Peternak ayam petelur di banyak negara menghadapi tantangan yang sama, yaitu penyakit yang datang tiba tiba dan langsung menurunkan produksi telur. Kondisi ini tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga membuat usaha peternakan menjadi tidak stabil. Sebuah penelitian terbaru dari wilayah Bono di Ghana memberikan gambaran yang sangat relevan bagi peternak skala kecil dan menengah, termasuk di Indonesia. Penelitian ini menunjukkan bahwa biosekuriti bukan sekadar aturan teknis, melainkan kunci penting untuk meningkatkan efisiensi produksi telur dan pendapatan peternak.
Biosekuriti berarti serangkaian tindakan sederhana namun konsisten untuk mencegah masuk dan menyebarnya penyakit di kandang. Banyak orang mengira biosekuriti hanya soal penyemprotan disinfektan atau vaksinasi. Padahal, konsep ini jauh lebih luas dan menyentuh kebiasaan harian peternak, mulai dari cara keluar masuk kandang hingga pengelolaan limbah.
Baca juga artikel tentang: Glukosinolat di Camelina: Tantangan Kimia untuk Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Penelitian di wilayah Bono melibatkan 161 peternak ayam petelur. Mayoritas dari mereka merupakan peternak kecil hingga menengah yang sangat bergantung pada produksi telur sebagai sumber penghasilan utama. Penyakit virus pada ayam petelur menjadi ancaman serius karena dapat menurunkan produksi secara drastis dalam waktu singkat. Ketika ayam sakit, jumlah telur berkurang, kualitas telur menurun, dan biaya pengobatan meningkat. Semua ini berujung pada penurunan pendapatan.
Peneliti mencoba menjawab satu pertanyaan penting. Apakah penerapan biosekuriti benar benar berpengaruh terhadap efisiensi produksi telur. Efisiensi di sini berarti seberapa baik peternak mengubah pakan, air, tenaga kerja, dan biaya lainnya menjadi telur. Dengan kata lain, apakah usaha yang dikeluarkan sebanding dengan hasil yang diperoleh.

Hasilnya cukup menarik. Rata rata peternak di wilayah tersebut mencapai tingkat efisiensi teknis sebesar 92 persen. Angka ini tergolong tinggi, tetapi masih menyisakan ruang perbaikan. Penelitian menemukan bahwa beberapa praktik biosekuriti tertentu berperan besar dalam meningkatkan efisiensi produksi telur.
Salah satu faktor penting adalah keanggotaan peternak dalam organisasi atau kelompok peternak. Peternak yang tergabung dalam kelompok cenderung memiliki efisiensi lebih tinggi. Hal ini masuk akal karena kelompok menjadi sarana berbagi informasi, pengalaman, dan peringatan dini jika terjadi wabah penyakit. Peternak tidak merasa sendirian dalam menghadapi masalah dan lebih cepat mengambil tindakan pencegahan.
Praktik lain yang sangat berpengaruh adalah pemberian obat cacing secara rutin. Banyak peternak menganggap cacingan sebagai masalah kecil. Padahal, parasit ini mengganggu penyerapan nutrisi pada ayam. Ayam yang cacingan makan banyak tetapi tidak menghasilkan telur secara optimal. Dengan pengobatan cacing yang teratur, ayam dapat memanfaatkan pakan secara lebih efisien sehingga produksi telur meningkat.
Disinfeksi kandang juga terbukti menjadi faktor penting. Membersihkan dan mendisinfeksi kandang secara rutin membantu menekan jumlah virus dan bakteri di lingkungan ayam. Penelitian menunjukkan bahwa peternak yang konsisten melakukan disinfeksi memiliki tingkat efisiensi produksi yang lebih baik dibandingkan mereka yang jarang melakukannya.
Menariknya, penelitian ini juga menyoroti pentingnya membatasi pemeliharaan unggas lain di sekitar kandang ayam petelur. Memelihara jenis unggas berbeda dalam satu lokasi meningkatkan risiko penularan penyakit antar spesies. Peternak yang menghindari praktik ini terbukti lebih efisien karena ayam petelur mereka lebih sehat dan produktif.
