Siapa sangka, udang yang sering hadir di meja makan kita ternyata punya cerita panjang soal lingkungan dan kehidupan sosial? Budidaya udang di Delta Mekong, Vietnam, memang sudah lama menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat pesisir. Namun di balik itu, praktik budidaya intensif juga membawa masalah besar: polusi air, penggunaan antibiotik berlebihan, hingga ancaman bagi kesehatan ekosistem.
Sebuah penelitian terbaru (Tran dkk., 2025) mencoba melihat persoalan ini dari sisi yang lebih luas: bukan hanya dari segi teknologi atau ekonomi, tapi juga bagaimana sikap, kesadaran, dan budaya masyarakat berperan dalam mendorong budidaya udang yang berkelanjutan.
Delta Mekong adalah salah satu wilayah penghasil udang terbesar di dunia. Ribuan rumah tangga hidup dari usaha ini. Udang yang dibesarkan di kolam-kolam kecil maupun tambak besar di sini diekspor ke berbagai negara, menjadi komoditas berharga yang menggerakkan ekonomi lokal.
Namun, besarnya skala produksi ini juga berarti beban besar bagi lingkungan:
- 85,7% petambak masih mengandalkan air sungai tanpa pengolahan, yang rentan tercemar.
- Sisa pakan dan kotoran udang menyebabkan eutrofikasi (ledakan alga beracun) di perairan.
- Penggunaan antibiotik tidak terkendali, bahkan memunculkan gen resisten antibiotik yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Baca juga artikel tentang: Silase: Solusi Pakan Ternak Masa Depan untuk Menyongsong Kemandirian Pangan
Peran Sikap dan Kesadaran Petambak
Menariknya, penelitian ini tidak hanya bicara soal teknologi tambak, tetapi juga meneliti bagaimana pola pikir dan kesadaran petambak memengaruhi keberlanjutan.
Menggunakan Theory of Planned Behavior (TPB), para peneliti menganalisis 87 rumah tangga petambak udang di enam provinsi pesisir. Hasilnya menunjukkan:
- Sikap dan kesadaran petambak berkontribusi 66,6% terhadap kepedulian lingkungan.
- Semakin tinggi kesadaran lingkungan, semakin besar pula niat mereka menerapkan praktik budidaya berkelanjutan.
- Faktor sosial budaya, seperti kebiasaan turun-temurun atau tekanan dari komunitas, juga ikut memengaruhi keputusan petambak.
Dengan kata lain, teknologi saja tidak cukup. Perubahan menuju budidaya udang ramah lingkungan harus disertai perubahan cara pandang masyarakat.

Meski sudah ada kesadaran, banyak petambak menghadapi kendala nyata:
- Efisiensi Pakan Rendah
Angka konversi pakan (Feed Conversion Ratio/FCR) rata-rata mencapai 1,59, artinya setiap 1,59 kg pakan hanya menghasilkan 1 kg udang. Angka ini menunjukkan pemborosan dan tingginya limbah. - Kualitas Air Buruk
Banyak kolam menggunakan air sungai yang tidak diolah, sehingga cepat tercemar dan memperburuk kondisi kesehatan udang. - Biaya Tinggi untuk Teknologi Ramah Lingkungan
Pengolahan limbah atau penerapan sistem bioflok membutuhkan modal besar, yang sulit dijangkau petambak kecil. - Ketergantungan pada Antibiotik
Alih-alih memperbaiki manajemen tambak, banyak petambak memilih jalan pintas dengan antibiotik. Padahal ini berisiko besar bagi kesehatan jangka panjang.

Jalan Menuju Keberlanjutan
Penelitian ini menekankan bahwa solusi harus holistik, mencakup teknologi, kebijakan, dan kesadaran masyarakat. Beberapa langkah yang bisa diambil:
- Teknologi Pengolahan Air dan Limbah
Penerapan filter biologis, bioflok, atau teknologi sirkulasi air bisa menekan pencemaran dan mengurangi kebutuhan antibiotik. - Edukasi dan Kampanye Kesadaran
Memberi pemahaman kepada petambak tentang pentingnya menjaga lingkungan bukan hanya untuk alam, tapi juga untuk kelangsungan usaha mereka sendiri. - Kebijakan dan Dukungan Pemerintah
Subsidi, insentif, dan regulasi yang ketat bisa membantu mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan. - Pendekatan Sosio-Kultural
Program keberlanjutan harus memperhatikan budaya lokal, nilai-nilai komunitas, dan tradisi, agar lebih mudah diterima.
Manfaat Jika Praktik Berkelanjutan Diterapkan
Jika budidaya udang beralih ke arah yang lebih ramah lingkungan, manfaatnya bisa dirasakan oleh banyak pihak:
- Bagi petambak: Kolam lebih sehat, tingkat kematian udang menurun, biaya produksi berkurang.
- Bagi lingkungan: Sungai lebih bersih, keanekaragaman hayati terjaga, risiko resistensi antibiotik berkurang.
- Bagi konsumen: Mendapat produk udang yang lebih sehat, bebas residu berbahaya, dan diproduksi secara etis.
- Bagi ekonomi: Ekspor udang lebih kompetitif karena memenuhi standar internasional soal keberlanjutan.
Gambaran Masa Depan
Bayangkan 10 tahun ke depan, jika rekomendasi penelitian ini dijalankan:
- Tambak-tambak di Delta Mekong dilengkapi sistem pengolahan air modern.
- Petambak rutin mengikuti pelatihan ramah lingkungan.
- Konsumen di seluruh dunia bisa melacak asal udang dengan kode QR, memastikan produk tersebut diproduksi secara berkelanjutan.
- Delta Mekong bukan hanya jadi pusat produksi udang terbesar, tapi juga contoh global tentang bagaimana ekonomi, budaya, dan lingkungan bisa berjalan seimbang.
Budidaya udang di Delta Mekong bukan sekadar urusan bisnis, tetapi juga menyangkut keseimbangan antara manusia dan alam. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa selain teknologi, kesadaran dan sikap petambak adalah kunci utama menuju praktik yang lebih berkelanjutan.
Karena pada akhirnya, menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab aktivis atau pemerintah, tetapi juga para petambak, konsumen, dan kita semua. Setiap piring udang yang kita santap bisa menjadi bagian dari solusi atau masalah.
Dengan pendekatan yang tepat, Delta Mekong bisa terus menjadi lumbung udang dunia, tanpa harus mengorbankan alam dan masa depan generasi berikutnya.
Baca juga artikel tentang: Lebih dari Sekadar Sawah: Bagaimana Peternakan Itik Membantu Petani Lawan Hama dan Hemat Pupuk
REFERENSI:
Tran, Thanh dkk. 2025. Promoting sustainable shrimp farming: balancing environmental goals, awareness, and socio-cultural factors in the Mekong Delta aquaculture. Aquaculture International 33 (2), 119.


