Detektif Laboratorium: Teknologi Canggih Melacak Sisa Obat di Produk Hewani

Daging, susu, telur, dan produk pangan hewani lainnya adalah sumber protein penting bagi manusia. Namun, di balik manfaatnya, ada potensi bahaya yang jarang kita sadari: residu obat veteriner. Obat-obatan ini memang sangat membantu peternak dalam menjaga kesehatan hewan, mencegah penyakit, dan meningkatkan produktivitas. Akan tetapi, sisa-sisa obat yang tertinggal di daging atau susu bisa menimbulkan risiko kesehatan bagi manusia.

Sebuah penelitian terbaru yang dipublikasikan di jurnal Metabolites (2025) membahas kemajuan terkini dalam metode persiapan sampel dan teknik deteksi untuk mengidentifikasi residu obat veteriner pada pangan asal hewan. Artikel ini mengulas bagaimana teknologi modern dapat membantu menjaga keamanan pangan hewani sekaligus melindungi konsumen dari risiko jangka panjang.

Baca juga artikel tentang: Inovasi Hijau: Dari Cangkang Udang ke Pakan Akuakultur Bernutrisi Tinggi

Mengapa Obat Hewan Digunakan?

Dalam dunia peternakan modern, obat-obatan veteriner menjadi bagian yang hampir tidak terpisahkan. Obat ini digunakan untuk:

  1. Mencegah penyakit – misalnya vaksin atau antibiotik pencegahan.
  2. Mengobati hewan sakit – agar penyakit tidak menyebar ke seluruh populasi ternak.
  3. Meningkatkan pertumbuhan – beberapa obat dapat mempercepat pertambahan bobot badan atau meningkatkan konversi pakan.

Dengan cara ini, produksi daging, susu, dan telur bisa lebih efisien dan memenuhi permintaan pasar yang terus meningkat.

Namun, masalah muncul ketika obat yang diberikan tidak sepenuhnya terurai dalam tubuh hewan. Sisa-sisa senyawa tersebut bisa terbawa ke dalam produk hewani yang kemudian dikonsumsi manusia.

Residu obat veteriner bukan sekadar isu teknis. Efeknya bisa langsung dirasakan oleh manusia, baik dalam jangka pendek maupun panjang. Beberapa risiko yang bisa muncul antara lain:

  • Reaksi alergi – misalnya pada orang yang sensitif terhadap antibiotik tertentu.
  • Gangguan sistem kekebalan tubuh – akibat paparan senyawa tertentu dalam jangka panjang.
  • Resistensi antimikroba (AMR) – penggunaan antibiotik berlebih di peternakan bisa mempercepat munculnya bakteri yang kebal antibiotik. Ini adalah ancaman serius bagi kesehatan global.
  • Risiko kanker atau gangguan hormon – beberapa residu obat diketahui memiliki sifat karsinogenik atau memengaruhi sistem endokrin manusia.

Dengan kata lain, residu obat dalam produk hewani bukan hanya masalah hewan, tapi juga masalah manusia.

Bagaimana Residu Obat Dideteksi?

Untuk memastikan produk hewani aman, ilmuwan menggunakan serangkaian metode canggih. Namun, tantangannya adalah residu obat sering kali berada pada konsentrasi yang sangat rendah, sehingga perlu teknik deteksi yang sangat sensitif.

Beberapa metode yang kini digunakan antara lain:

  1. Ekstraksi Cair-Cair dan Ekstraksi Fase Padat
    • Digunakan untuk memisahkan senyawa obat dari jaringan hewan.
    • Membantu memusatkan residu agar lebih mudah dianalisis.
  2. Immunoaffinity Chromatography
    • Menggunakan antibodi khusus yang “menangkap” senyawa obat tertentu.
    • Sangat selektif, cocok untuk mendeteksi obat dalam jumlah kecil.
  3. Metode QuEChERS (Quick, Easy, Cheap, Effective, Rugged, Safe)
    • Populer karena sederhana dan efisien.
    • Cocok untuk pengujian skala besar di laboratorium rutin.
  4. Molecular Imprinting Technology (MIT)
    • Membuat polimer sintetis yang bisa “mengenali” bentuk molekul obat tertentu.
    • Seperti kunci dan gembok, hanya cocok untuk senyawa tertentu.
  5. Teknik Deteksi Mutakhir
    • Kromatografi dikombinasikan dengan detektor canggih.
    • Immunoassay (uji berbasis antibodi).
    • Fluorescence Polarization Immunoassay yang memanfaatkan cahaya.
    • Surface-Enhanced Raman Scattering (SERS), teknik super sensitif yang bisa mendeteksi senyawa dalam jumlah amat kecil.

