiliki fungsi yang jelas. Banyak variasi atau perbedaan kecil di dalam DNA yang belum kita pahami manfaatnya.
Di sinilah ilmu baru bernama epigenomik masuk. Epigenomik adalah cara untuk melihat bagaimana DNA “diatur” dan “dihidupkan” atau “dimatikan” di dalam sel, sehingga memengaruhi sifat-sifat hewan.
Sebuah penelitian terbaru dari tim ilmuwan internasional mencoba menjawab pertanyaan besar: bagaimana caranya memahami variasi genetik pada ternak dengan bantuan epigenom?
Baca juga artikel tentang: Peternakan Kelinci Berkelanjutan: Manfaat Allicin, Likopen, Vitamin E & C
Apa Itu Variasi Genetik pada Ternak?
Setiap hewan ternak (sapi, ayam, kambing, domba, babi) punya DNA yang mirip, tetapi dengan sedikit perbedaan yang disebut varian genetik. Varian ini bisa membuat satu sapi lebih tahan penyakit dibanding yang lain, atau membuat ayam tertentu bisa bertelur lebih banyak.
Masalahnya, tidak semua varian genetik benar-benar berpengaruh. Sebagian besar hanyalah “perbedaan kecil” yang tidak membawa perubahan nyata. Untuk menemukan varian yang benar-benar penting, ilmuwan perlu alat yang canggih.

Meskipun teknologi DNA modern bisa membaca urutan gen dengan cepat, memahami fungsinya jauh lebih sulit. Misalnya: jika ditemukan perbedaan di suatu titik DNA, apakah itu membuat ternak lebih sehat, atau justru tidak ada efek sama sekali?
Tanpa pemahaman ini, sulit bagi peternak untuk menggunakan data genetik secara maksimal, misalnya dalam pemuliaan presisi (precision breeding) teknik memilih induk ternak dengan kualitas terbaik berdasarkan data ilmiah, bukan hanya perkiraan.
Peran Epigenom dalam Peternakan
Penelitian terbaru yang dimuat di Journal of Genetics and Genomics (2025) mencoba menggunakan data epigenomik untuk mengisi celah ini.
Epigenom adalah “lapisan tambahan” pada DNA yang mengatur bagaimana gen bekerja. Bisa dibayangkan seperti lampu di rumah: DNA adalah rangkaian kabel listrik, sementara epigenom adalah saklarnya. Ia yang menentukan lampu (gen) menyala atau padam.
Dengan mempelajari epigenom, ilmuwan bisa mengetahui bagian DNA mana yang benar-benar aktif dan penting bagi pertumbuhan, kesehatan, maupun produktivitas hewan ternak.

Dalam penelitian ini, para ilmuwan mengumpulkan 1030 dataset epigenomik dari 10 spesies ternak berbeda, termasuk sapi, ayam, kambing, domba, babi, hingga kuda. Mereka kemudian menganalisis 7 jenis wilayah regulasi DNA, bagian-bagian penting yang mengontrol kapan dan di mana sebuah gen diaktifkan.
Hasilnya, mereka membuat semacam peta fungsional dari variasi DNA ternak. Peta ini menunjukkan bagian mana yang punya pengaruh nyata terhadap sifat-sifat penting hewan.
Apa Manfaatnya untuk Peternakan?
- Pemuliaan Lebih Tepat Sasaran
Dengan peta epigenom, peternak bisa memilih indukan berdasarkan gen yang benar-benar berfungsi. Misalnya, memilih sapi yang terbukti punya gen ketahanan penyakit yang aktif, bukan hanya sekadar berbeda di DNA. - Kesehatan Hewan yang Lebih Baik
Memahami epigenom membantu mendeteksi risiko penyakit lebih cepat. Jika seekor ayam punya varian gen yang membuatnya rentan flu burung, informasi ini bisa dipakai untuk mencegah wabah. - Produktivitas Tinggi dan Ramah Lingkungan
Pemilihan ternak yang lebih tepat akan menghasilkan daging, susu, atau telur lebih banyak dengan pakan lebih sedikit. Artinya, lebih efisien dan mengurangi dampak lingkungan.
Menghubungkan Genetika dan Lingkungan
Hal menarik dari epigenom adalah sifatnya yang dinamis. Berbeda dengan DNA yang tetap, epigenom bisa berubah dipengaruhi lingkungan: pakan, suhu, stres, atau pola pemeliharaan.
Artinya, penelitian ini membuka pintu untuk nutrisi presisi dan manajemen peternakan cerdas. Dengan memahami bagaimana lingkungan mengubah epigenom, peternak bisa memberi pakan atau perlakuan terbaik agar hewan lebih sehat dan produktif.
Tantangan yang Masih Ada
Meski menjanjikan, bidang ini masih baru dan penuh tantangan:
- Data yang rumit dan besar: Membaca epigenom ribuan hewan menghasilkan data raksasa yang sulit dianalisis.
- Biaya tinggi: Teknologi epigenom masih mahal, sehingga sulit diakses oleh peternak kecil.
- Perlu standar global: Hasil riset perlu diseragamkan agar bisa dipakai di berbagai negara dan spesies ternak.
Namun, dengan kemajuan teknologi komputasi dan turunnya biaya analisis DNA, para ilmuwan optimis hal ini akan segera bisa diterapkan secara luas.
Peternakan Masa Depan
Bayangkan di masa depan, seorang peternak sapi perah bisa mengetahui sapi mana yang akan menghasilkan susu paling banyak dengan kualitas terbaik, bahkan sebelum sapi itu lahir. Atau peternak ayam bisa memastikan ayamnya tahan penyakit tanpa harus menggunakan terlalu banyak obat.
Semua itu bisa terjadi jika ilmu genomik dan epigenomik terus berkembang. Penelitian ini adalah langkah besar menuju peternakan presisi, sebuah era di mana teknologi DNA dan data besar digunakan untuk meningkatkan produktivitas, kesehatan, dan keberlanjutan peternakan di seluruh dunia.
Studi tentang penggunaan data epigenomik untuk memahami varian genetik pada ternak membuka jalan baru bagi dunia peternakan. Dengan peta fungsional DNA yang lebih jelas, para ilmuwan dan peternak dapat bekerja sama menciptakan sistem peternakan yang lebih sehat, efisien, dan ramah lingkungan.
Ilmu ini masih berkembang, tetapi dampaknya di masa depan bisa sangat besar: dari meja laboratorium hingga ke meja makan kita. Karena pada akhirnya, memahami DNA ternak bukan hanya soal sains, tapi juga tentang menjamin pangan sehat dan berkelanjutan bagi seluruh umat manusia.
Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk
REFERENSI:
Ma, Ruixian dkk. 2025. Annotation and assessment of functional variants in livestock through epigenomic data. Journal of Genetics and Genomics.


