Sistem pangan dunia sedang berada di persimpangan jalan. Di satu sisi, manusia membutuhkan pangan bergizi yang cukup dan terjangkau. Di sisi lain, sektor pangan, terutama peternakan, menyumbang emisi gas rumah kaca yang cukup besar dan ikut mempercepat perubahan iklim. Artikel ilmiah terbaru dari jurnal Nature Food membahas satu hal yang sering luput dari perhatian publik, yaitu biaya ekonomi yang harus ditanggung ketika dunia berusaha beralih menuju sistem pangan yang lebih ramah iklim.
Peternakan memegang peran penting dalam sistem pangan global. Daging, susu, dan telur menjadi sumber protein utama bagi miliaran orang. Namun, produksi pangan asal hewan juga membutuhkan lahan luas, air dalam jumlah besar, serta menghasilkan emisi metana dan karbon dioksida. Karena itu, banyak negara mulai mendorong transisi pangan, misalnya dengan mengurangi konsumsi produk hewani dan memperbanyak pangan nabati.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Perubahan ini tidak sederhana. Artikel tersebut menekankan bahwa transisi menuju sistem pangan aman iklim bukan hanya soal mengubah pola makan, tetapi juga soal dampak ekonomi yang besar. Ketika konsumsi produk hewani menurun, aset yang selama ini digunakan untuk peternakan bisa kehilangan nilainya. Aset tersebut meliputi kandang ternak, mesin pengolahan, lahan padang rumput, hingga pabrik pengolahan daging dan susu.
Di Uni Eropa dan Inggris, peneliti menghitung potensi kerugian ekonomi dari berbagai skenario perubahan pola makan. Jika masyarakat hanya mengurangi konsumsi produk hewani secara moderat, nilai aset yang berisiko terbengkalai mencapai sekitar 61 miliar euro. Jika konsumsi produk hewani ditekan lebih rendah, nilainya naik menjadi sekitar 168 miliar euro. Dalam skenario paling ekstrem, ketika konsumsi pangan asal hewan hampir nol, potensi aset yang kehilangan nilai bisa mencapai lebih dari 255 miliar euro.
Angka ini terdengar sangat besar dan mudah menimbulkan kekhawatiran. Namun, penting untuk memahami apa arti “aset terbengkalai” dalam konteks ini. Aset terbengkalai adalah investasi yang tidak lagi menguntungkan karena perubahan kebijakan, pasar, atau teknologi. Dalam peternakan, ini bisa berarti peternak yang tidak lagi bisa menjual produknya dengan harga layak atau pabrik yang tidak lagi beroperasi optimal.
Dampak ini tidak hanya dirasakan oleh perusahaan besar. Peternak kecil juga berisiko terkena dampak paling berat. Banyak peternak menggantungkan hidupnya pada satu jenis usaha, misalnya sapi perah atau ayam pedaging. Ketika permintaan menurun drastis, mereka kesulitan beralih ke usaha lain tanpa dukungan yang memadai.
Di sinilah pentingnya peran kebijakan publik. Biaya transisi tidak boleh sepenuhnya dibebankan pada peternak dan pelaku usaha pangan. Jika transisi dilakukan tanpa perencanaan yang adil, risiko ketimpangan sosial akan meningkat. Peternak bisa kehilangan mata pencaharian, sementara konsumen berpenghasilan rendah berisiko menghadapi harga pangan yang lebih mahal.
Transisi pangan tidak selalu berarti kehancuran sektor peternakan. Sebaliknya, perubahan bisa membuka peluang baru jika dikelola dengan baik. Peternakan dapat bertransformasi menjadi lebih efisien, rendah emisi, dan terintegrasi dengan sistem pertanian berkelanjutan.

Contohnya, peternakan dapat mengurangi emisi melalui perbaikan pakan, pengelolaan kotoran ternak yang lebih baik, dan penggunaan teknologi biogas. Peternak juga bisa mengembangkan diversifikasi usaha, seperti agrowisata, produksi pupuk organik, atau energi terbarukan. Dengan cara ini, aset yang ada tidak harus ditinggalkan, tetapi dimanfaatkan secara berbeda.
Artikel ini juga menyoroti pentingnya waktu dalam proses transisi. Perubahan yang dilakukan secara bertahap memberikan kesempatan bagi pelaku usaha untuk beradaptasi. Jika pemerintah memberikan sinyal kebijakan yang jelas sejak dini, peternak dapat merencanakan investasi jangka panjang dengan risiko lebih kecil.
Selain itu, dukungan finansial dan pelatihan menjadi kunci. Subsidi yang selama ini mendorong produksi intensif dapat dialihkan untuk mendukung praktik peternakan ramah lingkungan. Program pelatihan dapat membantu peternak mempelajari teknik baru, mengelola usaha secara lebih berkelanjutan, dan mengakses pasar yang berbeda.
Dari sisi konsumen, transisi pangan juga memerlukan perubahan perilaku. Artikel ini mengingatkan bahwa mengurangi konsumsi produk hewani bukan berarti menghilangkan peternakan sepenuhnya. Pola makan seimbang yang mengutamakan kualitas daripada kuantitas dapat mengurangi tekanan lingkungan sekaligus menjaga kesejahteraan peternak.
Dalam konteks negara berkembang, pelajaran dari penelitian ini sangat relevan. Banyak negara masih bergantung pada peternakan sebagai sumber pendapatan pedesaan dan ketahanan pangan. Jika transisi pangan global tidak mempertimbangkan kondisi lokal, kesenjangan antara negara maju dan berkembang bisa semakin lebar.
Karena itu, pendekatan satu solusi untuk semua tidak tepat. Setiap wilayah perlu merancang jalur transisinya sendiri, sesuai dengan budaya, ekonomi, dan ekologi setempat. Peternakan skala kecil yang dikelola secara tradisional sering kali memiliki jejak lingkungan yang lebih rendah dibanding sistem industri besar, sehingga layak dipertahankan dan diperkuat.
Sistem pangan aman iklim membutuhkan keberanian untuk berubah sekaligus kebijaksanaan dalam mengelola dampaknya. Biaya ekonomi memang nyata, tetapi biaya tidak bertindak jauh lebih besar. Perubahan iklim dapat mengganggu produksi pangan, meningkatkan risiko bencana, dan mengancam ketahanan pangan global.
Dengan perencanaan yang adil, dukungan kebijakan yang tepat, dan keterlibatan semua pihak, transisi sistem pangan dapat menjadi peluang, bukan ancaman. Peternakan tidak harus menjadi korban perubahan, melainkan bisa menjadi bagian dari solusi menuju masa depan pangan yang lebih berkelanjutan, adil, dan tahan terhadap krisis iklim.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Mehrabi, Zia. 2026. Bearing the costs of a climate-safe food transition: Food systems transformation. Nature Food, 1-2.


