Produktivitas tenaga kerja menjadi jantung kehidupan sebuah usaha peternakan. Ketika satu orang pekerja mampu menghasilkan nilai ekonomi yang cukup tinggi, usaha dapat bertahan, berkembang, dan diwariskan ke generasi berikutnya. Namun ketika produktivitas melemah, peternakan perlahan kehilangan daya hidupnya. Fenomena inilah yang kini dihadapi banyak peternakan di Italia, sebuah negara dengan sejarah panjang pertanian dan peternakan keluarga.
Penelitian terbaru yang mengkaji sektor pertanian Italia menunjukkan sebuah pola mengkhawatirkan. Banyak usaha tani dan peternakan kecil hingga menengah berada di ambang penelantaran. Penelantaran lahan dan usaha peternakan bukan terjadi karena petani malas atau tidak berpengalaman, melainkan karena hasil kerja mereka tidak lagi mampu menutup biaya hidup dan operasional. Dalam konteks inilah produktivitas tenaga kerja menjadi penentu utama apakah sebuah peternakan bertahan atau ditinggalkan.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Penelitian ini memanfaatkan data jaringan akuntansi pertanian Italia selama lebih dari satu dekade. Data tersebut menggambarkan kondisi riil usaha pertanian dan peternakan dari berbagai wilayah, ukuran usaha, dan jenis komoditas. Dengan melihat nilai tambah per pekerja, peneliti menilai seberapa layak sebuah usaha untuk terus berjalan secara ekonomi, baik dengan maupun tanpa bantuan subsidi dari Uni Eropa.
Hasilnya cukup mencengangkan. Lebih dari sepertiga peternakan dan usaha tani di Italia mengalami kesulitan serius dalam menghasilkan nilai ekonomi yang cukup per tenaga kerja. Artinya, banyak petani dan peternak bekerja keras sepanjang tahun tetapi pendapatannya tidak sebanding dengan usaha yang dikeluarkan. Dalam jangka panjang, kondisi ini membuat mereka memilih meninggalkan usaha dan mencari penghidupan lain.

Pertanian zaitun menjadi kelompok yang paling rentan terhadap risiko penelantaran. Lebih dari separuh usaha zaitun berada dalam kondisi ekonomi rapuh. Hal ini banyak terjadi di wilayah Italia bagian selatan dan kepulauan, di mana struktur lahan cenderung terfragmentasi dan akses terhadap pasar modern lebih terbatas. Banyak petani zaitun mengelola lahan keluarga secara tradisional, dengan mekanisasi rendah dan produktivitas tenaga kerja yang tertinggal jauh dibanding wilayah utara.
Perkebunan anggur atau vitikultur menunjukkan ketahanan yang sedikit lebih baik. Usaha ini mampu bertahan karena nilai jual produk relatif tinggi dan didukung oleh pasar ekspor serta industri pengolahan yang kuat. Namun ketahanan ini tidak merata. Peternakan anggur berskala kecil tetap menghadapi tekanan biaya dan persaingan yang ketat.
Sementara itu, usaha pertanian lahan kering dan pakan ternak mengalami penurunan produktivitas yang konsisten. Penurunan ini berkaitan erat dengan berkurangnya subsidi pertanian dari Uni Eropa. Selama bertahun tahun, subsidi menjadi penyangga ekonomi utama bagi banyak peternakan. Ketika subsidi menurun atau dialihkan ke skema yang lebih selektif, banyak usaha tidak mampu beradaptasi dengan cepat.
Penelitian ini juga menyoroti kesenjangan struktural antara Italia bagian tengah dan utara dengan wilayah selatan. Di wilayah utara, peternakan cenderung lebih besar, lebih terintegrasi dengan pasar, dan lebih efisien dalam penggunaan tenaga kerja. Mekanisasi, teknologi digital, dan manajemen modern membantu meningkatkan produktivitas per pekerja. Sebaliknya, wilayah selatan menghadapi keterbatasan investasi, infrastruktur, dan akses teknologi, sehingga produktivitas tenaga kerja tertinggal.
Dampak dari penelantaran peternakan tidak hanya bersifat ekonomi, tetapi juga sosial dan lingkungan. Ketika peternakan ditinggalkan, lapangan kerja pedesaan menghilang. Desa desa kehilangan penduduk muda, lanskap tradisional berubah, dan risiko degradasi lingkungan meningkat. Lahan yang tidak dikelola dapat mengalami erosi, kebakaran, dan hilangnya keanekaragaman hayati yang selama ini dijaga oleh praktik peternakan tradisional.
Dalam konteks peternakan, produktivitas tenaga kerja tidak selalu berarti bekerja lebih keras. Produktivitas berarti bekerja lebih cerdas. Penggunaan teknologi sederhana seperti peralatan mekanis, manajemen pakan yang lebih efisien, dan sistem pencatatan produksi dapat meningkatkan hasil per pekerja secara signifikan. Namun adopsi teknologi memerlukan modal, pelatihan, dan dukungan kebijakan yang konsisten.
Penelitian ini menegaskan bahwa kebijakan pertanian Uni Eropa perlu mempertimbangkan realitas produktivitas di tingkat peternakan. Subsidi tidak cukup hanya diberikan berdasarkan luas lahan atau jumlah ternak. Kebijakan perlu mendorong peningkatan efisiensi tenaga kerja, inovasi, dan diversifikasi usaha. Tanpa pendekatan ini, subsidi hanya menunda penelantaran, bukan mencegahnya.
Diversifikasi menjadi salah satu strategi kunci untuk menjaga keberlanjutan peternakan. Peternak yang mengombinasikan produksi ternak dengan pengolahan produk, agrowisata, atau penjualan langsung ke konsumen cenderung lebih tahan terhadap guncangan ekonomi. Model ini meningkatkan nilai tambah per pekerja dan mengurangi ketergantungan pada harga komoditas mentah.
Pendidikan dan regenerasi petani juga memainkan peran penting. Peternak muda yang memiliki keterampilan manajerial dan teknologi lebih siap menghadapi perubahan pasar dan kebijakan. Namun tanpa prospek pendapatan yang layak, generasi muda enggan melanjutkan usaha keluarga. Inilah lingkaran masalah yang mempercepat penelantaran peternakan.
Penelitian ini pada akhirnya mengajak pembuat kebijakan untuk berpikir ulang tentang masa depan peternakan Eropa. Produktivitas tenaga kerja bukan sekadar angka statistik, tetapi cerminan kesejahteraan peternak dan keberlanjutan pedesaan. Jika kebijakan gagal meningkatkan produktivitas secara nyata, maka penelantaran peternakan akan terus meluas, meskipun niat untuk melindungi sektor ini tetap kuat.
Kisah peternakan Italia memberikan pelajaran penting bagi banyak negara lain. Peternakan tidak akan bertahan hanya dengan tradisi dan subsidi. Ia membutuhkan inovasi, dukungan struktural, dan kebijakan yang memahami realitas di lapangan. Tanpa itu semua, produktivitas akan terus menurun dan lahan peternakan perlahan berubah menjadi saksi bisu dari usaha yang pernah menghidupi banyak keluarga.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Fantechi, Tommaso dkk. 2026. From productivity to abandonment: Sub-national evidence from the Italian farm sector in the context of EU agricultural policy. Journal of Rural Studies 121, 103949.


