Dari Padang Rumput ke Piring Makan: Menjaga Keamanan Pangan Lewat Pakan Ternak

Ketika kita berbicara soal pangan, biasanya yang terlintas di pikiran adalah beras, jagung, gandum, atau bahan pokok lain yang jadi makanan sehari-hari manusia. Namun, ada satu hal penting yang sering terlupakan: pangan untuk hewan ternak. Padahal, tanpa pakan yang cukup, sapi, kambing, ayam, maupun hewan ternak lain tidak akan bisa tumbuh sehat dan menghasilkan daging, susu, atau telur yang kita konsumsi.

Di sinilah muncul istilah keamanan pakan (feed grain security), yaitu kondisi di mana ketersediaan pakan ternak, khususnya yang berbasis biji-bijian seperti jagung dan kedelai, benar-benar terjamin. Jika keamanan pakan terganggu, maka dampaknya bisa menjalar ke seluruh rantai pangan: produksi daging berkurang, harga susu naik, bahkan bisa memicu krisis pangan di tingkat masyarakat.

Baca juga artikel tentang: Produktivitas Tinggi Ikan Red Devil: Ancaman atau Sumber Baru untuk Peternak?

Masalah Lama: Pakan vs Pangan Manusia

Di banyak negara, termasuk Tiongkok, ada tradisi lama: tanaman biji-bijian dipakai ganda, untuk manusia sekaligus untuk ternak. Contohnya, jagung digunakan sebagai bahan makanan pokok, tetapi juga sebagai bahan utama pakan ayam dan sapi. Akibatnya, muncul persaingan antara kebutuhan manusia dan hewan.

Bayangkan sebuah ladang jagung: sebagian hasilnya harus masuk ke dapur rumah tangga, sebagian lagi ke kandang sapi. Kalau panen melimpah, mungkin tidak masalah. Tetapi kalau panen turun atau impor terganggu, siapa yang harus diutamakan—perut manusia atau ternak? Inilah dilema besar yang disebut sebagai risiko keamanan pakan.

Selain itu, ketergantungan pada bahan impor seperti kedelai juga semakin berbahaya. Jika negara pengekspor mengalami krisis, harga melonjak, atau distribusi terganggu, maka stok pakan dalam negeri bisa terancam. Dampaknya bukan hanya pada peternak, tetapi juga pada masyarakat luas.

Solusi: Memisahkan Jalur Pangan dan Pakan

Para peneliti dalam artikel ini menyarankan sebuah strategi sederhana tapi mendasar: pisahkan jalur biji-bijian untuk manusia dan ternak. Artinya, jangan sampai bahan pokok manusia harus berebut dengan hewan ternak. Caranya, dengan lebih mengandalkan hijauan berkualitas tinggi (forage) sebagai pakan utama untuk ternak, bukan lagi biji-bijian yang seharusnya jadi makanan manusia.

Hijauan di sini maksudnya adalah tanaman pakan seperti rumput gajah, legum (tanaman berpolong seperti kacang-kacangan), maupun rerumputan abadi yang bisa ditanam di padang rumput. Tanaman ini tidak bersaing langsung dengan pangan manusia, tetapi punya nutrisi yang cukup baik untuk ternak, terutama ruminansia (sapi, kambing, kerbau).

Ilustrasi singkat pendekatan berbasis pakan ternak untuk memastikan keamanan biji-bijian pakan di Tiongkok.

Ada beberapa manfaat besar jika pakan ternak lebih banyak dialihkan ke hijauan:

  1. Mengurangi tekanan pada pangan pokok manusia. Jagung, kedelai, dan gandum bisa lebih fokus dipakai untuk kebutuhan konsumsi manusia.
  2. Efisiensi lahan pertanian. Hijauan bisa ditanam di lahan yang tidak cocok untuk tanaman pangan, sehingga pemanfaatan lahan lebih optimal.
  3. Meningkatkan kesehatan ternak. Sapi dan kambing, misalnya, memang secara alami diciptakan untuk memakan rumput dan serat. Dengan hijauan, pencernaan mereka lebih sehat dibanding terlalu banyak diberi biji-bijian.
  4. Ramah lingkungan. Beberapa jenis legum bisa mengikat nitrogen dari udara sehingga mengurangi kebutuhan pupuk kimia. Artinya, bisa lebih hemat biaya dan lebih ramah lingkungan.

