Petani di berbagai belahan dunia menghadapi tantangan yang semakin kompleks. Perubahan iklim memperberat kondisi cuaca, tanah pertanian kehilangan kesuburannya, dan keanekaragaman hayati terus menurun. Di tengah tekanan tersebut, sistem pertanian modern selama beberapa dekade justru bergerak ke arah yang semakin terpisah. Tanaman dan ternak dikelola secara terpisah, seolah keduanya tidak lagi saling membutuhkan. Sebuah penelitian terbaru dari wilayah barat daya Prancis menunjukkan bahwa pendekatan ini mungkin perlu dikaji ulang.
Wilayah Mediterania di selatan Prancis, khususnya daerah Languedoc dan Minervois, dikenal sebagai kawasan penghasil anggur. Selama puluhan tahun, pertanian di wilayah ini didominasi oleh kebun anggur monokultur. Tanaman lain semakin jarang, begitu pula dengan kehadiran ternak. Padahal, sebelum pertanian modern berkembang, sistem pertanian campuran yang menggabungkan tanaman dan ternak merupakan hal yang umum. Penelitian ini mencoba menjawab satu pertanyaan penting. Bisakah integrasi kembali antara domba dan tanaman membantu menciptakan sistem pertanian yang lebih tangguh dan berkelanjutan.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Agroekologi menjadi kerangka utama dalam penelitian ini. Agroekologi bukan sekadar teknik bertani, melainkan cara berpikir yang memandang pertanian sebagai ekosistem hidup. Dalam pendekatan ini, tanah, tanaman, hewan, manusia, dan lingkungan saling terhubung. Integrasi tanaman dan ternak menjadi salah satu pilar utama karena memungkinkan daur ulang nutrisi secara alami, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, dan meningkatkan ketahanan sistem pertanian terhadap risiko iklim.
Di wilayah Minervois, ternak domba hampir menghilang dari lanskap pertanian. Kebun anggur berdiri sendiri, sementara peternakan domba berpindah ke wilayah lain yang lebih cocok. Akibatnya, limbah tanaman tidak dimanfaatkan secara optimal, dan petani bergantung pada input eksternal seperti pupuk dan pakan ternak dari luar wilayah. Penelitian ini mencoba membayangkan skenario berbeda. Para peneliti bekerja bersama petani, peternak, dan pemangku kepentingan lokal untuk merancang sistem integrasi domba dengan kebun anggur, lahan tanaman pangan, dan area semi alami.

Dalam sistem yang diusulkan, domba tidak hanya dipelihara untuk daging atau wol. Hewan ini memainkan peran ekologis yang penting. Domba dapat merumput di antara barisan tanaman atau di lahan yang tidak ditanami, membantu mengendalikan gulma secara alami. Kotoran domba kembali ke tanah sebagai pupuk organik, memperbaiki struktur tanah dan meningkatkan kandungan bahan organik. Dengan cara ini, siklus nutrisi yang sebelumnya terputus dapat disambung kembali.
Penelitian ini menunjukkan bahwa integrasi semacam ini memberikan banyak manfaat, tetapi juga tidak lepas dari tantangan. Salah satu kendala utama adalah ketersediaan pakan lokal sepanjang tahun. Wilayah Mediterania mengalami musim panas yang panjang dan kering, sehingga hijauan pakan menjadi terbatas. Oleh karena itu, sistem integrasi harus dirancang dengan cermat agar kebutuhan pakan domba dapat terpenuhi tanpa merusak keseimbangan ekosistem.
Selain aspek teknis, faktor sosial dan koordinasi antar pelaku juga menjadi kunci. Integrasi tanaman dan ternak membutuhkan kerja sama antara petani tanaman dan peternak. Di wilayah yang sudah lama terpisah, kerja sama ini tidak terbentuk secara otomatis. Penelitian ini menekankan pentingnya dialog, perencanaan bersama, dan mekanisme pertukaran sumber daya yang adil. Misalnya, petani kebun anggur menyediakan akses lahan untuk penggembalaan, sementara peternak menyediakan pupuk organik dari ternak mereka.
Dari sisi lingkungan, hasil penelitian menunjukkan potensi besar dalam meningkatkan keanekaragaman hayati. Kehadiran domba dan variasi penggunaan lahan menciptakan habitat bagi serangga, burung, dan organisme tanah. Tanah yang menerima input organik secara rutin menjadi lebih sehat dan lebih mampu menyimpan air. Dalam konteks perubahan iklim, hal ini sangat penting karena tanah yang sehat lebih tahan terhadap kekeringan dan erosi.
Manfaat ekonomi juga muncul dari sistem ini. Dengan memanfaatkan sumber daya lokal, petani dan peternak dapat mengurangi biaya input seperti pakan dan pupuk. Diversifikasi kegiatan pertanian juga membuka peluang pendapatan baru. Petani anggur tidak hanya bergantung pada satu komoditas, sementara peternak memperoleh akses pakan yang lebih stabil. Sistem yang lebih beragam cenderung lebih tahan terhadap fluktuasi harga dan risiko pasar.
Penelitian ini tidak mengklaim bahwa integrasi domba dan tanaman merupakan solusi instan untuk semua masalah pertanian. Namun, studi ini menunjukkan bahwa pendekatan agroekologi berbasis integrasi memiliki potensi nyata untuk mendukung transisi menuju pertanian berkelanjutan. Kunci keberhasilannya terletak pada adaptasi lokal. Setiap wilayah memiliki kondisi iklim, sosial, dan ekonomi yang berbeda, sehingga desain sistem harus disesuaikan dengan konteks setempat.
Bagi negara lain, termasuk Indonesia, pelajaran dari Prancis barat daya ini sangat relevan. Banyak wilayah pertanian mengalami pemisahan serupa antara tanaman dan ternak. Mengintegrasikan kembali keduanya dapat menjadi langkah strategis untuk meningkatkan efisiensi, keberlanjutan, dan ketahanan pangan. Tentu saja, penerapannya membutuhkan dukungan kebijakan, pendampingan teknis, dan kemauan para pelaku untuk berkolaborasi.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa masa depan peternakan dan pertanian tidak selalu terletak pada teknologi canggih atau input eksternal yang mahal. Kadang, solusi justru ditemukan dengan melihat kembali hubungan dasar antara tanaman, ternak, dan tanah. Ketika domba kembali ke ladang, pertanian menemukan kembali keseimbangannya.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Stark, Fabien dkk. 2026. Strategies to advance the agroecological transition: Insights from a case study of sheep–crop integration in southwestern France. Agricultural Systems 231 (C).