Selain praktik yang berdampak positif, penelitian ini juga mengungkap hambatan besar dalam penerapan biosekuriti. Salah satunya adalah kunjungan dokter hewan yang tidak teratur. Banyak peternak hanya memanggil tenaga kesehatan hewan ketika ayam sudah sakit parah. Padahal, peran dokter hewan sangat penting dalam edukasi pencegahan penyakit dan deteksi dini masalah kesehatan. Tanpa pendampingan rutin, peternak cenderung terlambat mengambil tindakan dan akhirnya mengalami kerugian lebih besar.
Biaya bahan kimia dan disinfektan yang relatif mahal juga menjadi kendala. Beberapa peternak mengurangi frekuensi disinfeksi untuk menekan biaya, tanpa menyadari bahwa penghematan jangka pendek ini dapat menyebabkan kerugian yang lebih besar di kemudian hari akibat wabah penyakit.
Penelitian ini juga menemukan bahwa pakan dan air minum berpengaruh signifikan terhadap jumlah telur yang dihasilkan. Hampir semua input produksi berdampak positif terhadap output telur, kecuali pakan dalam kondisi tertentu. Hal ini menunjukkan bahwa bukan hanya jumlah pakan yang penting, tetapi juga kualitas dan cara pemberiannya. Ayam yang sehat dan bebas penyakit mampu memanfaatkan pakan dengan lebih baik untuk menghasilkan telur.
Dari sudut pandang peternak kecil, pesan utama penelitian ini sangat jelas. Biosekuriti bukanlah beban tambahan, melainkan investasi. Tindakan sederhana seperti menyediakan tempat cuci kaki sebelum masuk kandang, membuang litter dengan benar, membersihkan peralatan, dan mengatur lalu lintas orang di sekitar kandang dapat memberikan dampak nyata terhadap produktivitas.
Lebih jauh lagi, penelitian ini menekankan bahwa biosekuriti tidak bisa berdiri sendiri. Dukungan kelembagaan, penyuluhan, dan kunjungan rutin tenaga kesehatan hewan sangat diperlukan. Tanpa pendampingan yang memadai, peternak sulit memahami mengapa sebuah tindakan penting dan bagaimana melakukannya dengan benar.
Bagi negara berkembang, temuan ini memiliki implikasi besar. Pemerintah dan pemangku kebijakan dapat meningkatkan produksi telur nasional dengan cara yang relatif sederhana dan terjangkau. Fokus pada edukasi biosekuriti, penguatan kelompok peternak, dan layanan veteriner yang rutin berpotensi meningkatkan efisiensi produksi tanpa harus memperluas lahan atau menambah jumlah ayam secara besar besaran.
Pelajaran dari wilayah Bono di Ghana sebenarnya sangat relevan bagi peternakan ayam petelur di banyak negara lain. Penyakit unggas tidak mengenal batas wilayah. Namun, dengan biosekuriti yang kuat dan konsisten, peternak dapat melindungi ternaknya, meningkatkan produksi telur, dan menjaga keberlanjutan usahanya.
Penelitian ini mengingatkan kita bahwa keberhasilan peternakan bukan hanya ditentukan oleh teknologi canggih atau modal besar. Kebiasaan harian, kedisiplinan, dan pemahaman tentang kesehatan ternak memegang peranan yang sama pentingnya. Biosekuriti yang baik bukan sekadar aturan di atas kertas, tetapi budaya kerja yang mampu mengubah kandang ayam menjadi sistem produksi yang sehat, efisien, dan menguntungkan.
Baca juga artikel tentang: Perisai Air Tanah: Bagaimana PRB Menjadi Penjaga Lingkungan Peternakan
REFERENSI:
Ayertey, Desmond dkk. 2026. Effects of biosecurity strategies on technical efficiency of egg production in Bono Region of Ghana. Poultry Science, 106442.


