Masyarakat pedesaan di Afrika bagian selatan menggantungkan hidup pada hubungan yang rumit antara manusia, hewan, dan alam. Di Zimbabwe, hubungan ini terlihat jelas melalui pertemuan antara peternakan rakyat dan pariwisata satwa liar yang sama sama menjadi sumber penghidupan utama. Riset terbaru tentang ketahanan pariwisata satwa liar di Zimbabwe memberi pelajaran penting bagi dunia peternakan karena kedua sektor ini berbagi ruang, sumber daya, dan risiko yang serupa.
Peternakan di wilayah Afrika Sub Sahara tidak hanya berfungsi sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai tabungan hidup, sumber tenaga kerja, dan simbol status sosial. Sapi, kambing, dan domba menjadi penopang ekonomi keluarga desa. Pada saat yang sama, kawasan yang sama sering menjadi rumah bagi satwa liar bernilai ekonomi tinggi seperti gajah, singa, dan zebra yang menarik wisatawan dari seluruh dunia. Ketika pariwisata satwa liar tumbuh, muncul peluang kerja baru, peningkatan pendapatan, dan pembangunan infrastruktur yang juga berdampak pada peternak.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Penelitian tentang pariwisata satwa liar di Zimbabwe menunjukkan bahwa sektor ini menghadapi tekanan besar dari berbagai risiko global. Perubahan iklim meningkatkan frekuensi kekeringan dan kebakaran hutan. Krisis ekonomi global menurunkan jumlah wisatawan. Konflik tata kelola sumber daya alam melemahkan kepercayaan pelaku usaha. Semua tekanan ini tidak hanya memukul pariwisata, tetapi juga mengguncang sistem peternakan yang hidup berdampingan dengan kawasan konservasi.
Bagi peternak, perubahan iklim berarti rumput mengering lebih cepat dan sumber air menjadi langka. Ketika satwa liar dan ternak berbagi padang penggembalaan, persaingan meningkat. Gajah merusak ladang pakan ternak, sementara predator memangsa hewan peliharaan. Dalam kondisi ekonomi sulit, kehilangan satu atau dua ekor sapi bisa menjadi bencana bagi keluarga peternak. Riset di Zimbabwe menegaskan bahwa krisis pada satu sektor sering merembet ke sektor lain karena keduanya terhubung dalam satu sistem sosial ekonomi.
Ketahanan atau resiliensi menjadi kata kunci penting. Dalam konteks peternakan dan pariwisata satwa liar, resiliensi berarti kemampuan masyarakat untuk bertahan, beradaptasi, dan pulih dari guncangan. Studi ini menemukan bahwa meskipun pariwisata satwa liar di Zimbabwe mengalami tekanan berat, beberapa pelaku mampu bertahan melalui strategi penyesuaian yang cerdas. Pelajaran ini sangat relevan bagi pengembangan peternakan berkelanjutan.

Salah satu strategi utama yang diidentifikasi adalah keterlibatan masyarakat lokal. Ketika masyarakat dilibatkan dalam pengelolaan satwa liar dan memperoleh manfaat nyata, konflik antara peternak dan konservasi dapat ditekan. Pendapatan dari pariwisata bisa dialokasikan untuk membangun sumur air, pagar pengaman ternak, dan layanan kesehatan hewan. Dengan cara ini, pariwisata membantu memperkuat sistem peternakan, bukan melemahkannya.
Pendekatan pengawasan juga memainkan peran penting. Studi tersebut menyoroti kombinasi patroli darat dan pemantauan udara sebagai cara efektif melindungi satwa liar. Bagi peternakan, pendekatan serupa dapat diterapkan dalam bentuk pemantauan kesehatan ternak dan lingkungan. Deteksi dini penyakit, kekeringan, atau degradasi lahan membantu peternak mengambil keputusan lebih cepat sebelum kerugian membesar.
Aspek lain yang relevan adalah diversifikasi sumber pendapatan. Ketika peternak tidak hanya bergantung pada penjualan ternak, mereka menjadi lebih tangguh menghadapi krisis. Kegiatan seperti ekowisata berbasis komunitas, penjualan produk ternak olahan, dan jasa pendukung pariwisata membuka peluang baru. Penelitian di Zimbabwe menunjukkan bahwa wilayah yang mengembangkan rantai nilai yang beragam cenderung lebih tahan terhadap guncangan ekonomi global.
Tata kelola sumber daya alam juga menjadi faktor penentu. Konflik berkepanjangan antar lembaga pengelola satwa liar, pemerintah daerah, dan masyarakat melemahkan ketahanan sistem. Hal yang sama berlaku dalam peternakan. Aturan yang tidak jelas tentang akses lahan, air, dan pasar membuat peternak sulit berkembang. Studi ini menegaskan pentingnya kebijakan yang konsisten, transparan, dan berpihak pada masyarakat akar rumput.
Dari sudut pandang sains peternakan modern, pelajaran utama dari Zimbabwe adalah perlunya pendekatan sistem. Ternak tidak bisa dipisahkan dari lingkungan, satwa liar, dan aktivitas ekonomi lain di sekitarnya. Konsep One Health yang menghubungkan kesehatan hewan, manusia, dan ekosistem menjadi semakin relevan. Ketika ekosistem rusak, penyakit mudah menyebar, produktivitas ternak menurun, dan ketahanan pangan terganggu.
Pendidikan dan kampanye publik juga terbukti penting dalam memperkuat resiliensi. Studi tersebut mencatat bahwa program edukasi pariwisata satwa liar membantu meningkatkan kesadaran masyarakat tentang nilai konservasi. Dalam konteks peternakan, pendidikan tentang manajemen pakan, kesehatan hewan, dan adaptasi iklim dapat meningkatkan daya tahan peternak menghadapi perubahan. Pengetahuan menjadi alat penting untuk bertahan di tengah ketidakpastian.
Akhirnya, pengalaman Zimbabwe menunjukkan bahwa masa depan peternakan berkelanjutan tidak bisa dilepaskan dari sektor lain seperti pariwisata dan konservasi. Ketika kebijakan dan praktik lapangan mampu menyatukan kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan, masyarakat pedesaan memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dan berkembang. Peternakan tidak hanya soal produksi daging atau susu, tetapi tentang membangun sistem kehidupan yang tangguh di tengah dunia yang terus berubah.
Dengan belajar dari ketahanan pariwisata satwa liar, dunia peternakan dapat merancang strategi adaptasi yang lebih inklusif dan berkelanjutan. Hubungan harmonis antara ternak, satwa liar, dan manusia bukan sekadar idealisme, melainkan kebutuhan nyata untuk menjaga penghidupan jutaan orang di masa depan.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Zhou, Zibanai & Chibaya, Tendai. 2026. Exploring the Resilience of Wildlife Tourism in Zimbabwe: Global Risks and Sector-Specific Coping Strategies. Resilience in the Hospitality and Travel Industry in Africa, 51-74.