Dengan berbagai teknologi ini, laboratorium mampu memastikan apakah daging, susu, atau telur yang beredar di pasaran aman untuk dikonsumsi.

Prinsip kerja LC-QTOF-MS, yaitu senyawa diionisasi lalu dipisahkan berdasarkan rasio massa-muatan melalui quadrupole dan tabung waktu terbang sebelum terdeteksi untuk analisis.

Kelebihan dan Kekurangan Teknologi

Setiap metode tentu memiliki keunggulan dan keterbatasan. Misalnya:

  • QuEChERS: cepat dan murah, tapi mungkin kurang akurat untuk senyawa kompleks.
  • Immunoaffinity Chromatography: sangat selektif, tapi mahal dan hanya bisa digunakan untuk senyawa tertentu.
  • SERS: sangat sensitif, tapi teknologinya masih berkembang dan belum umum digunakan di semua laboratorium.

Oleh karena itu, ilmuwan biasanya mengombinasikan beberapa metode untuk hasil yang lebih akurat.

Prinsip Surface-Enhanced Raman Scattering (SERS), di mana molekul di dekat nanopartikel logam memperkuat sinyal Raman melalui interaksi elektron dan lubang yang dipicu oleh cahaya laser.

Tren dan Arah Penelitian di Masa Depan

Penelitian ini juga menyoroti arah masa depan dalam deteksi residu obat veteriner, yaitu:

  1. Meningkatkan sensitivitas – agar bisa mendeteksi residu pada kadar yang lebih rendah.
  2. Metode yang lebih cepat dan murah – supaya bisa digunakan secara rutin oleh lebih banyak laboratorium, termasuk di negara berkembang.
  3. Teknologi portabel – bayangkan alat deteksi yang bisa digunakan langsung di lapangan, bukan hanya di laboratorium besar.
  4. Pendekatan otomatis dan berbasis AI – untuk mempercepat analisis data dan mengurangi kesalahan manusia.

Dengan arah ini, diharapkan ke depan kita bisa memiliki sistem deteksi yang lebih andal dan mudah diakses.

Bagi peternak, memahami isu residu obat penting untuk menjaga kualitas produk dan kepercayaan konsumen. Pasar internasional, misalnya Uni Eropa atau Jepang, memiliki standar ketat soal keamanan pangan. Produk yang tidak memenuhi syarat bisa ditolak, sehingga merugikan ekonomi peternak maupun negara.

Bagi konsumen, informasi ini penting agar lebih sadar terhadap keamanan pangan yang dikonsumsi. Pilihan kita untuk membeli produk dari sumber yang terpercaya juga bisa mendorong peternak menerapkan praktik yang lebih baik.

Residu obat veteriner dalam produk pangan hewani adalah masalah nyata yang harus ditangani dengan serius. Untungnya, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi memberi kita alat yang semakin canggih untuk mendeteksi dan mencegah risiko tersebut.

Dengan kolaborasi antara peneliti, pemerintah, peternak, dan konsumen, kita bisa memastikan bahwa makanan yang tersaji di meja makan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman. Karena pada akhirnya, kesehatan hewan adalah cermin dari kesehatan manusia.

Baca juga artikel tentang: Pemuliaan Serangga: Inovasi Kecil untuk Dampak Besar di Dunia Peternakan

REFERENSI:

Dai, Qing dkk. 2025. Recent Advances in Pretreatment Methods and Detection Techniques for Veterinary Drug Residues in Animal-Derived Foods. Metabolites 15 (4), 233.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top