Peternak di berbagai belahan dunia setiap hari menghadapi tantangan besar ketika ternak mereka berbagi ruang hidup dengan satwa liar pemangsa. Serigala, singa, macan tutul, hingga puma sering dianggap sebagai ancaman langsung bagi mata pencaharian manusia. Namun sains modern menunjukkan bahwa persoalan ini jauh lebih kompleks daripada sekadar konflik antara manusia dan hewan buas. Sebuah kajian ilmiah global terbaru membahas hubungan antara ketersediaan mangsa liar dan tingkat serangan predator terhadap ternak, serta menawarkan cara pandang baru yang lebih adil dan berkelanjutan bagi dunia peternakan.
Konflik antara ternak dan predator liar telah lama menjadi masalah serius dalam sistem peternakan, terutama di wilayah yang berbatasan langsung dengan kawasan hutan atau pegunungan. Ketika seekor sapi, kambing, atau domba dimangsa, peternak tidak hanya kehilangan aset ekonomi, tetapi juga merasa terancam secara emosional. Reaksi yang sering muncul adalah pembalasan dengan memburu atau membunuh predator. Sayangnya, langkah ini justru memperparah krisis konservasi karena banyak predator besar saat ini berada dalam kondisi populasi yang menurun.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Penelitian yang ditinjau dalam artikel ilmiah ini menganalisis lebih dari 160 studi dari berbagai negara dan ekosistem. Fokus utamanya bukan hanya menghitung berapa banyak ternak yang dimangsa, melainkan memahami faktor apa yang paling menentukan terjadinya predasi. Hasilnya cukup mengejutkan dan sekaligus membuka wawasan baru. Faktor terpenting yang memicu predator memangsa ternak bukanlah jumlah ternak, ukuran tubuh predator, atau bahkan kualitas pagar dan kandang, melainkan ketersediaan mangsa alami di alam.
Mangsa alami yang dimaksud mencakup hewan liar seperti rusa, kijang, kelinci, babi hutan, dan berbagai herbivora lain yang secara alami menjadi sumber makanan predator. Ketika populasi hewan-hewan ini menurun drastis akibat perburuan berlebihan, kerusakan habitat, atau perubahan iklim, predator kehilangan sumber makanan utamanya. Dalam kondisi terdesak, ternak menjadi alternatif yang mudah karena bergerak lebih lambat, sering berkumpul, dan hidup dekat dengan manusia.

Penelitian ini menemukan ambang batas penting yang sangat relevan bagi dunia peternakan. Jika biomassa mangsa liar di suatu wilayah turun di bawah sekitar 793 kilogram per kilometer persegi, maka risiko predator memangsa ternak meningkat secara signifikan. Angka ini bukan sekadar statistik akademik, melainkan indikator ekologis yang bisa membantu pengambil kebijakan dan peternak memahami kapan suatu wilayah berada dalam kondisi rawan konflik.
Temuan ini membawa pesan penting bahwa melindungi mangsa liar justru dapat menjadi strategi perlindungan ternak. Selama ini, upaya pengurangan konflik sering berfokus pada ternak itu sendiri, seperti membangun pagar lebih tinggi, menggunakan anjing penjaga, atau menggiring ternak ke kandang tertutup. Semua langkah ini memang bermanfaat, tetapi penelitian menunjukkan bahwa pendekatan tersebut tidak cukup jika ekosistem di sekitarnya rusak.
Dalam banyak kasus, wilayah dengan populasi mangsa liar yang sehat justru mengalami tingkat serangan ternak yang lebih rendah, meskipun predator tetap ada. Predator secara naluriah memilih mangsa liar karena lebih sesuai dengan perilaku berburu alaminya. Ternak hanya menjadi sasaran ketika pilihan lain semakin terbatas. Dengan kata lain, predator tidak secara alami “lebih menyukai” ternak, tetapi terdorong oleh kondisi lingkungan.
Studi ini juga mencatat bahwa konflik paling sering terjadi dengan predator berukuran besar seperti serigala dan macan tutul salju. Wilayah pegunungan seperti Himalaya dan Pegunungan Apennina di Eropa menjadi contoh kawasan dengan dinamika kompleks antara peternakan tradisional dan konservasi satwa liar. Di wilayah tersebut, ternak sering digembalakan secara terbuka di padang rumput luas, berdekatan dengan habitat predator. Ketika populasi mangsa liar menurun, benturan kepentingan pun meningkat.
Bagi peternak, temuan ini menawarkan sudut pandang baru yang mungkin terasa tidak intuitif. Melestarikan satwa liar lain yang tidak secara langsung berhubungan dengan ternak justru dapat membantu melindungi ternak itu sendiri. Program konservasi rusa, kijang, atau herbivora lokal bukan hanya isu lingkungan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi keberlanjutan usaha peternakan.
Pendekatan ini sejalan dengan konsep pengelolaan berbasis ekosistem. Peternakan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari sistem alam yang saling terhubung. Ketika satu komponen rusak, dampaknya merembet ke sektor lain. Mengelola konflik predator dan ternak dengan cara membunuh predator tanpa memperbaiki kondisi ekosistem hanya akan menciptakan siklus masalah yang berulang.
Penelitian ini juga menekankan pentingnya kebijakan berbasis bukti ilmiah. Banyak negara masih menerapkan kebijakan reaktif yang mengizinkan pembunuhan predator sebagai solusi cepat. Padahal, data menunjukkan bahwa menjaga keseimbangan ekosistem jauh lebih efektif dalam jangka panjang. Program kompensasi kerugian ternak, edukasi peternak, perlindungan habitat mangsa liar, serta pengelolaan padang penggembalaan secara bijak dapat berjalan beriringan.
Bagi masyarakat umum, isu ini mengingatkan bahwa pangan yang kita konsumsi memiliki jejak ekologis yang luas. Daging, susu, dan produk ternak lainnya berasal dari sistem yang berinteraksi langsung dengan alam. Ketika konflik antara manusia dan satwa liar meningkat, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh peternak dan predator, tetapi juga oleh stabilitas lingkungan secara keseluruhan.
Kesimpulan utama dari kajian ini sangat jelas. Mengurangi konflik antara predator liar dan ternak tidak cukup dengan pendekatan teknis di tingkat kandang saja. Solusi yang paling menjanjikan justru terletak pada pemulihan dan perlindungan ekosistem alami. Dengan memastikan mangsa liar tetap tersedia dalam jumlah yang memadai, manusia dapat menurunkan risiko kehilangan ternak sekaligus menjaga keberlangsungan predator sebagai bagian penting dari alam.
Sains peternakan modern kini semakin menekankan pentingnya harmoni antara produksi pangan dan konservasi. Artikel ini menunjukkan bahwa masa depan peternakan yang berkelanjutan tidak hanya bergantung pada teknologi, tetapi juga pada pemahaman mendalam tentang hubungan antara ternak, satwa liar, dan lingkungan tempat mereka hidup bersama.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Alquinta, Lucas dkk. 2026. Wild prey and livestock predation by native carnivores: a global review. Mammal Review 56 (1), e70013.