Bagaimana Cara Meningkatkan Produksi Hijauan?

Tantangan berikutnya adalah bagaimana menyediakan hijauan dalam jumlah besar dan berkualitas baik. Ada beberapa strategi yang direkomendasikan para peneliti:

  • Tumpangsari (intercropping). Hijauan bisa ditanam bersamaan dengan tanaman pangan utama di lahan yang sama. Misalnya, di sela-sela tanaman jagung bisa ditanam legum yang berfungsi sebagai pakan sekaligus memperbaiki kesuburan tanah.
  • Reseeding (penyemaian ulang). Padang rumput alami bisa ditingkatkan kualitasnya dengan menanam ulang rumput atau legum berkualitas tinggi. Dengan begitu, hijauan yang tumbuh lebih bergizi dan produktif.
  • Menggunakan legum perennial. Jenis tanaman yang bisa tumbuh bertahun-tahun tanpa perlu ditanam ulang ini sangat cocok sebagai pakan ternak. Selain hemat biaya, legum perennial juga lebih tahan terhadap kondisi tanah yang kurang subur.
  • Teknologi pengawetan hijauan. Contohnya melalui pembuatan silase (fermentasi hijauan dalam kondisi kedap udara), sehingga peternak bisa menyimpan cadangan pakan saat musim kemarau.
Diagram penyemaian ulang alfalfa untuk memulihkan produktivitas dan nutrisi tanah di padang rumput.

Meski solusi hijauan terdengar ideal, tentu ada tantangan yang perlu diselesaikan. Pertama, tidak semua lahan cocok untuk menanam rumput berkualitas tinggi. Kedua, butuh investasi awal, misalnya untuk bibit unggul atau teknologi pengawetan. Ketiga, kebijakan dan dukungan pemerintah juga sangat menentukan, mulai dari penyediaan lahan, subsidi, hingga riset pertanian.

Selain itu, perubahan mindset peternak juga penting. Selama bertahun-tahun, banyak peternak sudah terbiasa menggunakan biji-bijian karena dianggap praktis dan cepat menggemukkan hewan. Padahal, dengan pengelolaan yang baik, hijauan bisa memberikan hasil yang sama, bahkan lebih sehat bagi ternak.

Menuju Keamanan Pakan dan Pangan

Mengapa semua ini penting? Karena keamanan pangan manusia tidak bisa dilepaskan dari keamanan pakan ternak. Jika hewan kekurangan pakan, produksi daging dan susu berkurang. Akibatnya, harga pangan hewani melonjak, dan pada akhirnya masyarakat yang menanggung beban.

Dengan memperkuat basis pakan dari hijauan, kita bisa mengurangi ketergantungan pada biji-bijian impor, menghemat lahan pertanian, dan sekaligus menjaga lingkungan. Konsep ini sejalan dengan pendekatan baru yang disebut “Greater Food”, yaitu pandangan bahwa produksi pangan harus dilihat secara menyeluruh, mencakup manusia dan hewan, bukan hanya mengejar hasil biji-bijian semata.

Kisah tentang hijauan ini mungkin terdengar sederhana, tapi dampaknya luar biasa besar. Dari padang rumput yang luas, dari sepetak lahan yang ditanami legum, bahkan dari silo-silo silase di desa-desa, lahir sebuah fondasi baru untuk ketahanan pangan dunia.

Jika kita ingin masa depan di mana susu tetap terjangkau, daging tetap tersedia, dan lingkungan tetap lestari, maka investasi terbesar bukan hanya pada ladang gandum atau sawah padi, melainkan juga pada rumput hijau yang tumbuh untuk ternak kita.

Dengan begitu, kita tidak hanya memberi makan hewan, tapi juga memastikan generasi mendatang punya cukup pangan untuk hidup sehat dan sejahtera.

Baca juga artikel tentang: Inovasi Marikultur: Membawa Lobster, Bawal, dan Abalon ke Puncak Pasar Global

REFERENSI:

Xu, Ruixuan dkk. 2025. Managing forage for grain: Strategies and mechanisms for enhancing forage production to ensure feed grain security. Journal of Integrative Agriculture 24 (6).

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top