Susu Aman Dimulai dari Pakan: Mengungkap Risiko Aflatoksin di Peternakan Rakyat

Peternak sapi perah menggantungkan kualitas susu pada pakan yang mereka berikan setiap hari. Banyak orang mengira bahwa selama sapi terlihat sehat dan mau makan, susu yang dihasilkan otomatis aman. Kenyataannya, ancaman tersembunyi sering datang dari pakan itu sendiri, terutama dalam bentuk racun alami bernama aflatoksin.

Aflatoksin adalah zat beracun yang dihasilkan oleh jamur tertentu, terutama Aspergillus flavus dan Aspergillus parasiticus. Jamur ini tumbuh subur pada bahan pakan seperti jagung, dedak, jerami, atau konsentrat yang disimpan dalam kondisi lembap dan panas. Masalahnya tidak berhenti pada sapi. Ketika sapi mengonsumsi pakan yang terkontaminasi aflatoksin, sebagian racun tersebut akan berpindah ke dalam susu dan akhirnya diminum oleh manusia.

Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan

Sebuah penelitian terbaru di wilayah Tigray, Ethiopia, membuka mata banyak pihak tentang seriusnya persoalan ini. Peneliti mengumpulkan 143 sampel pakan sapi perah dari lima kota utama dan menganalisis kadar aflatoksin di dalamnya. Hasilnya menunjukkan bahwa kontaminasi aflatoksin bukan kasus langka, melainkan masalah sistemik dalam peternakan sapi perah skala rakyat.

Rata rata kandungan total aflatoksin dalam pakan yang diuji mencapai hampir sembilan mikrogram per kilogram. Angka ini mungkin terdengar kecil, tetapi dampaknya sangat besar. Sekitar seperlima sampel pakan melampaui batas aman nasional Ethiopia, dan hampir sepertiga bahkan melebihi standar keamanan Uni Eropa yang jauh lebih ketat. Temuan ini menunjukkan bahwa risiko kesehatan tidak hanya mengancam sapi, tetapi juga konsumen susu.

Pakan tradisional seperti jerami dan hijauan kering tercatat memiliki tingkat kontaminasi yang lebih tinggi dibandingkan pakan komersial. Hal ini berkaitan erat dengan cara penyimpanan. Banyak peternak menyimpan pakan langsung di lantai tanah, di ruang terbuka, atau di gudang tanpa ventilasi yang memadai. Suhu yang tinggi dan kelembapan yang tidak terkontrol menciptakan lingkungan ideal bagi jamur untuk berkembang.

Alat uji cepat yang digunakan untuk mengukur kadar aflatoksin pada pakan sapi perah, guna memastikan nilainya berada di bawah batas aman sehingga tidak membahayakan kesehatan ternak dan konsumen susu (Zeweld, dkk. 2026).

Faktor penyimpanan muncul sebagai penyebab utama tingginya aflatoksin. Pakan yang disimpan terlalu lama tanpa perlindungan, terutama pada musim panas, menunjukkan kadar racun yang jauh lebih tinggi. Penelitian ini juga menemukan bahwa jumlah koloni jamur dalam pakan sangat berkaitan dengan tingginya kadar aflatoksin. Semakin banyak jamur, semakin besar risiko racun.

Yang lebih mengkhawatirkan, lebih dari delapan puluh persen peternak yang disurvei tidak mengetahui apa itu aflatoksin. Sebagian besar tidak memahami bahwa jamur pada pakan bukan sekadar masalah kualitas, tetapi juga ancaman kesehatan serius. Banyak dari mereka mengira bau atau perubahan warna pakan hanya akan memengaruhi nafsu makan sapi, bukan keselamatan susu.

Aflatoksin bekerja secara diam diam. Pada sapi, racun ini dapat menurunkan produksi susu, melemahkan sistem kekebalan tubuh, dan mengganggu fungsi hati. Pada manusia, dampaknya jauh lebih berbahaya. Paparan jangka panjang aflatoksin dikaitkan dengan gangguan hati, penurunan daya tahan tubuh, dan peningkatan risiko kanker. Anak anak menjadi kelompok paling rentan karena tubuh mereka masih berkembang.

Penelitian di Tigray menyoroti hubungan erat antara praktik peternakan sederhana dan isu kesehatan masyarakat. Masalah ini tidak bisa diselesaikan hanya dengan meminta peternak lebih berhati hati. Diperlukan pendekatan terpadu yang melibatkan edukasi, teknologi sederhana, dan kebijakan yang berpihak pada keamanan pangan.

Edukasi menjadi langkah paling mendesak. Peternak perlu memahami tanda tanda pakan yang berisiko, cara penyimpanan yang lebih aman, dan pentingnya rotasi pakan agar tidak disimpan terlalu lama. Pengetahuan ini tidak harus rumit. Penyuluhan berbasis komunitas dan contoh langsung sering kali jauh lebih efektif dibandingkan materi tertulis yang sulit dipahami.

Perbaikan penyimpanan juga dapat dilakukan dengan biaya rendah. Menggunakan alas kayu atau plastik untuk mencegah kontak langsung dengan tanah, memastikan sirkulasi udara, dan melindungi pakan dari hujan sudah dapat menurunkan risiko pertumbuhan jamur secara signifikan. Dalam jangka panjang, investasi kecil ini dapat melindungi kesehatan sapi dan konsumen.

Dari sisi kebijakan, penelitian ini menegaskan pentingnya pemantauan rutin kualitas pakan. Pemerintah dan lembaga terkait perlu menyediakan sistem pengujian aflatoksin yang terjangkau, terutama di wilayah dengan iklim panas dan lembap. Data dasar seperti yang dihasilkan studi ini sangat penting untuk merancang regulasi yang realistis dan efektif.

Masalah aflatoksin juga mengingatkan kita bahwa keberlanjutan peternakan tidak hanya berbicara soal produksi tinggi. Susu yang banyak tetapi tercemar racun tidak membawa manfaat bagi masyarakat. Peternakan berkelanjutan harus menjamin keamanan pangan dari hulu hingga hilir, dimulai dari pakan yang aman.

Kisah dari Tigray mencerminkan tantangan yang juga dihadapi banyak daerah lain, termasuk negara berkembang dengan sistem peternakan rakyat. Jamur dan racun tidak mengenal batas negara. Pelajaran dari penelitian ini relevan bagi siapa saja yang terlibat dalam produksi susu.

Dengan pengetahuan yang tepat, praktik penyimpanan yang lebih baik, dan dukungan kebijakan yang kuat, ancaman aflatoksin dapat ditekan. Peternak, konsumen, dan pembuat kebijakan memiliki peran yang saling terhubung. Menjaga pakan tetap aman berarti melindungi kesehatan sapi, kualitas susu, dan masa depan generasi yang mengonsumsinya.

Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan

REFERENSI:

Zeweld, Sisay Weldegebriel dkk. 2026. Quantitative Analysis of Total Aflatoxins in Dairy Cattle Feed Using a Competitive Lateral Flow Immunoassay: A Regional Study in Tigray, Ethiopia. Veterinary Medicine and Science 12 (1), e70719.

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Scroll to Top